Khataman Alquran: Tradisi tiada henti di sepanjang Ramadan

islam3RAMADHN adalah bulan suci yang senantiasa dinantikan umat Islam. Sepanjang bulan tersebut, para muslimin tak sekadar berpuasa  sebulan penuh, tapi juga  mengisi bulan suci dengan amalan sunnah, salah satunya adalah khataman Alquran, yaitu sebuah    kegiatan membaca kitab suci Alquran sebanyak 30 juz, dari ayat pertama hingga tamat (khatam).  Sepanjang Ramadhan, para santri baru, biasanya khatam Alquran pada malam terakhir puasa. Namun bagi para santri yang  sudah biasa membaca Alquran, sepanjang bulan Ramadan bisa khatam Alquran sebanyak 2 hingga 3 kali.

Khataman Alquran memang telah menjadi tradisi yang sudah berlangsung lama di masjid-masjid, pondok pesantren, serta tempat-tempat pengajian.  Konon, tradisi ini diajarkan oleh para Wali Sanga (Wali Sembilan), saat menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.  Di Solo, Jawa Tengah, misalnya, khataman Alquran berlangsung di masjid-mashid tua, seperti Masjid Agung Kasunanan Surakarta (1763), Masjid Al Wustho Mangkunegaran (1855),  serta Masjid Laweyan –sebuah masjid tertua di Solo, dibangun sekitar tahun 1546. Tradisi khataman ini pun selalu ramai. Sementara sejumlah pondok pesantren yang tetap mempertahankan tradisi khataman ini, antara lain Ponpes Almuayat di Makam Haji, Pajang, Solo, Ponpes Almukmin, Ngruki, Sukoharjo, Ponpes Modern Islam Assalaam di Pabelan, Sukoharjo, serta pondok pesantren tradisional di Desa Majalaban, Sukoharjo.

Sepanjang bulan Ramadhan,  masjid-masjid tua dan ponpes memang terlihat lebih hidup. Besarnya minat masyarakat terlihat dari membludaknya jamaah. Acara biasanya dimulai dengan berbuka puasa bersama, dilanjutkan dengan sholat Magrib, Isya dan kemudian tarawih. Yang hadir memenuhi masjid hingga ke pelataran. Meskipun sudah berlangsung ratusan tahun, ternyata yang hadir jumlahnya makin banyak. Mereka datang bukan hanya dari Solo, tapi juga kota-kota kabupaten  di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali. Uniknya, mereka datang tanpa diundang, karena masjid-masjid yang menyelenggarakan acara itu dari tahun ke tahun waktu penyelenggaraannya selalu sama.

Di Masjid Agung Kasunanan Surakarta, tradisi khataman Alquran  berlangsung mulai hari pertama puasa hingga sehari menjelang malam takbiran, atau puasa pada hari ke 29.  Umat Islam, baik anak-anak, remaja, hingga orang tua berbondong-bondong ke masjid. Sebagian  datang  menjelang berbuka puasa, sebagian yang lain datang menjelang sholat tarawih.

Tradisi khataman Alquran sendiri memang dimulai seusai sholat tarawih, sekitar pukul 21.00.  Dipimpin oleh imam masjid, mereka duduk bersap-sap sambil membawa Alquran. Sebagian memilih di pendapa masjid, tapi bagi yang ingin lebih khusuk disediakan sebuah ruangan khusus. Dan khataman Alquran itu pun di mulai. Secara bersama-sama, mereka melafalkan ayat-ayat suci Alquran.

Tidak begitu kompak memang. Ada yang terlihat lancar membaca, namun tidak  sedikit yang terbata-bata saat membaca. Begitulah, tak semuanya lancar membaca. Tapi yang penting adalah semangatnya. Yang di dalam ruangan biasanya memang lebih kusyuk. Mereka yang berada di tempat ini biasanya terdiri dari para orang tua, atau mereka yang yang sudah fasih membaca Alquran. Sementara yang di teras biasanya baru belajar, sehingga terkesan lebih santai.

“Bulan puasa harus diisi dengan amalan baik, agar dalam berpuasa  kami tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Bulan puasa waktu yang tepat untuk memperbanyak membaca Alquran,” tutur Rofiq Hassan, yang mengaku secara khusus datang ke Solo dari Kabupaten Wonogiri.

Baca juga  Jagongan Komunitas Online Solo perlu tindak lanjut

Pemandangan yang sama juga terlihat di Masjid Al Wustho   Mangkunegaran. Di masjid yang terletak di sisi barat Pura Mangkunegaran ini,  khataman bahkan sudah dimulai menjelang waktu berbuka puasa. Kegiatan akan dilanjutkan kembali susai sholat tarawih.  Masjid ini bahkan mempunyai target  mengkhatamkan Alquran seminggu sekali kepada para jamaahnya. Ada beberapa kelompok kecil yang mengikuti tadarus, dan baru berakhir sekitar pukul 24.00.

“Mereka mengadakan semakan, yakni saling menyimak antara satu dan yang lain. Sedikitnya, setiap kelompok menyelesaikan empat juz setiap hari. Jadi, nanti dalam seminggu bisa menyelesaikan 30 juz,” kata Muhammad Toha Mustafa, Ketua Takmir Masjid Al Wustho.  Juz adalah bagian atau susunan dalam Alquran.  Alquran terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat.

