Alpha Fabela Priyatmono: Arsitek Kampung Batik Laweyan

Alpha Fabela Priyatmono: Arsitek Kampung Batik Laweyan – SEBELUM tahun 2004, Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, hampir tanpa denyut. Meski dikenal sebagai sentra produk batik, namun  kampung lama di Solo atau Surakarta itu begitu sepi dari kegiatan memproduksi batik.  Tambahan “kampung batik” pada Laweyan menjadi sekadar nama, bukan lagi sebuah predikat karena tak ada lagi proses memproduksi batik di sana.

Pada periode 1970-an hingga awal tahun 2000-an, industri batik di Kampung Laweyan memang mati suri karena serbuan batik printing dari China. Puluhan usaha rumahan batik bangkrut dan tutup. Para perajin batik meninggalkan rumah-rumah pengusaha batik –lebih dikenal dengan sebutan  saudagar batik- yang tutup. Sebagian besar bangunan kuno tempat tinggal para saudagar  menjadi tak terawat, kumuh dan rusak.

Alpha Fabela Priyatmono
Selama lebih dari 30 tahun bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun terputus. Generasi muda Laweyan banyak yang keluar kampung dan mencari peruntungan di luar Laweyan. Batik yang sudah dikenal sejak abad ke-19 di kampung ini pun seperti terkubur. Masa kejayaan batik Laewan yang pernah terjadi pada era tahun 1930-an tinggal cerita lama.

Hingga akhirya, tahun 2003 lalu, seorang dari 8 pengusaha batik yang tersisa, Alpha Fabela Priyamono, menggagas Laweyan sebagai kampung wisata batik.

“Saya dan beberapa pengusaha di Laweyan ingin menghidupkan batik kembali dengan konsep pariwisata.  Kampung ini unik, eksotis dengan bangunan-bangunan kuno. Sambil belanja batik, pengunjung bisa sekaligus berwisata sejarah,” kata Alpba di rumahnya,  Sayangan Kulon, Laweyan, Solo.

Dengan konsep ini, tahun 2004 lalu Pemerintah Kota Surakarta mewujudkan gagasan itu sekaligus mematenkan sebanyak 215 motif batik dari Laweyan. Pada tahun yang sama, Alpha yang juga seorang arsitek ini mulai menata kampungnya dengan mendirikan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), sebuah forum pemberdayaan warga Laweyan. Lewat forum inilah warga Laweyan  mengembangkan pariwisata berbasis industri batik dan nonbatik, seperti sejarah, bangunan, dan tradisi yang hidup kawasan ini.

”Kami hanya meneruskan apa yang sudah ada di kampung ini,” ujar pria yang tahun 2008 lalu mendapat penghargaan Upakarti dari Pemerintah Indonesia untuk kategori Jasa Kepeloporan di bidang Industri Batik Laweyan.

Baca juga  GKR Wandansari: Galau Putri Keraton

Lewat FPKBL, Alpha  mengembangkan batik. Ia merancang  pengadaan modal bagi para pengusaha yang ingin bangkit, menangani  promosi, membuka kerja sama dengan biro perjalanan wisata hingga upaya pelestarian kawasan, terutama konservasi bangunan-bangunan kuno, sampai pengolahan limbah.

“Kami tidak hanya memproduksi batik, tetapi juga mempunyai tanggung jawab  untuk melestarikan heritage di Laweyan,” kata Alpha menetap di Laweyan sejak tahun 1985.

Ia memang bukan penduduk asli Laweyan. Alpha lahir di Yogyakarta 16 Februari 1960 dari keluarga yang sebenarnya tidak pernah bersentuhan dengan dunia batik. Ayahnya, Yatmono Hadiyahmanto, adalah seorang pegawai negeri, sedangkan ibunya, Soenarni, seorang penjahit pernik-pernik untuk kado. Namun sejak kecil Alpha sudah jatuh cinta dengan batik.

“Perkenalan saya dengan batik pertama kali ya lewat kain jarik yang sering dikenakan ibu. Saya suka motifnya yang unik. Apalagi setiap hari ibu selalu mengenakan kain jarik yang berbeda,” kenang lulusan Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM( ini.

Pernikahannya dengan Juliani Prasetyaningrum, seorang putri saudagar batik di Laweyan, semakin membuat Alpha menggeluti dunia batik. Bukan sekadar menghidupkan kembali usaha batik milik mertuanya yang tutup, Mahjota Laweyan, tetapi juga merancang pengembangan kasawan Laweyan.

Tahun 2003 ia melakukan penelitian sekaligus mendesain ulang Laweyan sebagai kawasan batik untuk  tesisnya di program pascasarjana Desain Kawasan Binaan Jurusan Arsitektur UGM. Hasil rancangannya itulah yang kini menjadi acuan penataan Kampung Batik Laweyan.

Menurut Alpha, sebelumnya banyak pengusaha warga Laweyan yang tidak melihat kekunoan bangunan rumahnya sebagai nilai lebih. Mereka bahkan merombak rumahnya dengan gaya modern semata-mata agar bisa menjadi agunan untuk mengambil pinjaman di bank. Padahal hampir semua arsitektur bangunan di kawasan Laweyan merupakan peninggalan zaman Belanda yang eksotis.

”Setelah penelitian itu, saya semakin yakin Laweyan pantas dikembangkan sebagai heritage. Di Laweyan orang tidak hanya belanja batik, tetapi juga menikmati kekhasan arsitektur bangunan dam mengenal  sejarah batik,” ujar dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Ia menjadi ketua FKPBL sejak tahun 2004. Keberadaan forum berhasil menumbuhkan rasa memiliki dari warga Laweyan terhadap kawasannya.  Mereka berbenah untuk menjaga Laweyan agar tidak punah.

Baca juga  Suprapto Suryodarmo: Meditasi Gerak Joget Amerta

”Kami membuat semacam grand desain, memetakan kawasan mana yang bisa berubah dan mana yang harus dipertahankan,” kata Alpha yang tahun 2010 lalu meraih penghargaan Dharmakusala dari Pemerintah Kota Surakarta di bidang Kewirausahaan.

Lewat forum ini, Alpha bersama beberapa pengusaha batik mencoba menata kembali kawasan Laweyan. Salah satunya dengan menggagas konservasi beberapa bangunan di Laweyan. Mereka mengelola dana Kementrian Perdagangan dan Industri untuk konservasi bagi 30 bangunan di Laweyan.

Konservasi bangunan itu sebagai cara untuk menumbuhkan stimulus pada warga. Mereka yang semula meninggalkan batik, akhirnya mulai tergerak kembali membuka usaha batik mereka.  Dari 8 pengusaha batik pada tahun 2004, kini jumlah pengusaha batik di Kampung Batik Laweyan sudah mencapai sekitar 90 pengusaha.

“Bukan hanya konservasi bangunan, kami juga menghidupkan kembali kegiatan kampung yang puluhan tahun lalu pernah mewarnai kehidupan kawasan Laweyan. Ada sarasehan, pentas seni dan budaya, workshop batik,” tutur Alpha yang pernah memaerkan batik produksi Laweyan dalam City of Charm di Nanning, China).

Bersama istrinya, Alpha pun membenahi industri batik peninggalan keluarganya yang bangkrut. Bukan perkara mudah, karena usaha batik di kawasan Laweyan ini sudah puluhan tahun surut. Peralatan untuk membatik pun tergeletak dan rusak.

“Saya memulainya dengan dua pekerja. Setelah lebih dari 5 tahun, Batik Mahkota baru bisa tumbuh kembali. Kini ada 12 pekerja yang setiap bulan mampu memproduksi sekitar 100 kain batik tulis,” kata bapak empat anak ini.

Kini, salah satu anggota Tim Ahli Cagar Budaya Walikota Surakarta ini bisa bernapas lega. Sejak enam tahun terakhir, Kampung Batik Laweyan kembali berdenyut. Kawasan seluas 24 ha ini telah menjadi kampung batik terpadu: tradisi membatik, heritage dan wisata belanja. (Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here