Kenali tanda-tanda alergi pada bayi dan anak

Ilustrasi (Foto: childrenallergyclinic.wordpress.com)

Karena sebuah postingan di blog salah seorang teman (penggemar halaman TREND KELUARGA SEHAT INDONESIA di FB), Mbak Retty N Hakim, dengan judul "Bayi dan Alergi", saya tergerak untuk mencari artikel tentang alergi pada bayi (saya membacanya setelah diberitahu suami). Sebagai blog kliping kesehatan, Trend Keluarga Sehat Indonesaia berusaha mendapatkan artikel-artikel kesehatan yang diharapkan bisa membantu pengunjung mendapatkan solusi sehat untuk keluarga.

Salah satu artikel yang relatif bagus yang saya temukan berjudul "Kontroversi dalam menginterprestasikan tanda dan gejala alergi pada bayi dan anak".

Memang benar, seperti disebutkan Mbak Retty di akhir artikelnya bahwa alergi memang merepotkan. “Kalau orang dewasa bisa menceritakan apa yang dirasakannya, maka bayi hanya bisa menangis. Orang tua harus pintar-pintar membaca arti tangisan bayinya, menebak di mana sakit yang terasa, mengira-ngira makanan apa yang tidak cocok bagi bayi mereka,” katanya.

Sering dianggap biasa

* Tanda dan gejala yang dikaitkan dengan alergi pada bayi dan anak tersebut, seringkali memang dialami oleh banyak anak (sekitar 30% lebih). Karena banyaknya kasus tersebut maka gejala tersebut sering dianggap biasa, baik oleh kalangan masyarakat dan bahkan oleh sebagian kalangan klinisi atau dokter.

* Bila orangtua hanya mempunyai satu anak mungkin tidak menyadari, tetapi bila mempunyai anak 2 atau lebih maka akan dapat membedakan sebenarnya tanda dan gejala yang dianggap biasa tersebut sebenarnya tidak terjadi pada sebagian anak lainnya.

* Hanya saja ketika hal tersebut dianggap biasa karena selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Demikian pula terjadi kontroversi di kalangan medis, semua gejala tersebut saat dikonsultasikan ke dokter sering dianggap biasa, Mungkin secara tehnis hal ini sulit dijelaskan ke pasien karena selama ini gangguan-gangguan tersebut secara medis penyebabnya belum terungkap jelas. Gejala tersebut akan berkurang seiring dengan usia. Bila dikaitkan dengan manifestasi alergi, hal ini memang berkaitan dengan bertambahnya usia imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna akan semakin membaik sehingga gangguan-gangguan tersebut akan semakin berkurang.

* Tetapi ternyata sebagian besar yang diaggap biasa tersebut mempunyai aspek yang sangat luas. Bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan banyak komplikasi seperti anak sering sakit, gangguan perilaku dan gangguan lain yang cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

* Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gangguan dapat disebabkan karena alergi makanan. Penulis juga banyak mengadakan penelitian dan pengamatan terhadap tanda dan gejala tersebut. Ternyata setelah dilakukan eliminasi makanan tertentu maka gejala tersebut dapat hilang atau berkurang. Atau, bila gejala tersebut timbul selalu terjadi menifestasi alergi lainnya. Misalnya, bila terjadi kolik seringkali disertai gangguan kulit, hidung buntu, napas grok-grok dan gangguan saluran cerna lainnya. Bila dilakukan anamnesa dengan cermat terjadi pola perubahan makanan baik diet ibu saat pemberian ASI atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh bayi.

* Demikian juga dengan gangguan bentol merah seperti digigit nyamuk atau serangga, biasanya disertai gangguan tidur malam, gangguan saluarn cerna ringan, hidung buntu malam, perilaku emosi dan agresif meningkat dan sering ditemukan pola diet makanan alergi yang dikonsumsi.

* Sehingga orangtua harus bijak dalam menyikapinya. Memang tampaknya alergi makanan tidak berbahaya dan tidak terlalu mengkawatirkan. Tetapi bila dicermati lebih jauh jangka panjang yang bisa terjadi maka hal yang dianggap biasa tersebut SANGAT MENGGANGGU dan harus lebih diwaspadai.

Persepsi berbeda

* Gejala dan tanda alergi pada anak yang sering terjadi sering disalah persepsikan penyebabnya oleh masyarakat. Pendapat tersebut turun temurun terjadi didapatkan dari orang tua atau kakek nenek. Dalam jangka panjang gangguan tersebut ternyata dapat menjadi alat prediksi ke depan. Persepsi berbeda dalam masyarakat dalam menyikapi tanda dan gejala alergi:

* Dermatitis (merah di pipi) sering dianggap karena terkena (“terciprat”) air susu ibu. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu seringkali timbul jerawat di wajah atau di punggung atau dada atas..

* Perioral dermatitis (bintik merah di sekitar mulut) sering dianggap sehabis makan lupa membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Padahal sisa makanan tersebut tiap hari pasti ada tetapi keluhan ini hilang timbul. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu timbul semacam bintik kecil atau jerawat disekitar mulut.

* Hipersekresi bronkus (napas bunyi grok-grok) sering dianggap karena dokter atau bidan kurang bersih menyedot atau membersihkan cairan ketuban di mulut bayi saat lahir.

* Diapers Dermatitis (merah di daerah popok) sering dianggap karena pemakaian popok (diapers) padahal setiap hari memakai diapers tetapi hanya saat tertentu tiombul gejala. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering batuk kecil (berdehem) karena dahak berlebihan di tenggorokan.

* Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.

* Sering nyeri perut sering dianggap pura-pura atau alasan menolak makanan hal ini terjadi karena keluhan tersebut sangat ringan dan timbul hanya sebentar. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering perut rasa tidak enak atau gejala maag.

* Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.

* Bintil merah di kulit yang berubah menjadi kehitaman atau dermatitis di kulit sering dianggap karena digigit nyamuk atau darah manis, padahal semua anggota keluarga di dalam rumah yang sama tidak mengalaminya. Atau, sering dianggap karena debu atau air kran yang kurang bersih atau karena udara panas atau keringat.

* Tanda lebam kebiruan di tulang kering kaki atau kadang di daerah salah satu pipi sering dianggap karena terbentur atau terjatuh saat berlari atau naik sepeda. Memang kebetulan bahwa anak alergi biasanya anaknya sangat aktif dan tidak bisa diam. Hal ini biasanya juga dialami oleh salah satu orang tua, tetapi pada orangtua biasanya lokasinya di paha atau lengan atas sering diistilahkan dicubit setan.

* Mata atau telinga gatal, sering digosok-gosok sering dianggap karena mengantuk.

* Tanda putih (seperti panu) di pipi, dada atau pungggung sering dianggap karena berenang, padahal banyak anak yang tidak pernah berenang juga mengalaminya.

* Sering sariawan atau luka di mulut sering dianggap karena panas dalam atau kurang vitamin C padahal anak setiap hari makan buah. Sariawan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.

* Sulit Buang air besar atau tidak buang air besar tiap hari sering dianggap karena karena kurang buah atau sayur padahal anak setiap hari makan buah dan sayur. Gangguan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.

Manifestasi Klinis

* KULIT: sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk.

* Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.

* SALURAN CERNA: GASTROOESEPHAGEALREFLUKS/ GER): Sering MUNTAH/ gumoh), kembung, “cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau, hitam dan berbau. Sering “ngeden, beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah sering timbul putih, bibir kering

* SALURAN NAPAS: Hipereaktifitas Bronkus, Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)

* HIDUNG: Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena satu sisi hidung buntu, ”KEPALA PEYANG”.

* MATA: Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi (tidak perlu antibiotka!!)

* KELENJAR: Pembesaran kelenjar di leher & kepala.

* Telapak tangan dan kaki pucat dan teraba dingin dan pucat, keringat berlebihan

* KENCING: Ngeden, sering, warna merah bukan darah

* GANGGUAN HORMONAL: keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.

* PERSARAFAN: Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis: tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spell)

* PROBLEM MINUM ASI: minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu: sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah. (Sumber: childrenallergyclinic.wordpress.com)

