Waldjinah Ratu Kembang Kacang

TAHUN ini, Waldjinah akan berusia 67 tahun. Namun di usianya yang mendekati kepala tujuh itu, Waldjinah masih tampak cantik dan segar. Resepnya: jangan sampai stres, tidak ngaya (memaksakan diri), dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Di dunia musik keroncong, Waldjinah memang belum ada tandingannya. Penyanyi keroncong generasi sesudahnya boleh datang, namun tampaknya belum bisa menggeser namanya. Tidak hanya di dalam negeri, Waldjinah juga dikenal di luar negeri, terutama Jepang. Ia telah menyanyikan ratusan lagu, selama lebih dari 20 tahun sebagai penyanyi.

WALDJINAH2Bungsu dari sepuluh bersaudara ini berasal dari keluarga tidak mampu. Ayahnya, Wiryo Rahardjo, yang asli Solo, Jawa Tengah, bekerja sebagai buruh batik. Bakat menyanyi Waldjinah sudah terlihat sejak kecil.

“Saya masih kelas dua SD, ketika kakak saya mencoba menyanyikan lagu Oh Bintangku tidak bisa. Saya yang sering mendengar dia menyanyikan lagu itu, malah sudah bisa lebih dulu. Saya kemudian diajak latihan. Tetapi karena latihannya sampai malam, saya sering menangis karena mengantuk dan kecapaian,” kenang Waldjinah.

Ketika duduk di bangku SD, ia adalah wakil tetap sekolah dalam perlombaan menyanyi. Pada umur 12 tahun (1958), Waldjinah memenangi lomba Ratu Kebon Kacang, sebuah ajang lomba menyanyi keroncong bergengsi di Solo. Dari ajang itulah julukan “Ratu kembang Kacang” melekat pada dirinya. Sejak itu, Waldjinah keterusan ikut kontes menyanyi. Puncaknya pada tahun 1965, ketika dia menjadi menjuarai Bintang Radio se-Indonesia. Tidak hanya mendapat tropy, Waldjinah pun berkesempatan bertemu langsung dengan proklamator Soekarno.
”Waktu itu saya sedang hamil anak saya kelima, Bung Karno memberikan nama Bintang untuk anak saya,” ujarnya bangga.

Pada kisaran tahun 1968-1969, langgam Jawa Yen Ing Tawang Ana Lintang, Cah Ayu, ciptaan Andjar Any yang dia nyanyikan melambungkan namanya. Pada era yang sama, Walang Kekek pun meledak.

“Saya tidak tahu siapa yang menciptakan notasi Walang Kekek. Itu anonim. Saya hanya menulis liriknya,” kata Waldjinah, yang kemudian menyanyikan beberapa syairnya…

Baca juga  Riwayat Pakubuwono V : Sunan Sugih Lama Belajar, Singkat Menjabat

Walang kekek/walange kayu/walang kayu/tibo neng lemah/Yen kepingin yo mas/arep melu aku/Yen mung trima/ tak kon joga ngomah
E… ya ye… ya ye.. ya E ya.. yae yai, e yaiyo yaiyo

Suaranya tak berubah; cemengkling dan jernih. Cengkok yang dimilikinya adalah kekuatan yang hingga kini belum bias tertandingi penyanyi keroncong lain. Bisa jadi, karena sejak kecil Waldjinah sudah akrab dengan tembang-tembang macapat..

“Saya hanya minum jamu beras kencur dan madu untuk menjaga kualitas suaranya. Saya tidak pernah minum es, apalagi alcohol,” ujar peraih Hadiah Seni 2006 dari Pemerintah RI itu.

Waldjinah mengaku belajar menyanyi secara otodidak. Awalnya dia hanya sering melihat kakaknya latihan keroncong. Seusai latihan, Waldjinah kecil sering menyanyikan kembali tembang-tembang yang dibawakan orkes keroncong kakaknya saat latihan.

Namun Waldjinah mengenang bahwa saat kecil, sang ibu selalu mengantarkan tidurnya dengan tembang-tembang. Barangkali dari kebiasaan itulah Waldjinah belajar nembang dari ibunya. ”Saat masih anak-anak, ibu selalu meninakbobokan dengan tembang-tembang macapat, seperti “Dandang Gulo”, “Kinanti”, atau “Pangkur”. Mungkin karena itulah saya sejak kecil suka sekali nembang macapat.”

Selain ibunya, Waldjinah menyebut dua penyanyi keroncong berperan besar dalam membentuk dirinya sebagai penyanyi keroncong. ”Waktu itu di RRI Solo ada penyanyi yang saya suka, yaitu Maryati dan Sayekti. Saya belajar dari mereka. Tapi mereka tidak tahu, wong saya belajarnya hanya mendengarkan mereka saat nyanyi,” kenang Waldjinah.

Sebenarnya Waldjinah tak hanya menguasai keroncong. Dia bisa menyanyi apa saja, termasuk menjadi sinden dalam pagelaran wayang. Musik pop pun pernah dirambah, salah satunya berduet bersama almarhum Chrisye. Tapi ibu lima anak ini memilih untuk konsisten dengan keroncong dan langgam. ”Karena cengkok suara saya memang lebih cocok pada musik itu,” kata Waldjinah di rumahnya, Jalan Parang Cantel 31, Mangkuyudan, Solo, Jawa Tengah.

Tidak hanya di dalam negeri, Waldjinah juga digemari di luar negri. Dia menjelajahi dunia dengan musik keroncong, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Selandia Baru, Belanda hingga Yunani. Bahkan di Suriname, Waldjinah pentas hingga sebulan penuh. ”Malam manggung, siang melatih menyanyi keroncong di sana,” kata.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono III (1): Perjanjian Giyanti Diteken, Mataram Punya 2 Istana

Waldjinah juga sedikit dari penyanyi yang pernah diminta menyanyi di acara kenegaraan sampai enam presiden yang pernah memimpin negara ini. Bahkan saat Soeharto berkuasa, hampir setiap tahun dia diundang untuk menyanyi di istana.

”Honornya tidak banyak, tapi rasanya bangga bias bertemu langsung presiden,” katanya.

Di rumahnya yang asri itu pula Waldjinah terus mencoba mengobarkan semangat “Keroncong Never Die”. Dia menyulap garasi rumahnya menjadi sekretariat HAMKRI (Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia), tempat nongkrong bagi pecinta musik keroncong, sekaligus menjadi tempat berlatih. Hingga kini, Waldjinah memang selalu bersemangat setiap kali membicarakan keroncong. Di garasi rumahnya itu pula Waldjinah melatih bernyanyi keroncong anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Ia dengan tulus dan antusias ingin menyebarkan keroncong kepada siapa saja, musik yang ia yakini berakar pada budaya Tanah Air itu.

Ia memilih keroncong dan langgam, karena menurutnya, suara yang ia miliki sesuai dengan keroncong dan langgam. Namun itu bukan berarti Waldjinah tidak bisa menyanyikan lagu pop. Buktinya, ia pernah menyanyi duet bersama penyanyi pop semacam Chrisye. Bahkan, belakangan ini ia mendapat tawaran berduet dengan Edo Kondologit.

”Tapi sampai mati saya ingin tetap bersama keroncong,” katanya.

Seperti julukan yang disematkan padanya, “Si Walang Kekek”, Waldjinah tetap mabur (terbang) bersama keroncong dan langgam Jawa. Dia masih memenuhi undangan pentas di panggung meski tak terlalu sering. Tentu saja dengan pakaian kebesaran putrid solonya, yaitu kain dan kebaya.(Ganug Nugroho Adi)

4 KOMENTAR

  1. terima kasih udah mem-publish sang maestro keroncong di indonesia bahkan didunia kayaknya, sekali-kali di-publish juga duunk autobiografi beliau dan juga rekan-rekannya semisal soendoro soekotjo (ehh bener gak yaa nulisnya hehehehe)

  2. kami sangat bangga dengan ibu waljinah karena dia sangat sangat menghargai budaya jawa kususnya kuta solo terus maju ibu waljinah bawa nama baik kota solo dan kalau bisa bawa nama baik kraton pakuan alam

  3. alhamdulillah indonesia g cm kya SDA ja tp dlm hal bdya jg sgt amt byk yg membrikn acungan jempol ats sgl yg dmilkix. slah 1 ny yach…mbah waljinah ni…. sy sgt bangga dg INDONESIA ini…
    tp kl blh tw lg rsep spy bs py swara merdu gt hrs gmn y??? n pantanganx pa???

  4. salam keroncong ……..
    bagi rekan rekan pecinta musik keroncong, kami mohon info tentang alamat Sekretariat Hamkri Semarang, apa bila rekan rekan berkenan memberitahu, kami mengucapkan banyak terima kasih, salam kroncong..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here