Djudjuk Djuwariyah: Srimulat Tidak Akan Mati

PADA pertengahan tahun 1960-an hingga akhir tahun tahun 1970-an, perempuan bernama asli Djudjuk Djuwariyah ini merupakan primadona grup lawak legendaris Srimulat. Penonton akan protes jika dalam setiap pertunjukan tidak menampilkan Djdjuk. Perempuan itu memang pernah menjadi magnet bagi Srimulat, grup lawak yang didirikan oleh Kho Tjien Tiong  atau yang lebih dikenal dengan nama Teguh Slamet Rahardjo pada tahun 1950 di daerah Jawa Timur. Nama Srimulat diambil dari nama istri pertama Teguh.

Jujuk Srimulat

“Padahal saya sebenarnya tidak selalu mendapat jatah manggung. Tapi karena tuntutan penonton, Pak Teguh akhirnya memberikan saya sedikit rol (peran). Pokoknya asal tampil di panggung,” kenang Djudjuk di rumahnya, Jalan Suprapto Nomor 72, Sumber, Solo, Jawa Tengah.

Namun Teguh ternyata tidak selalu menuruti keinginan penonton. Melihat Djudjuk yang ketika itu menjadi magnet dan kemunculannya di panggung selalu ditunggu penggemarnya, Teguh justru mulai membatasi peran Djudjuk.

“Bapak (Teguh) tidak ingin anggotanya mabuk (terlena) dengan ketenaran. Itu salah satu caranya dalam mendidik anggota Srimulat. Sikap itu bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk semua anggota, seperti  Gepeng, Tarsan, Paimo, Asmuni, atau yang lainnya,” ujar Djdjuk.

Tahun 1970, Teguh menikahi Djdjuk setelah istri pertamanya, Raden Ajeng Srimulat meninggal dunia. Sejak saat itulah Djudjuk terlibat mengurus dan membesarkan grup lawak yang ketika itu anggotanya hampir 300 orang, tersebar di empat kota besar, yaitu Surabaya, Solo, Semarang, dan Jakarta.

“Bapak mengurusi semuanya mulai manajemen grup, kemudian panggung, penulisan naskah, sutradara bahkan sampai soundsystem. Padahal setiap malam Srimulat harus pentas di empat kota,” tutur perempuan yang lahir di  Solo, 20 Maret 1947 itu.

Sebagai “orang dalam”, Djdjuk benar-benar merasakan pasang surut grup lawak ternama itu. Di tangan Teguh, Srimulat benar-benar menjadi grup lawak besar. Namun ketika suaminya mulai sakit-sakitan, Djudjuk sedikit banyak mulai terlibat mengelola Srimulat. Demi kelangsungan Srimulat pula, pada masa-masa tahun 1980-an Djudjuk hijrah ke Jakarta.

“Saat itu Srimulat sedang jaya-jayanya. Tidak hanya pentas off air, Srimulat juga mulai sering tampil di televisi. Saya sampai kewalahan. Mengurus grup lawak itu ternyata sulit,” kata ibu empat anak dan nenek tujuh cucu itu.

Masa keemasan Srimulat berlangsung cukup panjang, sebelum akhirnya tahun  mengalami masa surutnya pada tahun 1996.

“Setelah tahun 1996, kondisi Srimulat mati suri. Tidak ada lagi kontrak baru di televisi. Srimulat kalah bersaing dengan lawakan-lawakan modern, sementara untuk kembali ke panggung tidak mungkin  lagi. Selera penonton sudah berubah,” ujar Djujduk.

Sungguh menjadi semacam ironi. Apalagi dunia lawak saat ini masih didominasi oleh para mantan anggota Srimulat, seperti Tarsan, Tessy, Mamiek, Eko, Gogon,  Polo, Kadir, Thukul, dan Nunung. Tapi Djudjuk mengaku legawa (berbesar hati).

