Tuty Adib Ajiputra: Perintis Busana Muslim Modern

FOTO-TUTY-BILQIS Kabar SolorayaRUMAH mode Bilqis membuat nama Tuty Adib Ajiputra  dikenal sebagai desainer sekaligus pelopor rancangan busana muslim modern. Bilqis yang didirikan tahun 2000 lalu telah menjadi kiblat tidak saja rumah-rumah busana  muslim di Indonesia, tetapi juga sejumlah negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Butik-butik di tiga negara di kawasan Asia Tenggara ini bahkan telah menjadi langganan tetapnya sejak tujuh tahun terakhir.

Di tangan Tuty, busana muslim memang tidak lagi terlihat sebagai  busana yang monoton dan kaku, yang  hanya pantas dikenakan di pengajian-pengajian. Lewat sentuhannya yang artistik ,   busana muslim yang sebelumnya dikenal dengan busana longgar, tidak modis  dan tidak memiliki banyak detail, berubah menjadi sebuah mahakarya. Dalam 10 tahun terakhir, Tuty telah membawa busana muslim menembus ruang-ruang pesta dan pertemuan-pertemuan ekslusif kalangan papan atas. Rancangannya yang selalu menampilkan garis feminin dan klasik selalu menjadi buruan para tokoh penting, mulai pejabat, artis dan kaum sosialita.

 Ciri  khas busana muslim rancangannya adalah sutra yang berhias manik-manik, garis feminim dan bahan unfinished. Tuty juga sering mempercantik rancangannya dengan aplikasi kerutan yang tersebar di beberapa bagian, seperti di kerah leher, manset tangan, dada, dan lengan atas. Rancangannya yang sebagian besar berupa kebaya ini pun terlihat dinamis.  Satu kelebihan lainnya,  Tuty lebih mementingkan ekslusivitas dibanding produksi secara besar-besaran. Dengan kata lain, ia meproduksi busasa secara limited edition dengan sasaran pasar kelas menengah atas.

“Sekarang ini Bilqis memiliki 170 desain yang diproduksi secara eksklusif, di mana setiap satu desain hanya dijahit tiga potong dengan tiga warna yang berbeda. Saya tidak mau produksi massal, karena hanya akan mengabaikan unsur seni,” kata Tuty yang tahun 2009-2010 lalu menggelar fashion show di Australia, New Zealand, dan Hongkong.

Lahir di Solo 2 April 1969, Tuty tumbuh dan besar dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya, H. Soewardjo Leksmono, adalah seorang pegawani negeri sipil di lingkungan Pememerirtah Kota Surakarta. Sedangkan ibunya, Hj. Sarwo Sri Soewardjo, seorang ibu rumah tangga biasa, meskii tahun 1970-an sempat menjadi anggota DPRD Surakarta. Di sela-sela kesibukannya mengurus keluarga, sang ibu sering merancang dan menjahit sendiri baju untuk anak-anaknya. Dari sang ibu inilah Tuty mengenal dan belajar membuat rancangan,  pola, dan menjahit.

“Sejak kelas 3 sekolah dasar, saya sudah membuat rancangan baju sendiri. Saya gambar desainnya di atas buku  gambar sekolah, lalu saya serahkan kepada ibu untuk dijahit,” kenang perempuan yang belajar fashion secara otodidak ini.

Meski senang mengenakan baju hasil rancangan sendiri,  namun sebelumnya Tuty tak pernah berpikir akan membuka butik. Setelah menamatkan kuliahnya di Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro  (Undip) Semarang tahun 2003, perempuan yang waktu remaja dikenal tomboy ini bahkan sempat tertarik bekerja di bidang yang sesuai dengan disiplin ilmunya.

“Setelah menikah, saya mulai mengenakan busana muslim. Dari situlah  semuanya ini berawal,” katanya.

Tuty menuturkan ketika itu dia merasa kesulitan untuk mendapatkan busana muslim yang elegan, anggun dan stylish untuk menghadiri pesta. Dekade tahun 1990-an, hampir semua busana muslim memiliki rancangan yang monoton. Tak ada pilihan lain, Tuty pun merancang busananya sendiri. Tak diduga, busana muslim pesta rancangannya memikat banyak orang.

“Awalnya sebenarnya untuk kebutuhan pribadi. Saya butuh busana yang nyaman, mulai desain, potongan dan bahan-bahannya. Bilqis lahir untuk menampung ide-ide rancangan saya. Elegan, mengikuti tren, tapi tanpa meninggalkan syariah,” kata Tuty yang pernah menjadi atlet bulu tangkis ini.

Namun Bilqis tidak serta merta memiliki show room. Pada awal-awal berdirinya,  sistem penjualan  dilakukan secara konvensional dari mulut ke mulut. Pelanggannya pun masih terbatas rekan-rekan dan kolega sendiri.

“Tahun 1999 saya belum mempunyai karyawan tetap. Untuk menjahit, saya menggunakan tukang  jahit pocokan (tenaga lepas). Produksinya pun  masih tergantung pesanan,” kenang Tuty.

Ketika kemudian pesanan semakin banyak, Tuty  mulai berpikir membuka  gerai atau show room. Maka, menjelang bulan puasa tahun 2000, tepatnya tanggal 1 Oktober, Bilqis resmi membuka gerai di  Jalan Perintis Kemerdekaan, Purwosari, Solo, Jawa Tengah.

“Saya sengaja membuka show room pada bulan puasa, agar momennya pas. Busana muslim itu banyak dicari pada bulan puasa hingga menjelang lebaran,” kata Tuty tahun 2010 lalu ikut menyemarakkan “Indonesia Moslem Fashion Show” di Auckland, Melbourne, Australia.

Pilihan bahan kain dengan cita rasa Indonesia, seperti batik, tenun ikat, dan lurik  untuk setiap rancangannya inilah yang membawa Bilqis  mengikuti tur “Heritage Indonesia” ke berbagai negara.

“Indonesia memiliki banyak materi bagus kok, tinggal kreasi kita untuk mengeksplorasi bahan-bahan itu. Jadi tidak perlu mendatangkan bahan dari luar negeri,” katanya.

Meski rancangannya banyak dicari, namun Tuty tetap bertahan pada konsep produksi yang ekslusif, di mana setiap satu rancangan hanya diproduksi tiga potong. Apalagi pasar yang dibidik Bilqis jelas,  yaitu kalangan menengah ke atas. Mau tak mau, Bilqis harus menghasilkan karya yang super-segmented, berkelas dan berkualitas. Di luar itu, pelanggan pun mendapatkan garansi produk untuk setiap koleksi Bilqis.

”Itu bentuk perhatian dan penghormatan saya kepada pelanggan. Kelihatannya sederhana, namun dengan cara seperti itu konsumen merasa sangat dihargai,”  ujar istri dari Adib Ajiputra, seorang pengusaha properti di Solo.

Enam tahun kemudian, Bilqis  membuka cabang di Pasaraya Grande, Blok M, Jakarta. Rancangan rumah mode Bilqis juga mulai menjadi wardrobe untuk program-program religius di beberapa televisi dan menjadi busana model cover majalah. Kini, belasan outlet-nya tersebar di beberapa mal di Jakarta, Surabaya, dan Paviliun Tower, Kuala Lumpur, Malaysia. Selain butik di kawasan Purwosari, Solo, Bilqis juga memiliki show room di Jalan Pakel, Kerten.

Tak sekadar merancang, Tuty pun kerap menjadi konsultan busana untuk para pelanggannya.

“Saya selalu bilang kepada pelanggan agar mereka tidak mengejar tren. Alasannya sepele,  tidak semua orang cocok dengan model pakaian yang sedang ngetren,” ujar dia.

Maka, dalam membuat rancangan, Tuty akan melihat karakter pelanggan,   bentuk tubuh, dan usia.

“Satu contoh, untuk mereka yang bentuk tubuhnya mungil, ya jangan memilih busana  model gamis Timur Tengah yang saat  ini sedang   tren,” jelas perempuan berpenampilan sederhana ini. (Ganug Nugroho Adi)

Foto: Ganug Nugroho Adi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: