Jangan sekadar mengikuti langkah selebriti…

SELEBRITI seumpama magnet. Ia selalu menjadi pusaran perhatian berjuta-juta pasang mata. Selebriti menjelma bak figur panutan yang layak contoh. Jujur tak jujur, setiap kita seringkali membatin, nikmat nian para pesohor itu. Popularitas setinggi langit, tumpukan materi sulit dihitung. Apalagi?

Maka lumrah jika banyak orang lantas ramai-ramai mengejar mimpi. Banyak orang berombongan memburu status menjadi idola. Banyak orang berjamaah mereka-reka khayalan. Kita ingin menjadi bagian dari kelompok termasyhur itu, kita ingin menjadi selebriti.

Kalaupun tak mampu mengekor kisah sukses hidupnya, minimal, kita sering cemburu pada penampilannya. Kita kerap iri pada wujud ragawinya. Kita sering panas hati untuk menandinginya. Kita berkali-kali tergoda untuk menggadaikan identitas diri. Kita rela bahkan bangga, mencangkokkan atribut selebriti pada tubuh kita sendiri.

Itulah, antara lain, logika untuk memahami laris manisnya penjualan tas, baju, sepatu, dan aksesori yang bermerek asli tapi palsu. Itu juga, antara lain, logika untuk menjelaskan begitu banyak di antara kita yang berdandan, bergaya, juga bertingkah laku seperti dandanan dan gaya para selebiriti.

Segalanya bermula dari membanjirnya informasi seputar selebriti. Situs EOnline sebagaimana dikutip enterfiles.wordpress.com, menulis fenomena selebriti yang terus berusaha mempertahankan kecantikannya sepertinya tak pernah basi untuk dikupas. “Rejim kecantikan para pesohor itu selalu menarik perhatian. Hebatnya, publik juga membuntuti cara-cara yang ditempuh oleh para pujaannya itu.”

Sekadar contoh, kabar Demi Moore yang hendak menjalani terapi antipenuaan di Austria beberapa tempo lalu, tak luput dari liputan media massa. Aktris yang sudah berumur itu, diberitakan ingin membersihkan toksin untuk menormalkan kondisi darahnya. “Tujuannya, tentu saja supaya tetap tampil cantik dan mempesona,” tulis EOnline.

Contoh lainnya, aktris muda pelakon High School Musical, Ashley Tisdale, dikabarkan hendak memperbaiki tampilan hidungnya. Ia juga dirumorkan telah memperindah bentuk payudaranya. Tisdale tak berkomentar soal reparasi buah dada itu. Tapi soal operasi hidung itu ia menjelaskan, “Saya melakukannya karena pertimbangan kesehatan,” katanya.

Mungkin tak penting betul penjelasan itu. Realitanya, kata Constance Droganes, informasi tentang kecantikan selebriti memang selalu menjadi berita besar,” katanya. “Aktris-aktris Hollywood yang kenes dan kinyis-kinyis itu telah menginspirasi jutaan penggemarnya untuk tampil serupa,” ujar penulis dan pengamat dunia hiburan itu.

Itulah sebabnya, bisnis produk kecantikan dan turunannya, berkembang sangat cepat. Saking semaraknya, sektor ini ditengarai merupakan kegiatan bisnis terbesar ketiga di dunia pada saat ini. Di Indonesia saja, belakangan banyak bermunculan usaha sejenis yang menjanjikan mampu memperbaiki penampilan dan kecantikan seseorang.

“SIAPAPUN, aktris atau bukan, pada dasarnya setiap wanita memang ingin selalu tampil cantik dan sempurna,” kata Paula Begoun. “Tetapi, baik aktris maupun konsumen kebanyakan, seringkali serampangan ketika membuat keputusan,” ujar penulis buku Don’t Go to the Cosmetics Counter Without Me.

Demi sebuah penampilan, banyak kaum wanita kurang bijaksana saat membeli produk kosmetik. “Mereka hanya menjadi korban trik-trik marketing atau kampanye iklan. Mereka kerap membeli produk atau jasa, yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang mereka butuhkan,” kata Paula.

Paula menyarankan, jangan sekali-sekali membeli sebuah produk kecantikan, misalnya hanya karena harganya mahal atau murah, atau sebab bintang iklannya seorang selebriti. Kedua faktor itu sama sekali tidak ada kaitan langsung dengan kualitas sebuah produk atau jasa. Lalu, hal apa yang harus menjadi pertimbangan?

Setiap produk kecantikan yang dijual harusnya memiliki basis riset penelitian yang lengkap dan komprehensif. Maka ia menghimbau semua produsen untuk berbagi informasi. “Silahkan kirim sampel produk dan hasil risetnya. Tapi, jika hasil analisisnya kurang berkenan jangan salahkan saya,” kata Paula.

Pengetahaun dasar itu, seharusnya juga dimiliki oleh setiap kaum hawa. Mereka harus mencermati komposisi bahan dasar sebuah produk pemutih kulit misalnya. Mereka harus makin teliti pada bahaya atau efek samping yang mungkin diakibatkan oleh sebuah produk yang mereka gunakan.

Caranya? “Baca dan cermati setiap informasi tentang produk tersebut. Jangan pedulikan apakah produk itu dipromosikan seorang bintang, dermatologist terkenal, atau diproduksi oleh perusahaan besar,” katanya. “Yang harus diperhatikan, antara lain, riset dan bahan dasar produk itu.”

Paula seperti sedang mengingatkan pada sebuah jargon iklan yang sangat terkenal di Indonesia beberapa waktu lewat yang berbunyi, “Teliti sebelum membeli.” Atau pada sebuah perumpamaan, “Jangan membeli kucing dalam karung”. Sebab jangan sampai, “Maksud hati menjadi cantik, apa daya salah kosmetik.” (View, Mei 2008).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: