Jati Kumandang di antara asap aroma terapi

Jati-04Penonton segera menghirup aroma wewangian begitu memasuki Teater Arena, TBJT pada 30 September 2009 malam. Aroma tersebut bersumber dari beberapa dupa yang dipasang di beberapa sudut ruangan dan juga rajangan dedaunan aroma terapi yang disebar dari pintu masuk hingga parket tempat pertunjukan. Sementara sebuah kain putih dibentuk semacam awan digantung di langit-langit di atas counter para pengrawit yang terletak di bagian belakang ruang pertunjukan. Semua itu menjadi bentuk set pergelaran tari berjudul Jati Kumandang karya Aloysia Neneng Yuniati.
Neneng lewat Jati Kumandang ini hendak bertutur tentang ketulusan cinta yang tak dapat diukur dengan materi kedudukan dalam menjalani hidup yang memang bukan sebuah pilihan. Karma adalah kunci dari seuah gembok kehidupan yang perputarannya ibarat rda menuju janji sebuah kematian.
Lulusan STSI 2005 ini mengungkapkan bahwa karya ini adalah penggambaran kisah percintaan Dewabrata dan Dewi Amba. Sebuah kisah cinta yang tak tegoyahkan menuju pintu kelanggengan. Cinta kasih, kesetiaan, kerinduan, prinsip, dan komitmen yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam menjadi dasar sebuah kesejatian murni dan hakiki.
Jati Kumandang adalah karya perdana perempuan yang juga aktif sebagai penari di Pura Mangkunegaran ini. Selama ini Neneng biasa hanya sebagai penari dari beberapa koregrafer semacam Wahyu Santosa Prabowo, Bambang Suryo, Mugiyono Kasido dan Irawati Kusumo Asri.
Jati Kumandang ditampilkan Neneng dengan kekuatan dasar tradisi yang dimilikinya. Hal ini terlihat dari pilihan kostum, perbendaharaan gerak tari, hingga komposisi musik pengiring yang kesemuanya merujuk pada tradisi Jawa. Dan kesemuanya sesuai untuk mengantar kisah Dewabrata dan Dewi Amba yang dipilihnya.
Penonton memang disuguhi keindahan gerak tari Jawa dengan iringan gamelannya lewat Jati Kumandang ini. Kisah Dewabrata dan Dewi Amba dalam Jati Kumandang ini dituturkan lewat gerak dan olah vocal tembang ke tujuh penari perempuannya. Sedangkan aroma terapi yang dimaksudkan untuk membuat suasana pementasan romantis dan magis agaknya tak berlaku bagi semua penonton. Sebab pada sekitar 15 menit terakhir menjelang pentas usai, beberapa penonton keluar karena terganggu asap dari beberapa sumber wewangian tadi. Selain mereka mungkin merasa kepanasan di ruang ber-AC yang malam penonton tumplek bleg karena memang pertunjukan digratiskan. (soloraya.com/ye)

Baca juga  Tedak Siten, ketika anak kali pertama menginjak tanah

Jatibaru-01

1 KOMENTAR

  1. memang ada beberapa yang keluar ruangan, tapi seperhitungan saya tidak lebih dri 6 orang diantara beratus2 pengunjung…itupun saat asap bertiup ke arah undak2 an muka…
    setelah itu asap mengecil lagi kok…asap itu cuma insiden kecil…
    pertunjukan hikmat Aloysia toh mengundang tepuk tangan riuh di akhir acara…padahal rata2 pengunjungnya kaum muda….sukses besar…

    salut pada Neneng dan penari lain!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here