SIPA 2010: Magnet Lain Tarian Rakyat Austria

Tarian di SIPA
ARIAN RAKYAT: Dua pasang penari dari kelompokMarkt Alhau, Buchschachen, Austria, membawakan nomor tari “Keinner Mann” dalam ajang Solo International Performing Art (SIPA), di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/7).Foto: Agus Sektiawan

DARI pojok depan panggung, alunan merdu styrian concertina, sebuah alat musik khas Austria, membawa sepuluh pasang penari masuk panggung. Mereka saling bergandengan, berhenti di tengah membentuk lingkaran. Layaknya permainan jamuran, jenis dolanan tradisional anak-anak. Dimainkan oleh seorang musisi, alat musik tradisional mirim akordeon itu kembali mengalun dalam tempo cepat dari pojok depan panggung.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Sepuluh pasang penari mulai menari, membawakan gerak-gerak dansa dengan bit yang lebih cepat dari gerak dansa pada umumnya. Uniknya, kedua puluh penari tersebut tak selalu menari dengan pasangan yang sama. Di sela-sela gerak berputar, misalnya, satu sama lain dengan cepat bertukar psangan. Itulah tarian rakyat Markt Alhau,  Buchschachen, Austria, yang tampil di hadapan ribuan penonton gelaran Solo International Performing Arts (SIPA) hari pertama, Jumat (16/7) malam, di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah.

Nama group tari rakyat ini diambil dari nama tempat anggota kelompok berasal, Markt Allhau –sebuah desa di propinsi sebelah timur Austria, Burgenland. Kembali ke tarian, malam itu Markt Alhau membawakan rangkaian delapan nomor yang sebagian merupakan nomor pasangan. Suasana gembira merupakan napas dari nomor- nomor yangdibawakan.

Sebab, seperti kata seorang penari, Christa Erdely, pada dasarnya tarian yang merekasemata-mata untuk kesenangan. Delapan nomor tarian semuanya berkisah tentang cinta dan kehidupan sosial yang berlangsung di sekitar Markt Allhau. Dari sisi pertunjukan, tari Tarian rakyat Austria ini sebenarnya sangat sederhana dan terkesan monoton. Sederhana, karena hampir tak ada gerakan istimewa.

Gerak penari hampir tak berbeda dengan gerak-gerak dasar dansa. Sepanjang 45 menit pertunjukan, tarian didominasi oleh gerakan melangkah maju atau mundur kemudian berputar secara berpasangan dengan tangan-tangan penari tetap bergandengan. Tarian ini juga monoton karena terlalu banyak gerakan yang diulang-ulang. Sangat berbeda Vienna Ball, dansa Austria yang memadukan kemewahan, seni, dan keindahan di tengah iringan musik opera yang syahdu. Kostum penari juga sama sederhananya dengan tarian yang dibawakan.

Baca juga  Sri Radya Laksana, Identitas Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Penari pria mengenakan kemeja warna putih dengan rompi hitam serta celana panjang hitam dengan kombinasi biru di bagian atas. Sementara blus hitam-hitam dengan kombinasi atasan putih bagi penampil wanita. Itulah busana khas masyarakat pendesaan tempo dulu di Eropa, khususnya Austria.

Satu-satunya gerakan yang cukup mengejutkan muncul dalam nomor “Keinner Mann”, yaitu ketika dua pemuda memutar masing-masing pasangannya dalam pelukannya, sehingga si perempuan terlihat terbang berputar seperti drumolen. Nomor lain yang cukup unik barangkali juga bisa dilihat  dalam “Loipensclonfen Wickler”. Tiga penari bergandengan tangan melakukan gerakan dansa.

Dalam jeda bunyi akordeon, dua penari saling berhadapan, sementara satu penari di tengah tiba-tiba melakukan gerakan koprol,  jungkir balik di antara tangan dua penari lain yang bergandengan. Selebihnya hampir tak terjadi gerakan-gerakan yang mencengangkan.

Di sepanjang pertunjukan, para penari hanya terkesan sedang asyik berdansa saja. Kalaupun ada variasi, sesekali mereka berdansa dalam beberapa kelompok yang terdiri tiga atau empat pasang, sebelum akhirnya kembali dalam kelompok besar. Namun tarian ini tetap saja memberikan magnet. Kecuali aksi “penari terbang” yang sempat mengejutkan, salah satu yang cukup mengesankan dari tarian rakyat Austira ini barangkali stamina para penari dan pemain “akordeon” yang sangat terjaga.

Betapa tidak, sepanjang 45 menit mereka nyaris terus bergerak tanpa jeda. Sesekali mereka memulai gerakan dari ujung panggung, namun pada kali lain mereka mengawali dansa dari ujung yang lain. Hebatnya, nuansa gembira tetap terlihat di sepanjang tarian. Toh meski demikian, antusiasme publik Solo tetap luar biasa. Begitu Markt Allhau menyelesaikan pertunjukannya, tepuk tangan tetap membahana mengantar kelompok tari tersebut turun panggung.

Markt Allhau tampil di SIPA dengan membawakan delapan reportoar tari, antara lain “Untensteiren Landlen”, “Kleiner Mann” dan “Loipensclonfen Wickler”. Seluruh tarian dalam kelompok tari rakyat Markt Allhau ini merupakan tarian tradisi yang sudah sangat tua di Buchschachen. Pimpinan Markt Allhau, Paul Erdely, menuturkan pada masa lalu, leluhur warga Buchschachen membawakan tarian ini untuk menyambut pesta pengantin, pergantian tahun, dan panen raya. Oleh karena itu, suasana tari selalu riang. “Secara simbolis, tarian-tarian ini sebagai pesta rakyat terutama saat menyambut panen raya gandum,” jelas Paul.

Baca juga  Tedak Siten, ketika anak kali pertama menginjak tanah

Paul menyebutkan pada umumnya tarian rakyat Austria memang cenderung sederhana, tidak kompleks seperti halnya tarian Jawa. Gerak dan musik yang ritmis hampir tak pernah dijumpai dalam tari-tari tardisional Austria, karena sebagian besar tarian tersebut lahir dari spontanitas. Sementara tarian Jawa lebih banyak muncul dari perenungan sehingga memiliki sebuah cerita sejarah yang panjang dan biasanya mengandung filosofi. Tarian rakyat Markt Allhau ini sempat tidak pernah dibawakan dalam waktu lama karena masa-masa perang.

Kelompok Markt Allhau sendiri baru muncul pasaca Perang Dunia II tahun 1949, setelah rakyat Buchschachen mulai menikmati kembali kehidupan normal. Dalam beberapa dekade, kelompok  Markt Allhau, Buchschachen bertahan. “Kami hanya memiliki kebanggaan, karena hingga kini masih bias membawakan tarian tradisi. Ini salah satu bentuk dari pelestarian kami terhadap budaya kami,” tambah Paul. Kelompok Markt Allhau terdiri dari para pemuda dan pemudi yang berasal dari daerah setempat. Ada beberapa pemuda yang tergerak untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi kelompok tari rakyat di daerah kelahirannya, Markt Allhau.

“Kami selalu terlibat untuk mempelajari dan mementaskan tarian-tarian tradisional khas daerah sebagai salah satu bentuk pelestarian. Kami merasa bangga jika tetap bisa mempersembahkan tarian-tarian tersebut dari generasi ke generasi,” ujar Paul. (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here