<p style=”text-align: none;”>Karena sebuah postingan di blog salah seorang teman penggemar halaman ini, Mbak Retty N Hakim, (http://buahcintaretty.blogspot.com/) dengan judul “Bayi dan Alergi”, saya tergerak untuk mencari artikel tentang alergi pada bayi (saya membacanya setelah diberitahu suami). Sebagai blog kliping kesehatan, Trend Keluarga Sehat Indonesaia berusaha mendapatkan artikel-artikel kesehatan yang diharapkan bisa membantu pengunjung mendapatkan solusi sehat untuk keluarga.</p>
<p style=”text-align: none;”>Salah satu artikel yang relatif bagus yang saya temukan berjudul “Kontroversi dalam menginterprestasikan tanda dan gejala alergi pada bayi dan anak”.</p>
<p style=”text-align: none;”>Memang benar, seperti disebutkan Mbak Retty di akhir artikelnya bahwa alergi memang merepotkan. “Kalau orang dewasa bisa menceritakan apa yang dirasakannya, maka bayi hanya bisa menangis. Orang tua harus pintar-pintar membaca arti tangisan bayinya, menebak di mana sakit yang terasa, mengira-ngira makanan apa yang tidak cocok bagi bayi mereka,” katanya.</p>
<p style=”text-align: none;”><strong>Sering dianggap biasa</strong></p>
<p style=”text-align: none;”>* Tanda dan gejala yang dikaitkan dengan alergi pada bayi dan anak tersebut, seringkali memang dialami oleh banyak anak (sekitar 30% lebih). Karena banyaknya kasus tersebut maka gejala tersebut sering dianggap biasa, baik oleh kalangan masyarakat dan bahkan oleh sebagian kalangan klinisi atau dokter.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Bila orangtua hanya mempunyai satu anak mungkin tidak menyadari, tetapi bila mempunyai anak 2 atau lebih maka akan dapat membedakan sebenarnya tanda dan gejala yang dianggap biasa tersebut sebenarnya tidak terjadi pada sebagian anak lainnya.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Hanya saja ketika hal tersebut dianggap biasa karena selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Demikian pula terjadi kontroversi di kalangan medis, semua gejala tersebut saat dikonsultasikan ke dokter sering dianggap biasa, Mungkin secara tehnis hal ini sulit dijelaskan ke pasien karena selama ini gangguan-gangguan tersebut secara medis penyebabnya belum terungkap jelas. Gejala tersebut akan berkurang seiring dengan usia. Bila dikaitkan dengan manifestasi alergi, hal ini memang berkaitan dengan bertambahnya usia imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna akan semakin membaik sehingga gangguan-gangguan tersebut akan semakin berkurang.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Tetapi ternyata sebagian besar yang diaggap biasa tersebut mempunyai aspek yang sangat luas. Bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan banyak komplikasi seperti anak sering sakit, gangguan perilaku dan gangguan lain yang cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gangguan dapat disebabkan karena alergi makanan. Penulis juga banyak mengadakan penelitian dan pengamatan terhadap tanda dan gejala tersebut. Ternyata setelah dilakukan eliminasi makanan tertentu maka gejala tersebut dapat hilang atau berkurang. Atau, bila gejala tersebut timbul selalu terjadi menifestasi alergi lainnya. Misalnya, bila terjadi kolik seringkali disertai gangguan kulit, hidung buntu, napas grok-grok dan gangguan saluran cerna lainnya. Bila dilakukan anamnesa dengan cermat terjadi pola perubahan makanan baik diet ibu saat pemberian ASI atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh bayi.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Demikian juga dengan gangguan bentol merah seperti digigit nyamuk atau serangga, biasanya disertai gangguan tidur malam, gangguan saluarn cerna ringan, hidung buntu malam, perilaku emosi dan agresif meningkat dan sering ditemukan pola diet makanan alergi yang dikonsumsi.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Sehingga orangtua harus bijak dalam menyikapinya. Memang tampaknya alergi makanan tidak berbahaya dan tidak terlalu mengkawatirkan. Tetapi bila dicermati lebih jauh jangka panjang yang bisa terjadi maka hal yang dianggap biasa tersebut SANGAT MENGGANGGU dan harus lebih diwaspadai.</p>
<p style=”text-align: none;”><strong>Persepsi berbeda</strong></p>
<p style=”text-align: none;”>* Gejala dan tanda alergi pada anak yang sering terjadi sering disalah persepsikan penyebabnya oleh masyarakat. Pendapat tersebut turun temurun terjadi didapatkan dari orang tua atau kakek nenek. Dalam jangka panjang gangguan tersebut ternyata dapat menjadi alat prediksi ke depan. Persepsi berbeda dalam masyarakat dalam menyikapi tanda dan gejala alergi:</p>
<p style=”text-align: none;”>* Dermatitis (merah di pipi) sering dianggap karena terkena (“terciprat”) air susu ibu. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu seringkali timbul jerawat di wajah atau di punggung atau dada atas..</p>
<p style=”text-align: none;”>* Perioral dermatitis (bintik merah di sekitar mulut) sering dianggap sehabis makan lupa membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Padahal sisa makanan tersebut tiap hari pasti ada tetapi keluhan ini hilang timbul. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu timbul semacam bintik kecil atau jerawat disekitar mulut.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Hipersekresi bronkus (napas bunyi grok-grok) sering dianggap karena dokter atau bidan kurang bersih menyedot atau membersihkan cairan ketuban di mulut bayi saat lahir.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Diapers Dermatitis (merah di daerah popok) sering dianggap karena pemakaian popok (diapers) padahal setiap hari memakai diapers tetapi hanya saat tertentu tiombul gejala. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering batuk kecil (berdehem) karena dahak berlebihan di tenggorokan.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Sering nyeri perut sering dianggap pura-pura atau alasan menolak makanan hal ini terjadi karena keluhan tersebut sangat ringan dan timbul hanya sebentar. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering perut rasa tidak enak atau gejala maag.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Bintil merah di kulit yang berubah menjadi kehitaman atau dermatitis di kulit sering dianggap karena digigit nyamuk atau darah manis, padahal semua anggota keluarga di dalam rumah yang sama tidak mengalaminya. Atau, sering dianggap karena debu atau air kran yang kurang bersih atau karena udara panas atau keringat.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Tanda lebam kebiruan di tulang kering kaki atau kadang di daerah salah satu pipi sering dianggap karena terbentur atau terjatuh saat berlari atau naik sepeda. Memang kebetulan bahwa anak alergi biasanya anaknya sangat aktif dan tidak bisa diam. Hal ini biasanya juga dialami oleh salah satu orang tua, tetapi pada orangtua biasanya lokasinya di paha atau lengan atas sering diistilahkan dicubit setan.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Mata atau telinga gatal, sering digosok-gosok sering dianggap karena mengantuk.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Tanda putih (seperti panu) di pipi, dada atau pungggung sering dianggap karena berenang, padahal banyak anak yang tidak pernah berenang juga mengalaminya.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Sering sariawan atau luka di mulut sering dianggap karena panas dalam atau kurang vitamin C padahal anak setiap hari makan buah. Sariawan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Sulit Buang air besar atau tidak buang air besar tiap hari sering dianggap karena karena kurang buah atau sayur padahal anak setiap hari makan buah dan sayur. Gangguan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.</p>
<p style=”text-align: none;”><strong>Manifestasi Klinis</strong></p>
<p style=”text-align: none;”>* <strong>KULIT:</strong> sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Kotoran telinga berlebihan &amp; berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.</p>
<p style=”text-align: none;”>* SALURAN CERNA: GASTROOESEPHAGEALREFLUKS/ GER): Sering MUNTAH/ gumoh), kembung, “cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB &gt; 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau, hitam dan berbau. Sering “ngeden, beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah sering timbul putih, bibir kering</p>
<p style=”text-align: none;”>* SALURAN NAPAS: Hipereaktifitas Bronkus, Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)</p>
<p style=”text-align: none;”>* HIDUNG: Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena satu sisi hidung buntu, ”KEPALA PEYANG”.</p>
<p style=”text-align: none;”>* MATA: Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi (tidak perlu antibiotka!!)</p>
<p style=”text-align: none;”>* KELENJAR: Pembesaran kelenjar di leher &amp; kepala.</p>
<p style=”text-align: none;”>* Telapak tangan dan kaki pucat dan teraba dingin dan pucat, keringat berlebihan</p>
<p style=”text-align: none;”>* KENCING: Ngeden, sering, warna merah bukan darah</p>
<p style=”text-align: none;”>* GANGGUAN HORMONAL: keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.</p>
<p style=”text-align: none;”>* PERSARAFAN: Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis: tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spell)</p>
<p style=”text-align: none;”>* PROBLEM MINUM ASI: minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu: sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu &amp; napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah. <em><strong>(Sumber: childrenallergyclinic.wordpress.com)</strong></em></p>

4 Comments on Kenali tanda-tanda alergi pada bayi dan anak

  1. Chepy Amiraga // 10 April 2010 pukul 15:51 // Balas

    hi.. lam kenal ..
    blognya oke

    saling mengunjungi yaa ..

    http://chepyamiraga.wordpress.com/2010/04/10/patungan-yuuuk/

    Suka

  2. fayza miftah // 10 April 2010 pukul 19:34 // Balas

    lebih siip lagi kalo’ ada solusinya….

    Suka

  3. Halo mbak,
    memang tuh anak saya kena Hernia Umbicalis. Hal lain yang menyebalkan dari alergi, terutama alergi dingin, adalah kualitas tidur yang tidak optimal. Biasanya pada saat tengah malam hingga hampir subuh mereka tidak bisa tidur karena batuk akibat kedinginan.

    Suka

  4. cara mengatasinya gmn? koq cuman itu2 aja artikelnya…
    solusinya mana?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: