Sesaji 100 Tahun Wayang Orang Sriwedari

PERIH rasanya melihat kondisi Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, terseok-seok. Penonton yang merupakan penyokong utama bagi kelangsung­an hidup kelompok wayang orang itu, jumlahnya terus menyusut dari waktu ke waktu. Setiap kali pentas, Senin hingga Jumat, jumlah penonton hanya berkisar antara empat sampai tujuh orang.

Pada Sabtu malam atau malam minggu yang diharapkan mampu menjaring jumlah penonton lebih banyak, ternyata juga hanya bisa mencapai jumlah paling banyak 15 orang dari 200 kursi yang disediakan.

SRIWEDARI9Maka, jangan heran jika kemudian para pemainnya pentas asal-asalan. Mereka memang menari, memerankan tokoh Bima atau Adipati Karna yang gagah, juga melakukan dialog sesuai dengan teks. Tapi semuanya dilakukan dengan setengah hati. Wajar jika mereka frustasi. Betapa tidak, dengan jumlah penonton yang tak seberapa dan harga tiket yang hanya Rp 3.000, dari mana para pemain bisa  menutup kebutuhan hidup sehari-hari?

Sebuah ironi memang. Apalagi pada masanya, WO Sriwedari pernah menjadi magnet dan ikon Kota Solo. Para turis, misalnya, akan selalu merasa lengkap datang ke Solo jika mereka sudah menyaksikan pentas WO Sriwedari. Saat masih menjadi presiden, Bung Karno bahkan membuat agenda khusus dating ke Solo untuk menonton wayang.

“Melihat kondisi itu, Yayasan Mitra Bharata Jakarta menggelar pertunjukan khusus. Ini salah satu upaya untuk membangkitkan masa kejayaan  Wayang Orang Sriwedari,” kata Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Bharata, Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Wiwoho Basuki Tjokrohadiningrat.
SRIWEDARI4Sekedar menengok ke belakang, WO Sriwedari pertama kali dipentaskan untuk umum pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Sebelumnya pertunjukan wayang orang hanya bisa dinikmati kalangan keraton. Kebijakan Paku Buwono tersebut dikembangkan pengusaha Tionghoa Gan Kam, Lie Wat dan RM Sastratanaja dengan membangun semacam gedung opera untuk pagelaran WO Sriwedari. Mereka memungut bayaran atau karcis kepada penonton. Sejak itu, WO Sriwedari menjadi ikon Kota Solo.

Pada tahun 1920-an hingga 40-an terdapat pemain bernama Wugu Hardjawibaksa yang memerankan Gatotkaca dan Sastra­dirun yang meme­rankan Petruk. Penampilan keduanya sangat ditunggu pe­nonton. Lalu, pada tahun 1940-an hingga 1970-an muncul nama Rusman Hardjawibaksa dan Darsi Pudyarini yang me­me­rankan Gatotkaca dan Pregiwa.

Tembang palaran yang dilantunkan Rusman terhadap Darsi (Gatotkaca yang kasmaran pada Pregiwa) begitu indah dan menghanyutkan,termasuk menghanyutkan perasa­an Presiden Soekarno yang menjadi penonton tetap WO Sriwedari setiap tiga bulan sekali.  Pethilan (sempalan) adegan Gatotkaca yang tengah merayu Pregiwa  itu pula yang membuat Rusman dan Darsi melanglang buana sebagai duta budaya Indonesia. Namun, sekarang, belum ditemukan lagi pemain wayang orang yang penampilannya ditunggu penonton.

Kelangkaan pemain berbakat seperti inilah yang barangkali ikut memberikan “kontribusi” atas sepinya penonton WO Sriwedari pada masa-masa sekarang. Kembali ke perayaan 100 tahun WO Sriwedari, pentas khusus dengan lakon “Sesaji Raja Suya” ini, menurut Wiwoho Basuki, tak hanya melibatkan semiman-seniman dari Srwiedari, namun pentas yang digelar Selasa (6/7) malam itu juga menggandeng beberapa kelompok kesenian lain, seperti Sanggar Tari Suryoningrat Solo, Pura Mangkunegaran Solo, Ngesti Pandowo Semarang, RRI Surakarta,

WO Bharata Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Sekar Budaya Nusantara (SBN) Jakarta.
SRIWEDARI6Tak hanya itu, pentas spektakuler ini juga mengusung sejumlah tokoh penting sebagai bintang tamu, antara lain Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, Kapolda Jateng Irjen Pol Bambang Riatmodjo, mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Nina  Tanjung dan para pengusaha Tionghoa. Maka, Gedung WO Sriwedari yang biasanya sepi, pada Selasa mala itu berubah meriah. Ratusan penonton berdatangan memenuhi kursi-kursi. Apalagi tontonan khusus itu tanpa tiket. Polisi dan petugas keamanan pun berjaga-jaga di sekitar gedung, karena banyaknya tokoh penting yang datang.

Lakon “Sesaji Raja Suya” dibuka dengan Tari Gambyong, sebuah tarian  khusus untuk menyambut para tamu. Lakon ini berkisah tentang keinginan Pandawa yang ingin meenggelar Sesaji Raja Suya sebagai bentuk syukur atas kebesaran dan kemakmuran Indraprasta. Namun, sesaji tersebut ternyata mensyaratkan adanya dukungan secara suka rela dari seratus negara atau raja terhadap Indraspata. Dukungan dalam jumlah yang sama juga harus didapatkan Indrapasta dari satwa air dan satwa hutan. Pada saat yang sama, Prabu Jasaranda di kerajaan Giribraja juga berencana mengadakan Sesaji Kalalodra yang mensyaratkan tumbal seratus raja. Jasaranda ketika itu sudah memenjarakan sembilan puluh tujuh raja, sehingga kurang tiga raja lagi.

Sang Prabu pun memerintahkan dua senopatinya, Hamsa dan Dimhaka,  untuk menaklukkan tiga kerajaan yang terisa, yaitu Amarta, Dwarawati, dan Manduro. Melihat hal itu, Kresna, Bima, dan Arjuna menyamar menjadi Brahmana yang kemudian berhasil menaklukan Prabu Jarasanda. Penaklukan tersebut sekaligus membebaskan para raja yang ditawan. Dengan kemenangan itu, Indrapasta pun mendapatkan dukungan seratus raja untuk menggelar  ”Sesaji Raja Suya”.

Pergelaran yang diusung untuk memperingati 100 tahun WO Sriwedari itu bertabur bintang, terutama pada babak-bak awal. Lihatlah kemunculan Dewi Kunti yang diperankan oleh Krinina Maharani atau Nina Tanjung (istri politisi Akbar Tanjung). Lihat pula para istri Pandawa yang diperankan oleh kalangan sosialita, seperti Alexandra Tan, Yessy Sutiyoso, Sita Satar, Astari dan mantan peragawati papan atas Eny Sukamto.  Meski belum pernah bermain wayang orang, namun penampilan para  perempuan cantik tersebut cukup elok. Penampilan Bang Yos, sapaan mantan gubernur DKI, pun tak mengecewakan. Bang Yos bahkan tampak menikmati perannya sebagai Bisma, sehingga penampilannya terlihat luwes. Dialog-dialognya lancar dan gerak tariannya pun terlihat lentur. Rupanya, sebelumnya Bang Yos sudah beberapa kali menjadi bintang tamu dalam pentas wayang orang. Penampilan yang memukau juga diperlihatkan oleh Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi. Bagi Begug, bermain wayang memang bukan sesuatu yang asing. Apalagi selain sebagai bupati, Begug selama ini juga dikenal sebagai dalang dan warok (penari reog). “Kami hanya ingin berbuiat sesuatu untuk Wayang Orang Sriwedari. Apalagi usianya  sudah 100 tahun. Beruntung banyak dukungan dari Pak Bas (KPA Wiwoho Basuki Tjokrohadiningrat) dari Yayasan Mitra Bharata, dan Ibu Nani  Soedarsono pendiri Sekar Budaya Nusantara,” ujar Nina Tanjung. SRIWEDARI2

Sebagai orang asli Solo, Nina memang pantas untuk merasa prihatin dengan keadaan WO Sriwedari yang dirasa tidak mengalami perkembangan dari tahun ke  tahun. Ia berharap kawasan Sriwedari tetap diutamakan sebagai pusat seni dan budaya bagi warga Solo bahkan Indonesia. “Banyak dari kami yang sering bepergian ke luar negeri, tapi kekayaan seni dan budaya itu ternyata hanya ada di Indonesia. Bermain wayang orang bukan sekadar tren, tapi lebih pada upaya pelestarian,” tambah Nina. Lantas kenapa lakon Sesaji Raja Suya dipilih?

“Lewat lakon ini, kita bisa belajar tentang bagaimana melalui penderitaan dan rintangan. Lakon ini juga mengajarkan kita cara bersyukur terhadap apa yang kita dapatkan,” kata Wiwoho Basuki. Sementara lewat lakon ini, sutradara Teguh “Kenthus” Ampiranto ingin menyampaikan pesan bahwa  seorang pemimpin harus memiliki jiwa yang amanah, memahami permasalahan bangsa  serta arif. “Pemimpin

harus bisa  mengambil langkah tepat untuk  rakyatnya,” ujar Teguh Namun terlepas dari lakon apa pun, upaya untuk membangkitkan kembali seni dan budaya tradisional seperti ini tampaknya harus selalu dilakukan  di tengah masyarakat yang dijejali budaya serba instan. “Unesco saja menganggap wayang sebagai human heritage (warisan kemanusiaan). Jagi rasanya aneh kalau kita yang punya wayang, justru  mengabaikannya,” kata Nani Soedarsono, mantan menteri sosial Kabinet Pembangunan IV (1982 -1988) yang kini penasihat di Sekar Budaya Nasional.

Pada Selasa malam itu, kelompok Wayang Orang Sriwedari juga dinobatkan Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai  kelompok wayang tertua di Indonesia. Selain itu, Muri juga memberikan penghargaan kepada Pemkot Surakarta sebagai satu-satunya Pemkot yang paling memperhatikan wayang orang di Indonesia.

Semoga setelah “Sesaji Raja Suya” masih aka ada lagi pentas-pentas yang lain di WO SARiwedari, sehingga kelompok wayang berusia satu abad itu akan tetap hidup.(Ganug Nugroho Adi)


Foto-foto:    Sri Nugroho dan Fefy Dwi Haryanto

1 Comment on Sesaji 100 Tahun Wayang Orang Sriwedari

  1. kembali saluutt.. untuk yang masih konsisten melestarikan budaya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: