Eko Tanpa Embel-embel Madona

EKO Supriyanto pernah menjadi perbincangan setelah tahun 2001 lalu  berhasil menjadi penari dalam Madonna’s Company, yang menggelar tur konser keliling Amerika dan Eropa. Nama Eko pun melejit. Bertapa tidak, untuk menjadi penari latar Madona, dia harus menyisihkan 6000 penari dari berbagai negara dalam audisi di Los Angeles, Amerika Serikat . Konon, Madonna sangat terkesan ketika dalam seleksi akhir, Eko mempertontonkan kemampuannya menggabungkan dasar-dasar silat dengan tari.

Tanpa embel-embel Madona pun, Eko sebenarnya seorang penari dengan bakat yang kuat. Terlebih kemampuannya dalam mengelaborasikan tari klasik (Jawa), tari tradisi (rakyat), dan tari-tari modern.  Pertama kali mengenal tari dari kakeknya, Djojoparjitno, yang menjadi penari klasik Jawa di Taman Sriwedari, sebuah pusat kesenian dan kebuyaan di Solo, Jawa Tengah.  Karena masa kecilnya di Magelang, maka setiap malam minggu Eko  “memaksa” keuda orang tuanya, Soebardjono dan Supriyati,  untuk selalu mengantarnya ke Solo, sekadar untuk  menyaksikan sang kakek menari. Saat masih duduk di bangku SD, Eko bahkan nekat belajar pada penari tradional  di Magelang, seperti Khahari, Paijan, dan Is Sunardi, yang memperkenalkan tarian Kubro Siswo, Kudang Lumping, dan pencak silat. Menginjak bangku SMP hingga SMEA (SMK jurusan Ekonomi), dia mulai belajar tari Bali dan mengenal beberapa tari modern.

Ada cerita menarik saat Eko masih duduk di bangku SMEA. Gara-gara dia memilih tari sebagai mata pelajaran ekstrakulikuler, teman-teman sekolahnya mengolok-oloknya sebagai banci. Saat itu, tuirur Eko, sekolah memberi tiga pilihan untuk pelajaran ekstrakulikuler, yaitu sepak bola, basket, dan tari.

“Saya memilih tari, karena saya tidak suka sepak bola dan basket. Kawan-kawan sekolah langsung menyebut saya banci. Mungkin karena anggapan bahwa penari itu lebih dekat dengan perempuan dibanding laki-laki.”

FOTO EKO1Eko melanjutkan sampai sekarang anggapan bahwa penari lebih dekat dengan dunia perempuan, bahwa penari itu menthel, kemayu (keperempuan-perempuanan) masih kental. Sebaliknya, sepak bola, basket, atau karate itu gagah, macho.

“Padahal sebenarnya tidak begitu. Kalau kita membawakan tarian Buta Cakil misalnya, di mana letak menthel-nya coba?”

Minatnya yang besar pada tari membawanya  belajar tari secara formal-akademis di STSI Surakarta. Di sekolah tinggi itulah Eko bertemu dengan para senior tari, seperti Sardono W Kusumo, Meidi, Suprapto Suryosudarmo, dan S Padmadi.

“Mereka adalah guru-guru saya. Saya tidak akan pernah melupakan mereka, terutama kakek dan orang tua saya,” ujarnya.

Di kalangan seniman tari, Eko Pece adalah panggilan akrab laki-laki kelahiran Banjarmasin, 26 November 1970 ini. “Pece” merupakan olok-olok dari teman-teman kuliahnya saat  masih menjadi mahasiswa di STSI, gara-gara Eko suka memakai kacamata hitam. Tapi siapa pun sebutannya, Eko adalah satu di antara sedikit koreografer andal yang dimiliki negeri ini. Untuk setiap perbincangan dan pergelaran tari di Indonesia, Eko adalah salah satu nama penting selain koreografer senior Sardono W Kusumo.

Perhelatan “Solo Menari 24 Jam” untuk memperingati Hari Tari Internasional di Solo, 29 April lalu, misalnya, tak lepas dari peran nya. Eko berhasil mengumpulkan sekitar 3000 penari, baik dari Solo maupun kota-kota lain, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Eko juga tampil sebagai peñata tari, terutama untuk pertunjukan utama, Rama Tundung.

“Dunia tari harus sering dikenalkan kepada generasi muda. Saat ini, banyak negara melirik pertunjukan tari di Indonesia ,” katanya.

Eko mengungkapkan pertunjukan tari di Indonesia  sebenarnya tidak kalah dengan pertunjukan tari di luar negeri. Perbedaannya justru terletak pada proses sebelum pentas, seperti latihan dan manajemen pementasan.

“Kita tidak kalah dengan perkembangan tari di Amerika dan Eropa. Bedanya, mereka sangat disiplin dan profesional. Saya banyak belajar dan akhirnya tahu bahwa menjadi seniman itu tidak gampang,” kata koreografer yang pada Desember 2009 hingga Februari 2010 lalu pentas tur keliling Eropa dan Australia, bersama koreografer kenamaan asal Selandia Baru, Leni Voni Fasio.

Di tengah-tengah kesibukannya mengajar di almamaternya, peraih gelar Master of Fine Art (MFA) dalam studi seni pertunjukan di University of California di Los Angeles (UCLA), Amerika Serika, ini memang tetap terlibat dalam pertunjukan-pertunjukan tari.  Saat ini misalnya,  Eko tengah  menyiapkan drama tari musikal bersama sineas Garin Nugroho -sebuah pertunjukan untuk memperingati hari ulang tahun sebuah koran nasional yang ke-45, Juli mendatang. Selepas bulan Juli, Eko akan kembali disibukkan dengan keterlibatannya dalam pertunjukan yang lebih besar bersama  koreografer Joko Anwar.

Menurut dia, belakangan ini dirinya mulai tertarik menggarap koreografi dalam kamera (film-tari).

“Ini pergeseran minat saja. Mungkin karena film-tari  itu lebih kompleks, sehingga  lebih dinamis dan tidak membosankan,” kata dia.

Soal pergeseran minat itu, lanjut dia, memang sudah beberapa kali terjadi dalam karirnya sebagai penari. Tahun 1990-an misalnya, karya-karyanya lebih banyak menggarap konsep panggung dengan tema perempuan, seperti dalam karya Lengger, Abdi Dalem, dan Ronggeng Dukuh Paruk. Mulai tahun 2000 awal, konsep pementasan bergeser pada   karya-karya drama musikal, hingga akhirnya film-tari.  Film Opera Jawa garapan Garin Nugroho adalah  salah satu contohnya.

“Terlepas dari konsep pertunjukan, bagi saya menari itu ekspresi individu. Dalam setiap karya, saya tetap menyampaikan pesan, entah itu soal lingkungan, kondisi sosial, juga  HAM (hak asasi manusia),” kata Eko.

Menyaksikan Eko menari ibarat menyaksikan sebuah ketotalan. Ia begitu sungguh-sungguh mengeksplorasi tubuh dalam gerak yang sering tak terduga. Punggung yang membungkuk, tangan yang terulur lentur, juga dada yang berkilat karena cahaya dan keringat.  Nama Eko Supriyanto telah menjadi sinonim dengan dunia seni tari Indonesia.

“Semua yang kita kerjakan akan berhasil baik jika dilakukan dengan hati. Saya menari dengan hati,” ujar penari yang  saat ini tengah menyelesaikan program doktoral Kajian Seni Pertunjukan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. (Ganug Nugroho Adi)

.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: