Bejo Wage Suu: The Liping Art of Indonesia

Bejo Wage Suu: The Liping Art of Indonesia – SEORANG seniman asal Solo, Bejo Wage Suu, menciptakan kreasi miniatur unik bernama liping. Miniatur berbahan dasar kayu pinus ini berbentuk diorama yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat (Jawa) tradisional;  seperti orang menumbuk padi, menimba air, petani membajak sawah, mengembala bebek, kerokan (cara orang Jawa tradisonal mengobati masuk angin) dan seterusnya.Mengapa namanya liping?

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

“Ketika pertama kali ditanya nama miniatur ini, saya bingung. Saya jawab saja liping. Itu plesetan untuk kata living yang artinya  kehidupan,  karena miniatur ini pada dasarnya bercerita tentang kehidupan manusia,” ujar Bejo di rumah sekaligus sanggarnya, Jl Kencur No.8, Tunggulsari, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

BEJO WAGE SUU KABARSOLORAYA.COM

Liping sendiri berbahan baku sederhana; potongan kayu pinus dan  kain perca warna-warni dari limbah batik. Selebihnya adalah kreativitas Bejo.   Dari tangannya, miniatur-miniatur muncul dalam sosok manusia mini   berbalut pakaian sederhana. Sosok perempuan mengenakan kain sebatas dada dan berkain batik, sedangkan sosok laki-laki digambarkan bercelana celana hitam selutut, dilengkapi kain dan rompi. Kepala mereka memakai iket batik atau kain penutup kepala. Kekhasan inilah yang membuat liping Bejo begitu elok.

Atas kreasinya ini, Bejo menjuarai Sayembara Suvenir Nasional tahun 2006 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Masih di tahun yang sama, karya lipingnya yang berjudul “Pertunjukan Wayang Kulit” memenangi Sayembara Suvenir Nasional. Tiga tahun kemudian, seperangkat liping “Catur Baratayuda” memperoleh  Merit Prize untuk kategori kayu dalam Inacraft Award 2009.

Nama aslinya Maryono. Nama Bejo Wage Suu dipakai  dengan harapan agar kehidupannya penuh keberuntungan (bejo). Wage adalah hari pasaran Jawa- nya, sedangkan “suu”  dimaksudkan sebagai kebaikan.

“Sejak kecil saya hidup susah, jadi harus berharap yang baik-baik,” ujarnya.

Bejo memang memiliki jejak panjang dan berkelok sebelum menjadi seperti sekarang. Ia lahir di Sukoharjo, 29 Juli 1974, dalam keluarga yang menurutnya serba kekurangan.  Ayahnya seorang buruh pabrik batik dan ibunya penjahit upahan. Karena tak memiliki biaya untuk kuliah,  setamat dari STM Bejo mencoba mengadu peruntungan ke Batam dengan bekal Rp 15.000 pemberian kakeknya. Namun ia tak pernah sampai ke Batam. Bejo  diturunkan di Riau, karena kehabiasan uang.

“Saya diajak orang sana bekerja sebagai tukang las di hutan Sumatra. Karena ingin hidup, saya ambil pekerjaan itu. Tapi saya hanya bertahan 6 bulan. Saya kembali ke Solo dan  bekerja sebagai tukang las lagi di sebuah bengkel dekat rumah,” kenang dia.

Baca juga  Eko Tanpa Embel-embel Madona

Setidaknya selama 5 tahun  ia menjadi tukang las, sebelum akhirnya muncul ide membuat liping tahun 1998. Bejo mengaku punya pengalaman lucu tentang proses menemukan liping ini. Dulu, setiap pulang dari bengkel, ia selalu turun ke sungai menyusuri alirannya untuk mengambil potongan kayu, ranting, dan batu. Hal seperti itu ia lakukan setiap pulang kerja sampai berminggu-minggu. Bejo pun sempat dianggap gila, karena selalu membawa sampah ke rumah.

“Mereka tidak tahu kalau saat itu saya sedang berproses, ha ha…” ujarnya sambil tertawa.

Akhirnya dengan modal Rp 4.000, Bejo membeli lem kayu.  Limbah dari sungai itu kemudian dibuat pigura dengan hiasan rumput kering, batu, hingga kepompong. Sisa limbah ia buat boneka kecil dengan hiasan yang sama.

“Saya jual ke pasar dengan harga Rp 5 ribu, tapi tidak ada yang mau beli. Akhirnya  saya bawa ke sekatenan di Yogyakarta, dan karena jengkel harganya  saya naikkan menjadi  Rp 10.000. Nggak menyangka semuanya malah habis dalam lima hari dan pemilik stan minta kiriman lagi, terutama untuk miniaturnya itu,” tutur Bejo.

Menurut dia, butuh waktu panjang untuk menemukan bentuk liping yang seperti sekarang ini.  Ia baru menemukan bentuk pasti pada tahun 2002, setelah selama tiga tahun melakukan  eksplorasi. Awalnya, liping hanya berbentuk siluet sosok yang tengah beraktivitas, misalnya bermain gitar dan membatik. Bahannya pun lebih sederhana, karena hanya berupa sepotong kayu bekas stik es krim. Bentuk liping sempat berubah sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya menemukan bentuknya seperti yang sekarang.

”Detail bentuk baru saya temukan pada tahun 2002. Untuk bahannya saya tetap memilih pinus, karena mudah diperoleh dan harganya murah,” kata dia.

Bisa jadi, karya seni berupa diorama bukan barang baru. Banyak seniman, terutama pematung, telah melahirkan karya seperti itu dengan materi yang berbeda-beda, mulai lilin, tembaga, hingga kayu. Namun liping  kreasi Bejo  menjadi istimewa, karena dalam ukurannya yang kecil tetap mampu memunculkan detil warna, ekspresi dan karakter tokoh, sehingga liping bukan sekadar patung bisu. Ukuran sebuah “patung” liping ini  tidak lebih dari jari kelingking orang dewasa dengan tinggi rata-rata kurang dari 10 cm.

Baca juga  Hanindawan: Teater di Ruang Keluarga

“Masa kecil saya di desa, jadi liping ini sebenarnya produk dari ingatan saya tentang suasana desa berikut filosofinya,” ujar ayah dua anak ini.

Diawali dari Festival Keraton Nusantara di Yogyakarta tahun 2004, liping pun mendunia lewat  pameran dan festival.  Menariknya, meski liping telah memiliki pasar tetap di Hawai, Belanda, Jepang, dan Meksiko, Bejo tak berhenti menjajakan miniaturnya di kaki lima Malioboro Yogyakarta atau pun di Pasar Ngarsopuro Solo.

“Liping itu potret kehidupan masyarakat biasa, jadi rasanya aneh kalau saya menjauhkan karya ini dari mereka,” kata suami dari   Titik Haryati ini.

Dalam perkembangannya, liping memang tak melulu bercerita tentang kehidupan masyarakat tradisional. Sesekali liping Bejo juga menyentuh persoalan politik, misalnya “Catur Baratayuda” yang menggambarkan kegundahannya terhadap “perang saudara” antara penguasa dan rakyat jelata,  yang seringkali terjadi di negeri ini dalam setiap penggusuran. Karya ini laku Rp 10 juta dalam sebuah pameran di Jakarta. Harga yang sama juga diberikan  untuk liping “Pertunjukan Wayang Kulit”. Karya yang mencengangkan dan sempat menjadi rebutan. Dalam karya ini, Bejo menyajikan miniatur secara lengkap, mulai dalang, waranggana serta para penabuh gamelan, seperti gong, bonang, pemain rebab, suling dan gambang. Saati ini, ungkap Bejo, dirinya  sedang menyiapkan miniatur Maliboro pada masa tahun 1900-1930, serta  miniatur Borobudur.

Atas karya-karya lipingnya, seorang pengusaha pernah meminta Bejo menjadi karyawan, untuk mengerjakan karakter-karakter tokoh sesuai dengan pesanan. Namun Bejo menolak.

“Gajinya besar, dapat jaminan hari tuia juga. Tapi saya tidak mau diatur-atur, apalagi kalau menyangkut kebebasan berkreasi.”

Kini dari sisi materi Bejo memang tak lagi kekurangan. Namun ia masih menyimpan mimpi besar, yaitu   melihat liping   diakui sebagai fine art atau seni murni, sejajar dengan lukisan dan  patung.  Alasannya sederhana, karena liping merupakan karya seni yang tidak bisa diproduksi secara massal dan instan.

“Saya tidak ingin hanya menjadi tukang gergaji pinus. Saya ingin liping menjadi bagian dari fine art, bukan sebagai product craft atau kerajinan,” ujar Bejo saat memamerkan karyanya dalam Solo Handycraft Festival di Solo Square, akhir Desember ini. (Ganug Nugroho Adi)

1 KOMENTAR

  1. Saya tertarik dengan liping miniatur

    saya dengar dari teman ada banyak tipe conquest, geometris dan block. Namun saya tidak mengerti apa yang dimaksud seperti apa tipe tipe tsb. Mohon sekiranya berkenan dapat diberikan secuil informasi akan hal yang tidak saya mengerti.

    Mudah2an living dapat jadikan oleh2 ke jakarta

    Maturnuwun dan salam sukses selalu mas Bejo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here