“Roda itu berputar. Tapi saya bangga Srimulat bisa bertahan hingga 46 tahun dan masih banyak penggemarnya.”

Djudjuk sendiri, sejak masa kontrak Srimulat dengan sebuah stasiun televisi swasta berakhir, memilih kembali ke Solo, berbeda dengan sebagian besar anggota Srimulat yang memutuskan tetap tinggal di Jakarta. Banyak di antara mereka yang kemudian berhasil “menaklukkan” Jakarta, seperti Basuki, Timbul (keduanya sudah meninggal), Tarsan, Tessy, Nunung, Mamiek, Kadir, dan Thukul Arwana.

“Saya memilih kembali ke Solo, momong cucu. Rumah saya di sini kok,” kata perempuan yang terlihat lebih muda dibanding usianya yang sudah 64 tahun tahun itu.

Djudjuk sadar bahwa Solo memang bukan kota yang cocok  untuk meraup rupiah dengan melawak. Namun justru itulah ia memutuskan untuk tinggal di Solo.

“Saya sudah tua. Sekarang jamannya yang muda-muda tampil. Saya tahu diri, tidak mungkin saya laku terus,” ujar perempuan yang pernah membintangi sejumlah film komedi, antara lain “Untung Ada Saya”, “Gepeng Mencari Utang”, dan “Gepeng Bayar Kontan”.

Terlepas dari kebesaran hatinya, Dudjuk mengaku sebenarnya masih memiliki keinginan untuk menghidupkan kembali Srimulat. Namun keinginannya itu harus dibuang jauh-jauh karena kondisi pasar sudah tidak memungkinkan.

“Penggemar Srimulat masih banyak, tapi itu tidak cukup untuk mewakili pasar. Tidak ada lagi televisi  yang mau membuat kontrak baru.”

Pada sisi lain, tambah Djudjuk, mustahil jika Srimulat pentas secara off air, misalnya di Taman Bale Kambang, Solo, tempat pertama kali Srimulat manggung di Solo.  Sebab, menurut Djudjuk, yang melekat di hati para penggemar itu sebenarnya Srimulat pada masa jayanya. Maka jika Srimulat pentas kembali, otomatis sebagian besar pemain harus diambil dari pemain yang ada pada masa kejayaan tersebut.

“Artinya, pelawak yang main ya harus seperti Tarsan, Tessy, Mamiek, Thukul, dan Nunung. Lha dari mana uang untuk membayar mereka?  Honor mereka itu sudah di atas Rp 10 juta  sekali tampil,” ungkap Djudjuk.

Sebaliknya jika Srimulat pentas dengan pemain baru atau pemain yang belum terkenal –yang nota bene hobnornya jauh lebih murah- Djudjuk mengaku pesimistis dengan penonton.

Karena itu, Djudjuk memilih untuk legawa. Ia sadar bahwa dunia panggung  bukan lagi miliknya. Masa kejayaannya sudah selesai, digantikan dengan generasi yang lebih muda. Menurut bahasa Djudjuk, dahan-dahan lama selalu menuju pada usia tua, namun dahan-dahan baru selalu datang untuk menggantikannya.

“Saya boleh berhenti dari dunia panggung. Tapi Srimulat tidak akan pernah mati, tidak akan terlupakan,” ujar perempuan yang kini aktif di Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) bersama maestro keroncong Waldjinah. (Ganug Nugroho Adi)

3 Comments on Djudjuk Djuwariyah: Srimulat Tidak Akan Mati

  1. Semoga Srimulat bisa kembali berjaya, entah mungkin dengan format baru. Tapi memang diakui, Srimulat sangat lekat dengan tokoh2 yg disebutkan di tulisan di atas.

    Suka

  2. Srimulat besar berkat mereka yang di besarkan oleh srimulat itu sendiri maka jangan pernah untuk melupakannya.

    Suka

  3. Mbak Jujuk.. : “tetap semangat …”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: