Geliat perajin batik tulis Girilayu

membatik soloraya.comSoloraya dikenal sebagai salah satu “gudang batik” Indonesia. Kalau tanggal 2 Oktober 2009 ditetapkan sebagai “Warisan Dunia”, maka di Soloraya inilah terdapat banyak “penjaga warisan dunia” tersebut.

Sularsih (43), perempuan paruh baya warga Girilayu Matesih Karanganyar, adalah salah sosok penjaga dan penerus warisan budaya dunia tersebut. Tak kurang dari sepuluh orang warga di lingkungan tempat tinggalnya, dia bina untuk meneruskan pembuatan batik tulis motif kasunanan Surakarta.

Dari motif truntum, sidomukti, wahyu temurun hingga cakaran yang digunakan untuk prosesi siraman pada saat pesta pernikahan, dia produksi. Dan dia bukan pengusaha instant. Sularsih mempelajari membatik sejak kecil. Ilmu membatik dia peroleh dari keluarganya secara turun-temurun.

Meski demikian, dunia batik bagi Sularsih dan para tetanggnya adalah profesi sambuilan yang dikerjakan di sela menggarap sawah dan ladang. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau pembuatan batik tulis sering memakan waktu 2-3 pekan.

”Membatik sudah mendarah daging bagi warga Girilayu, khususnya bagi kami kaum wanita” ujar Sularsih yang ditemui saat menyelesaikan batik di rumahnya.

Memang dari sisi ekonomi, membatik tidak bisa diandalkan sebagia pilar ekonomi rumah tangga, meski relatif cukup membantu menambah pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Truntum, salah satu motif andalan
Truntum, salah satu motif andalan

Untuk pemasarannya batik produksinya, Sularsih mempercayakan kepada sang suami, Harso Waluyo (58). Sebulan sekali suaminya memasarkan batik buatannya ke daerah Geyajan dan Laweyan Solo. Batik tulis dihargai Rp 80.000 – Rp 100.000 per potong dalam kondisi mentahan.

Dalam sebulan Harso Waluyo hanya bisa memasarkan sekodi batik tulis. Itupun pembanyarannya tidak dia terima langsung. Para juragan pembeli batik membayar 50% dulu, sisanya dibayarkan bulan berikutnya ketika Harso menyetor batik lagi.

Meski diakui pemerintah berniat membantu permodalan dengan memberikan kredit lunak, Harso tidak memanfaatkannya. Alasannya, takut tidak dapat menggembalikan pinjaman tersebut. Hal itu sangat beralasan karena pemasaran batik diakuinya sulit, tidak seperti di masa kejayaan batik.

Harso Waluyo memamerkan karya isterinya
Harso Waluyo memamerkan karya isterinya

Batik tulis Girilayu mengalami puncak keemasan pada tahun 75-an, hal tersebut ditandai dengan banyaknya pesanan oleh para juragan batik dari Solo. Para juragan tersebut datang langsung ke Girilayu untuk memesan dan mengawasi proses pembuatan batik tulis.

Tak jarang konsumen pemakai juga memesan dan datang sendiri untuk membeli batik tulis ke perajin langsung. Pada masa itu, dalam sebulan, orang tua Sularsih dan karyawannya dapat menyelesaikan pesanan batik sebanyak 3 kodi per bulan.

Masa keemasan batik, katanya, tidak terlepas dari “campur tangan” almarhum Tien Soeharto. ”Kemungkinan permintaan batik tulis saat itu banyak disebabkan karena pesanan dari almarhum Ibu Tien Soeharto,” kata Harso. (soloraya.com/bre)

3 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*