Selesai tadarus (membaca Alquran),  ada beberapa yang tetap memilih tinggal sambil menunggu waktu sahur tiba. “Karena masjid ini termasuk masjid tua, banyak warga luar daerah yang menginap di sini, terutama saat malam tanggal 21 hingga akhir Ramadhan untuk mengikuti itikaf (mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati). Setiap pagi, mereka keluar masjid untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya. Sorenya baru kembali lagi ke masjid sini.”

Pondok pesantren tradisional Condrodimuko di Desa Mojolaban, Sukoharjo, mempunyai cara tersendiri dalam melestraikan tradisi khataman Alquran pada bulan Ramadhan. Hanya dengan menggunakan penerangan lampu teplok, sekitar 144 santri pondok melakukan khataman mulai hari pertama puasa hingga selesainya bulan Ramadhan.

Meski dengan penerangan seadanya, namun para santri yang sebagian besar dari keluarga tidak mampu tersebut, terlihat khusuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Nuansa tradisional memang sangat kental dalam tradisi khataman di ponpes ini. Namun, penerangan yang samar-samar ini justru membuat para santri lebih khusuk dan kidmat.

“Membaca AlQuran tidaklah mudah, tapi tidak juga sulit. Kalau kita salah menyebutkan hurufnya saja, maka artinya sudah berbeda. Maka itulah gunanya tadarus bersama, jadi bisa saling mengkoreksi satu sama lain. Dalam kelompok tadarus, setidaknya harus ada satu orang yang benar-benar mengerti tentang bacaan Al-Qur’an sebagai pembimbing,” kata Ustad Agung Syuhada, pimpinan ponpes tradisional Islam Condrodimuko.

Seorang santri, Ahmad Faisal, mengaku lebih tenang saat melaksanakan khataman. Pada hari ketujuh puasa, para santri sudah khatam Alquran sekali. Kegiatan khataman tersebut dimulai sekitar pukul 21.00 seusai sholat tarawih, hingga tengah malam. Para santri akan melanjutkan membaca Alquran seusai sholat subuh sekitar pukul 04.30 hingga sekitar pukul 06.00 pagi. Selepas dari waktu itu, para santri melakukan aktivitas  biasa, seperti belajar atau sekolah.  Mereka akan membaca Alquran kembali selama dua jam setiap menjelang waktu sholat Dzuhur, sekitar pukul 10.30, hingga waktu sholat Dzukhur tiba, kemudian menjelang sholat Ashar sekitar pukul 14.30, serta 30 menit menjelang berbuka puasa, sekitar pukul 17.00.

Baca juga  Berkah Hari Besar untuk Abdi Dalem Kraton

Malam Ganjil

Selepas hari kesepuluh berpuasa, terutama pada malam-malam ganjil, intensitas khataman akan meningkat. Pada malam ke-13 di Masjid  kasunanan Surakarta, Masjid Alwustho Mangkunegaran, dan Masjid Laweryan, misalnya, menggelar khataman Alquran besar-besaran. Di Masjid Laweyan, tradisi khataman bahkan diikuti oleh para kerabat keraton. Sebab, di bagian belakang masjid  tersebut dimakamkan Ki Ageng Henis, leluhur  raja-raja dinasti mataram Islam. Di kompleks masjid itu pula dimakamkan Raja Surakarta, Paku Buwono II.

Mengapa malam-malam ganjil bulan Ramadhan lebih istimewa? Sebab, pada malam-malam ganjil Lailatul Qadar (masa-masa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad sepanjang 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari).

Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Sementara menurut Imam Syafi’I; “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”,  beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, dia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”. (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Maka, umat Islam yang melakukan ibadah dengan khusuk pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan, pahalanya melebihi 1000 bulan.

Seperti tercatum dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5;  ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izinTuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. Al-Qadr:1-5)

Pada malam-malam ganjil seperti itu, ribuan umat islam  mendatangi masjid-masjid, melakukan tadarusan dan khataman Alquran. Begitu banyaknya jamaah, hingga meluber sampai ke pelataran masjid, dan pondok pesantren.

Membaca Al-quran pada Ramadhan memang menjadi keutamaan  bagi setiap muslim. Di masjid-masjid dan  pondok pesantren menjadi lebih hidup dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Sebuah suasana yang jarang terlihat  di luar bulan Ramadhan.

Allah SWT memang mengkhususkan pada malam hari di bulan Ramadhan agar umatnya melakukan qiyam, yaitu menghidupkan malam-malam sepanjang bulan Ramadhan.

Tradisi khataman Alquran di masjid-masjid tua dan pondok pesantren itu masih terus berlangsung hingga bulan Ramadan usai. Namun sayang, begitu Ramadan berakhir, masjid-masjid, mushola, dan pondok pesantren kembali lengang.  Khataman dan tadarusan Alquran, seakan tak berbeda dengan tradisi  menyalakan kembang api dan petasan –tak terdengar lagi gaungnya setelah Ramadhan usai. [ganug nugroho adi]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here