Dan Solo pun Menari…


Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

DI bawah gapura kapal besar di sekitar pintu masuk kampus Insitut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah, tubuh empat pemuda itu meliuk pelan. Tangan mereka  seperti melambai dengan gerakan ritmis.  Kaki-kaki mereka menapak kokoh, sesekali menekuk membuat gerakan naik-turun. Awalnya, gerakan mereka terlihat seragam. Namun  sesudahnya keempat mahasiswa ISI itu; Muslimin Bagus Pranowo, Luluk Ari, Havod Ponx, dan Darlein Litay, seperti menari sendiri-sendiri, namun tetap terangkai dengan rapi. Gerakan-gerakan mereka lembut. Musik gamelan di pendapa mengiringi mereka menari…

SOLO MENARI2Itulah  salah satu pemandangan di halaman kampus ISI Surakarta, Kamis (29/4) lalu.  Keempat mahasiswa  ISI tersebut adalah hanya bagian dari perhelatan memperingati Hari Tari Internasional yang berlangsung di Kota Solo. Acara  itu sendiri digelar oleh ISI Surakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo dalam kemasan “Solo Menari” selama 24 jam.

Masih di kompleks kampus ISI, tepatnya di parkir timur Teater Kecil,  penonton memadati pentas puluhan penari yang membawakan lakon Rama Tundung, sebuah petikan kisah perebutan kekuasaan dari epik besar Ramayana. Maka, halaman parkir itu pun layaknya Kerajaan Pancala, negeri di mana Rama berasal. Para penari keluar dan masuk lapangan dengan kostum wayang, termasuk puluhan penari yang mengenakan busana kera beraneka warna.

Pergelaran “Solo Menari” itu sendiri dibuka di dua tempat, yaitu  kampus ISI Surakarta dan Solo Square, sebuah mal terbesar di Solo, yang masing-masing dibuka secara bersamaan oleh Walikota Joko Widodo dan Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo. Sekitar 3000 penari dari 70 sanggar tari di Solo dan kota-kota sekitarnya terlibat dalam perhelatan besar ini. Selain dari Solo, peserta juga datang dari berbagai kota di Jawa Timur, Bandung, Yogyakarta, Bali, Aceh, Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan sebuah kelompok tari dari Malaysia. Empat panggung dibangun di empat tempat. Para penari, mulai anak-anak hingga dewasa, bergiliran tampil di Bundaran Gladag, Koridor Ngarsapura, Taman Sriwedari, dan Solo Square. Maka, tepat pukul 07.00 pada Kamis itu, sekitar 3000 orang serentak menari bersamaan di empat titik.

Di kampus ISI, koreografer kondang Eko Supriyanto membuka perhelatan  dengan karya koreografi bernuansa etnik yang indah.  Tari pembuka ini menampilkan   para  penari eksentrik dengan kostum gaya etnik, mengenakan aksesoris bendera-bendera kertas  di punggung.  Mereka menari dengan enerjik, dengan iringan perkusi yang rancak. Setelah tari pembuka, sejumlah tari tradisional tampil susul-menyusul. Tari Lengger dari Banyumas tampil menakjubkan.  Para penari yang semuanya wanita mengenakan kain sebatas dada dengan bagian bahu  terbuka. Pakaian bawah berupa kain longgar mirip celana. Mereka menari dengan sensual dan bahasa tubuh yang menggoda. Tampil juga Topeng  Kelono yang dibawakan dengan indah oleh  sepasang penari.

Baca juga  Laweyan, jejak panjang industri batik Solo

SOLO MENARI4

Tak hanya Eko Supriyanto, sejumlah koreografer ternama lain juga tampil dalam perhelatan besar ini. Sebut saja nama-namka seperti Fajar, Sitras, Wangi Indria, Suprapto Suryosudarmo, dan Mugiono.  Mereka berkolaborasi.

Mugiyono mengawali pentas kolaborasi ini dengan luar biasa. Dia menampilkan tarian tunggal tanpa musik. Tubuh penari yang lama menggeluti tari klasik itu meliuk lentur. Uniknya, dalam sekejap Muugiono mampu mengubah tubuhnya ke dalam gerakan–gerakan kaku dan kasar. Dia seperti sedang membawakan pemberontakan-pemberontakan terhadap dirinya sendiri. Gerakannya sungguh dalam. Kali ini, Mugiono memang tampil dengan gaya kontemporer. Di tengah tarian itulah masuk  sekelompok penari dengan kostum wayang. Meski dua gaya tari di panggung itu berbeda –Mugiyono dengan gaya kontemporer sementara para penari yang datang belakangan tampil dengan  gaya klasik- namun mereka mampu melakukan kolaborasi dengan indah.

