Budi Soelaiman: Bapak Biofeul dari Karanganyar,

Budi Soelaiman: Bapak Biofeul dari Karanganyar, SEBAGIAN masyarakat Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menganggapnya sebagai “malaikat”. Ia membuat instalasi sederhana  yang mengubah sampah menjadi gas, bensin, dan listrik, kemudian menyalurkan ke masyarakat setempat secara gratis. Dialah Soelaiman Budi Sunarto, penggiat produksi energi alternatif berupa produk bioetanol.

Budi setidaknya berhasil “menyulap” sampah menjadi bahan bakar gas keperluan rumah tangga, bensin dan energi listrik untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat Desa Doplang.

SOELAIMAN BUDI KABARSOLORAYA.COM

”Bioetanol bisa sumber energi alternatif, apalagi pesediaan bahan bakar minyak bumi semakin menipis. Selain mudah dan murah, bioetanol bisa menggantikan minyak bumi,” ujarnya di kantor miliknya, Agro Makmur, yang sekaligus menjadi laboratorium dan proses pembuatan biotanol, Jalan Joko Songo 33, Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Ide merintis bermacam rekayasa sampah ini dimulai tahun 1998, setelah ia memutuskan keluar sebagai orang “kantoran”.  Padahal jabatan terakhirnya saat itu adalah manajer sebuah perusahaan terkenal di Semarang.

Mengapa sampah? Semua berawal dari keprihatinan Budi terhadap banyaknya sampah di sekitar tempat tinggalnya di desa.

“Sampah-sampah berserakan membuat lingkungan menjadi kurang sehat. Saya berpikir untuk menjadikan sampah energi alternatif, karena setahu saya sampah mengandung gas,” ujar Budi.

Akhirnya, Budi menggerakkan warga untuk mengumpulkan sampah dan mengelolanya menjadi sumber energi alternatif. Dengan mengandalkan ilmu pengetahuan alam yang didapat semasa SMA, Budi pun merancang albakos, alat biogas konsumsi sampah. Ia memulai dengan cara trial and error. Maklum, sisiplin ilmu Budi sendiri adalah ekonomi dan manajemen. Tapi albakos itu bisa juga dirampungkan. Tingginya 95 sentimeter dengan diameter tabung 50 sentimeter, mampu menampung 6 kilogram sampah organik kering, seperti sabut kelapa, dedaunan, kayu dan batang padi sisa penggilingan. Lewat albakos inilah sampah diubah menjadi gas metana lewat proses purifikasi (pemurnian) sehingga menghasilkan bioetanol yang nantinya dialirkan ke kompor warga untuk memasak dan ke genset untuk pembangkit listrik.

Untuk melengkapi biotanol-nya, Budi merancang  kompor khusus karena kompor minyak tanah tidak bisa dioperasikan dengan bietanol. Kompor yang akhirnya banyak diminati masyarakat karena harganya murah itu ia namakan kompor “bahenol”, kependekan dari bahan baker hemat etanol.

Baca juga  Febri Hapsari Dipokusumo : Kecantikan Perempuan Jawa

Garapan Budi ini berhasil memenuhi bahan bakar masyarakat Doplang, terutama sekali mereka tidak perlu mengikuti program koversi minyak tanah ke gas elpiji. Dari situlah anggapan “malaikat” itu muncul.

”Bioetanol sangat aman, murah, dan tidak gampang meledak. Jadi masyarakat tidak perlu takut,” ujarnya.

Dari satu albakos, Budi pun merancang albakos-albakos lain. Salah satu produknya yang terbaru tahun 2010 ini adalah memanfaatkan Ciu yang merupakan minuman beralkohol khas Bekonang, menjadi bahan bakar untuk sepeda motor. Ciu   merupakan hasil penyulingan tetes tebu yang diproduksi menjadi alkohol untuk kepentingan medis.

Budi mengungkapkan, ciu merupakan bioetanol berkadar 60-80 persen. Padahal, cairan bioetanol dengan kadar 20 persen saja sudah mampu menghidupkan mesin mobil dan sepeda motor. Maka, bioetanol dari ciu itu pun menjadi  bahan bakar kendaraan bermotor. Kini, produk bioetanol berkadar sedang inovasi Budi digunakan sebagai bahan bakar sepeda motor bermerek MAK (Mega Andalan Kalasan). MAK merupakan sepeda motor  buatan asli anak negeri ini yang pabriknya di Desa Kalasan, Yogyakarta.

Atas inovasi-inovasinya, karya Budi mendapatkan beberapa penghargaan. Warga Karanganyar pun menjulukinya sebagai “Bapak Biofeul”. Ia juga memperoleh 12 sertifikat inovasi dari Lembaga Negara khususnya dari Kementerian Riset dan Tekonologi (Riset). Namun ia tak pernah mengurus hak paten untuk karya-karyanya.

“Mengurus paten itu makan waktu. Saya tidak cukup kuat dengan birokrasi panjang dan pungkli sana-sani. Lebih baik berpikir untuk menemukan hal-hal baru. Itu lebih mengasyikkan,” kata Budi.

Sebelumnya, tahun 2009, Budi berhasil menginovasi elpiji untuk mengganti bensin sebagai bahan bakar sepeda motor. Elpiji Budi terbukti mampu menjalankan mesin sepeda motor. Menurut Budi, kuncinya terletak pada membran tabung besi yang berfungsi untuk menampung elpiji sebelum masuk ke ruang pembakaran melalui karburator.

“Kita lepas pelampung di karburator, dan membran itulah yang  menggantikan fungsi pelampung. Jadi elipiji tidak langsung dialirkan ke ruang pembakaran,” jelas Budi.

Tabung elpiji ukuran 3 kilogram dibawa dengan cara diikatkan pada bagian belakang jok motor. Saat ini, Budi sedang memikirkan tempat lain   agar terlihat lebih rapi, misalnya tabung disimpan pada tangki bensin atau bagasi motor.

Baca juga  Sumartono Hadinoto: Manusia”Gawat Darurat

Belakangan ini, Budi sedang merintis Desa Doplang sebagai desa mandiri listrik dari sampah organik dan kotoran sapi yang diolah menjadi bioetanol.  Ia telah menyiapkan “pembangkit listrik” dengan mendirikan kandang sapi di tanah kas desa, kemudian  meminta warga setempat untuk mengandangkan sapinya di sana.

“Karena listrik yang kita butuhkan banyak, kita membutuhkan waktu. Paling tidak menunggu kotoran-kotoran sapi terkumpul dulu. Kalau albakosnya sudah siap . Nantinya listrik bisa dialirkan ke setiap rumah,” jelas pria kelahiran Semarang 29 Mei 1963 itu.

Ketua Perhimpunan Masyarakat Bio Energi Jateng ini mengungkapkan jika seekor sapi akan menghasilkan 20 kg kotoran setiap hari, maka hanya dibutuhkan enam ekor sapi untuk bisa menghasilkan energi listrik berkekuatan  2.500 watt. Bukan hanya listrik, tapi juga akan dihasilkan gas metana sebanyak 650 gram per jamnya, setara dengan tiga kilogram gas elpiji.

“Hebatnya lagi, nyala api yang dihasilkan tidak berwarna biru, tapi api putih. Jadi sebenarnya negeri ini tidak perlu panik dengan krisis listrik dan elpiji,” timpalnya.

Sayangnya, lanjut Budi, pemerintah sampai kini belum memberikan dukungan. Tak ada jalan lain, ia pun bergerilya mencari dana secara mandiri. Salah satunya adalah dengan membuka kelas khusus untuk pelatihan bioetanol dan penelitian energi alternatif di pusat penelitiannya di Agro Makmur. Muridnya pun kini sudah mencapai ratusan orang, termasuk sejumlah warga asing dari Malaysia dan Singapura.

Di luar workshop, Budi juga menjadi dosen luar biasa di sejumlah perguruan tinggi. Ia juga sering menjadi pembicara dan instruktur tentang biofuel (bahan bakar nabati termasuk bioetanol) baik di dalam maupun di luar negeri.

“Uang dari kelas pelatihan dan honor dosen saya pakai untuk biaya penelitian. Menjadikan Doplang sebagai desa mandiri listrik adalah impian besar saya,”  kata peraih Entrepreneur dan UKM Award 2006 ini. (Ganug Nugroho Adi)

Foto: dokumen pribadi Soelaiman Budi Sunarto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here