10 Pasar Tradisonal di Kota Solo

Pasar Tradisonal di Kota Solo

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

1. Pasar Klewer

Pasar Klewer pada awalnya dinamakan pasar Slompretan. Letaknya di sebelah selatan alun-alun utara, sebelah selatan Masjid Agung. Dahulu tempat itu dipergunakan untuk menyimpan dan Berhentinya kereta. Pada pendudukan Jepang, tempat itu dipergunakan untuk berdagang bagi kalangan miskin yang tidak punya tempat berjualan. Para pedagang menawarkan dagangannya dengan disampirkan di bahu, sehingga tampak berkeleweran di pinggir jalan, maka pasar ini disebut Pasar Klewer.
Pada masa sekarang ini, Pasar Klewer merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di kota surakarta, di pasar ini didominasi perdangangan busana, mulai dari batik hingga fashion anak muda yang “gaul” bila meminjam instilah pada jaman sekarang ini.,selain itu pernak pernik khas solo dan segala makananan dijajakan disana,letak yang strategis yaitu dipusat kota Solo dan berdekatan dengan bangunan bersejarah dan pusat budaya yaitu Kraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung menjadikan pasar klewer menjadi salah satu pusat aktivitas warga Solo sehingga tak heran jalan-jalan disekita pasar klewer tak pernah sepi dari hiruk pikuk jalan.
Pasar Klewer dibangun pada tahun 1970, dalam perkembangannya pasar Klewer menunjukkan perkembangan yang cukup mencengangkan, sekarang ini jumlah transaksi keseluruhan pada tiap harinya menjapai 5 – 6 Milyar Rupiah, wow angka yang cukup fantastis bukan… tak heran Pasar Klewer kini menjadi pasar Textile terbesar di Jawa Tengah. pasar Klewer merupakan salah satu sumber pemasukan daerah yang tidak main main, pasar tersebut pertahunnya turut menyumbang Rp. 3 Milyar Jumlah pendapatan retribusi tersebut telah hamper memenuhi 5% dari RAPBD Kota Surakarta tahun 2004. Sungguh pantas kalau Pasar Klewer Merupakan salah satu Icon Pariwisata kota surakarta, karena terbukti hingga sekarang pasar Klewer Merupakan alternatif tempat yang dikunjungan para wisatawan.

2. Pasar Gede
Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gede mulanya merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang berubah fungsi menjadi Balaikota Surakarta. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Bangunan pasar selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhé Hardjanagara. Pasar ini diberi nama pasar gedhé atau “pasar besar” karena terdiri dari atap yang besar. Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar gede terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gedhé dalam bahasa Jawa.
Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Lalu Pemerintah Republik
Indonesia yang kemudian mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Surakarta kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Namun perbaikan atap selesai pada tahun 1981.
Pemerintah indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.
Pasar Gede terletak di seberang Balaikota Surakarta pada jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pasar Gede di perkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong dan terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak yang keturunan Tionghoa pula. Budayawan Jawa ternama dari Surakarta Go Tik Swan yang seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar K.R.T. (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.
Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokite?vara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan.

Baca juga  10 Hotel di Solo di Bawah Rp 500 Ribu berkolam renang

3. Pasar Nusukan
Pasar Nusukan yang terletak dijalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta ini didirikan pada tahun 1958. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, pada tahun 1986 ada perubahan luas lahan dari hasil pembebasan tanah kantor Kelurahan dan Gedung Bioskop Nusukan. Pada tahun 2004 Pasar Nusukan mengalami musibah kebakaran dan dibangun kembali pada tahun 2006. Pada tahun ini juga Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana yang diperuntukkan sebagai bantuan subsidi kepada pedagang lama Pasar.
Pasar Nusukan menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan pangan maupun sandang. Ativitas pasar dimulai dari dini hari hingga malam. Pedagang sayur-mayur kebanyakan datang dari luar kota Solo seperti Boyolali, Sragen, Purwodadi dan Karanganyar. Lokasi: Jl. Kapten P. Tendean Nusukan Banjarsari Surakarta

4. Pasar Legi
Pasar Legi didirikan pada masa pemerintahan Mangkunegoro I (Pangeran Samber Nyawa). Terletak di jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Pasar ini mempunyai luas sekitar 16.640 m2. Pasar Legi merupakan pasar induk hasil bumi terbesar di Surakarta, yang mendapatkan pasokan dagangan dari berbagai daerah baik dari wilayah sekitar surakarta maupun dari luar daerah seperti Brebes, Temanggung, Tasikmalaya, Sidoarjo, Malang dan lain sebagainya. Kegiatan pasar ini dimulai dari dini hari sampai malam hari. Pada tahun 2008 Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana untuk merenovasi beberapa bagian pasar yaitu blok ikan asin dan kelapa yang kemudian akan dilanjutkan ketahap berikutnya untuk bangunan dibagian depan/barat. Lokasi: Jl. Jend. S. Parman Stabelan Banjarsari, Surakarta.

5. Pasar Klithikan Notoharjo
Pasar Notoharjo dibangun pada tahun 2006 oleh Pemerintah Kota Surakarta. Pasar ini terletak di Kalurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, diatas lahan seluas 1.800m2. Pasar Klithikan Notoharjo dibangun menampung pedagang kaki lima diarea Taman Monumen 45 Banjarsari yang berjumlah 909 pedagang. Pasar Notoharjo lebih dikenal dengan nama Pasar Klithikan karena pasar tersebut sebagai wadah bagi pedagang kakilima yang menjual berbagai barang bekas, seperti elektronik, pakaian, ponsel, sparepart kendaraan dan barang-barang lainnya. Pasar ini cukup unik karena disini pengunjung bisa menemukan barang-barang bekas yang dengan kreativitas para pedagang maka barang-barang tersebut dimanfaatkan kembali.

6. Pasar Harddjodaksino
Pasar Harjodaksino terletak di jalan Kom. Yos Sudarso, Kalurahan Danusuman, Kecamatan Serengan Kota Surakarta yang menempati lahan seluas lebih kurang 7.688m2. Pasar ini diresmikan pertama kali pada tanggal 15 Juni 1987. Pasar tersebut sebelumnya adalah pindahan dari Pasar Gemblegan yang berada di bekas terminal bus Gemblegan yang merupakan pelabuhan dari Pasar Dawung dan Pasar Gading.
Pada tahun 2006 Pasar Harjodaksino melakukan pembangunan kios baru bagian depan. Disamping menyediakan kebutuhan sehari-hari, Pasar Harjodaksino juga menyediakan berbagai barang kebutuhan upacara (ubo rampe) perkawinan atau Temanten. Lokasi: Jl. Kom. Yos Sudarso Danukusuman Serengan Surakarta.

Baca juga  Tempat Menarik Menikmati Tahun Baru di Solo Yang Paling Recomended dan Harus Dikunjungi

7.Pasar Kabangan
Pasar Kabangan merupakan salah satu pasar spesifik yang ada di Solo, terletak di sebelah Utara Kampoeng Batik Laweyan. Pasar ini punya sebutan lain “Pasar Seng”, khusus menyediakan alat-alat rumah tangga atau barang-barang yang terbuat dari seng, aluminium, ban bekas, ember-ember bekas cat, tong-tong bekas bahan kimia, dll. Barang-barang tersebut antara lain berupa: tempat sampah (dari ban bekas)/tong sampah (dari tong bekas), jirigen bekas, dandang, kompor, wajan, dll. Selain kios-kios jualan, di Pasar Kabangan juga dapat dijumpai kios-kios yang menerima pesanan pembuatan barang-barang yang terbuat dari seng/aluminium.
Menurut ceritera dari warga Kampung Klaseman Laweyan yang sudah sepuh, pasar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sewaktu pemerintahan Paku Buwono IX pasar ini disebut Pasar Laweyan. Disebut demikian karena pasar ini berada di utara Kampung Laweyan yang lebih dikenal dengan Kampung Batik Laweyan saat ini. Letak persisnya berhadapan dengan Balai Kelurahan Laweyan sebelum kepindahan dari Kantor Kelurahan Laweyan lama di Jalan Sidoluhur.

8. Pasar Jongke
Pasar Jongke diresmikan pada tanggal 19 Januari 1992 oleh walikota Solo Hartomo. Pasar Jongke merupakan gabungan dua pasar trdisional yakni pasar Sepeda Ngapeman dan Pasar Jongke sebagai sentra oleh-oleh khas Solo. Ide pendirian pasar ini berasal dari pemerintah, yang salah satu sebabnya karena lokasi Pasar Sepeda Ngapeman akan dibangun Hotel Novotel.
Nama Jongke sendiri diambil dari nama pasar sebelumnya. Jongke tidak memiliki arti khusus, pun ditinjau dari Bahasa Jawa. Selain menjadi nama pasar, Jongke adalah nama tempat(kampung) dalam wilayah kelurahan Laweyan. Tidak jelas apakah nama Jongke sebagai kampung ada terlebih dahulu dari nama Jongke sebagai pasar.
Secara administratif, pasar jongke berada dalam wilayah kampung Jongke kelurahan Laweyan. Pasar Jongke merupakan pasar dengan kategori 1 B. karakteristik kios dan los pasar Jongke terbagi menjadi 81 kios yang ada namun hanya 76 kios terisi dengan luas keseluruhan 5000m2.
Sebagai pasar tradisional, Pasar Jongke menjual bermacam-macam barang dagangan seperti manisan,kelontong,sayur mayur,sembako,daging dan pakaian. Namun Pasra Jongke lebih terkenal dengan komoditi sepeda baik yang masih baru maupun yang sudah bekas.

9. Pasar Kleco (Sidodadi)
Pasar Sidodadi berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, Kalurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Pasar tersebut tidak mempunyai spesifikasi khusus, tetapi mampu menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Setelah adanya perubahan luas lahan, hasil dari pembebasan tanah makan Kleco, pada tahun 2007 Pasar Sidodadi dibangun kembali oleh pemerintah Kota Surakarta.
Lokasi: Kleco/Jl. Brigjend Slamet Riyadi Karangasem Laweyan.

10. Pasar Gading
Pasar ini seperti halnya pasar tradisional pada umumnya. Pasar ini dulunya sebagai tempat belanja para abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta,, terutama semasa Paku BUwono X. Pasar ii menjual beragam kebutuhan dapur,, sauran dan buah-buahan, dan perkakas rumah tangga. Lokasi pasar berada di Jalan Veteran.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here