Penampilan beberapa tarian rakyat, seperti atraksi reog dari Wonogiri yang berkolaborasi dengan jathilan dari Wonosobo menjadi tontonan menarik. Penontong memadati halaman kampus ISI, seperti mengepung atraksi yang sedang berlangsung. Terlebih tari jathilan menyuguhkan  pemain yang In  trance (kesurupan). Atraksi semi magis seperti ini rupanya tetap diminati masyarakat.

Tak jauh dari lapangan parkir, tepatnya di kanopi Teater Besar, tampil  kelompok seni dari Cirebon, Tegal dan Sragen. Sedangkan di dalam gedung teater itu sendiri digelar sajian dari Pekan Baru, ITB Bandung dan Yogyakarta.

Di luar kompelks kampus, sebuah panggung didirikan di halaman pusat perbelanjaan Solo Square. sejak pagi telah ramai Kamis (29/4). Tak seperti biasanya memang. Di atas panggung, puluhan wanita pedagang yang biasanya berjualan di Pasar Klewer, sedang membawakan Tari Gambyong. Meski setiap gerakan terlihat kaku dan lucu –karena itu selalu mengundang tawa penonton– namun mbok-mbok pedagang pasar tetap terlhat semangat dan percaya diri.

Baca juga  Dhukutan, saat tawuran jadi keharusan

“Saya sebelumnya belum pernah menari. Karena ini hari istimewa, saya ingin mencoba. Tidak bagus ya tidak apa-apa, yang penting bias membuat orang lain senang,” kata Sutini, seorang di antara penari itu.

Rangkain tarian lain adalah aerobic dance, Tari Minang, dan kolaborasi  Aneka Tari Nusantara. Selanjutnya, dari halaman Solo Square, sajian “Solo Menari” itu kemudian berjalan  menyusuri sepanjang Jalan Slamet Riyadi menuju Kampus ISI sejauh sekitar 12 kilometer. Di sepanjang perjalanan, rombongan penari sesekali berhenti untuk menari di  panggung-panggung yang disediakan, yaitu di Taman Sriwedari, kawasan Ngarsapura, dan bundaran Gladag.

Sekedar diketahui sejak 1982 UNESCO telah mencanangkan tanggal 29 April sebagai World Dance Day. Tanggal tersebut bertepatan dengan kelahiran tokoh tari balet modern bernama Jean George Noverre yang lahir pada tahun 1727. Sejak pencanangan itu, setiap tahun, insan tari di seluruh dunia memperingati dengan berbagai kegiatan. Tema perayaan tahun ini adalah “Menuju Kesetaraan, Kebersamaan, dan Toleransi”.

“Kita butuh alat pemersatu. Tari-tarian kita yang beragam diharapkan dapat memunculkan apresiasi yang pada akhirnya menumbuhkan saling pengertian. Di sinilah tarian dapat memupuk kebersamaan dan toleransi,” kata ketua penyelenggara Solo Menari, Wahyudiarto.

Sementara menurut satu dari delapan anggota tim kreatif “Solo Menari”, Eko Supriyanto, dunia tari di Solo selama 10 tahun terakhir sangat diperhatikan dunia tari internasional. Terbukti, para koreografer kenamaan dunia kerap mencari penari dari Solo. Kebanggaan ini hendaknya tidak hanya milik para penari, tetapi juga masyarakat sebagai pemilik sejati tari dan tradisi menari.

Boleh jadi Eko benar. Sebab di Solo, semua bentuk tari ada, mulai klasik, tari rakyat, modern dan komtemporer.  Dan selama 24 jam pada Kamis (29/4) hingga Jumat (30/4), sejumlah kawasan di Solo memang mirip arena menari. Mereka menari, mereka begoyang, melenggok dari pagi hingga pagi lag. Seperti kata Walikota Solo, Joko Widodo, seperti itulah cara Kota Solo menegaskan diri sebagai kota budaya. (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here