Menikmati Bubur Samin di Kampung Jayengan

BUBUR SAMIN2

foto-foto: Agus Sektiawan

SETIAP daerah selalu memiliki menu khas untuk berbuka puasa. Khas, karena menu-menu tersebut biasanya memang hanya dibuat khusus pada bulan suci Ramadhan. Di Kampung Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, Jawa Tengah, mempunyai kuliner unik dan khas selama bulan suci Ramadhan. Sebuah masjid di kampung itu, Masjid Darussalam, selalu memasak dan membagikan bubur samin atau bubur banjar kepada warga. Disebut bubur samin, karena bubur tersebut menggunakan minyak samin untuk penyedap. Bubur tersebut juga dikenal dengan nama bubur banjar, karena menu khas itu konon dibawa ke Solo oleh para saudagar dari Banjar, Kalimantan Selatan, hampir 70 tahun  seabad silam.

Tidak ada yang tahu secara persis sejak kapan bubur samin menjadi tradisi menu berbuka di masjid tersebut. Namun menurut Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi Muchdlor, puluhan tahun lalu banyak masyarakat dari Kota Banjar yang merantau ke Solo untuk berdagang batu permata  Martapura. Mereka menjadikan Masjid Darussalam  sebagai tempat berkumpul, hingga akhirnya mereka menetap di perkampungan sekitar masjid. Satu hal benar bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar masjid Darussalam saat ini memang merupakan keturunan orang-orang Banjar. “Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata  Rosyidi Muchdlor. BUBUR SAMIN1Sekilas, bubur samin memang seperti bubur ayam pada umumnya. Yang  yang membedakannya adalah bumbu dan isi bubur yang terdiri dari potongan daging sapi, aneka rempah-rempah serta sayuran seperti wortel dan daun bawang serta susu.

Proses memasak bubur samin sendiri dilakukan oleh sejumlah pekerja takmir masjid mulai pukul pukul 12.00 hingga pukul 15.00. Setiap hari selama bulan Ramadhan, Takmir Masjid Darussalam sedikitnya memasak 40 kilogram beras untuk konsumsi sebanyak 600 orang. Sejumlah pekerja pun tampak sibuk mengaduk bubur secara bergantian karena banyaknya bubur yang dimasak.

Baca juga  10 Hotel Murah Rp 100 Ribuan di Solo

Selain beras, komposisi bubur khas ramadhan ini antara lain berupa santan, aneka sayur dan rempah-rempah, susu serta daging sapi. Tak heran jika bubur ini sangat bergizi. Aroma masakan khas Banjar ini semakin kental dengan campuran rempah-rempah serta minyak kapulaga Arab atau minyak samin yang menjadikan bubur berwarna kekuning-kuningan. Rosyidi menuturkan tradisi membuat bubur samin tersebut muncul jauh sebelum berdirinya masjid. Yang jelas, lanjut Rosyidi, Masjid Darussalam   didirikan oleh para perantau dari Banjar, Kalimantan Selatan, sekitar tahun 1950. Namun kondisi fidik masjid belum semegah sekarang. Bisa jadi, sebagai sesama perantau, rasa solidaritas orang-orang Banjuar tersebut terjalin dengan erat. Hingga akhirnya setiap bulan Ramadhan, mereka membuat menu berbuka seperti layaknya di tempat asal mereka. Tradisi memasak dan membagikan bubur samin ini kemudian dilakukan secara turun temurun hingga sekarang.

“Menurut cerita kakek saya, dulu pembuatan bubur ini hanya untuk berbuka anggota jamaah masjid yang sebagaian besar adalaj orang-orang Banjar . Namun sejak tahun 1985, porsinya dibuat lebih banyak dan diberikan kepada siapa saja yang menginginkannya. Semuanya gratis,” ujar Rosyidi. Menjelang waktu berbuka, tepatnya selepas waktu Ashar atau sekitar pukul 16.00, ratusan orang berdatangan silih berganti untuk mengambil bubur samin. Mereka membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang. Mereka bukan hanya warga Jayengan, tapi juga dating dari kawasan Solo lain, seperti Laweyan, Semanggi, Pajang, Cemani, Pajang, Banjarsari, dan Mojosongo. “Bubur yang kami bagikan ke masyarakat sekitar 500 porsi, sedangkan sisanya sekitar 100 porsi untuk berbuka bersama jamaah  masjid,” ujar Anwar, seorang anggota takmir masjid. BUBUR SAMIN5Cita rasa bubur samin tersebut  memang tergolong unik, lantaran diolah dengan banyak rempah-rempah dan campuran susu. Apalagi para juru masak menambah racikan bubur dengan kayu manis, pandan wangi, sere, jahe, bawang, wortel, dan santan kelapa.

Baca juga  32 Tempat kulineran di Laweyan Solo

“Sejarah bubur samin ini memang tidak dapat dupisahkan dengan kedatangan orang-orang Banjar ke Solo. Meskipun sekarang sudah hampir tidak ada orang Banjar yang dagang batu permata di Solo, namun tradisi membuat bubur samin ini tetap dilakukan,” tambah Anwar.

Tidak hanya bubur, Masjid Darussalam juga menyediakan minuman khas sebagai pelengkap bubur, yaitu kopi susu. Berbeda dengan kopi susu lain yang dimasak secara terpisah, kopi susu Darussalam ini dimasak dengan cara mencampurkan kopi, susu dan air ke dalam sebuah drum, kemudian memasaknya bersama-sama. Setidaknya dibutuhkan biaya sekitar Rp 1.500.000 setiap harinya untuk membuat bubur samin dan minuman kopi susu, yang seluruhnya ditanggung oleh takmir masjid.

”Semuanya bisa membawa bubur ini, tanpa membedakan asal dan pekerjaan mereka. Bukan hanya rakyat kecil, pengusaha dan anggota DPR pun banyak yang datang untuk menikmati lezatnya bubur samin ini,” kata Anwar di sela-sela proses memasak bubur.

Begitulah. Selepas adzan Ashar, orang-orang pun berdatangan membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang. Namun sebagian dari mereka akan tetap tinggal untuk menikmati lezatnya bubur samin di masjid saat berbuka puasa tiba. (Ganug Nugroho Adi)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here