Tembang Gombloh tutup SIPA

sipa“Kebyar-Kebyar”, tembang populer ciptaan Gombloh yang dinyanyikan para seniman dan penonton, menutup acara Solo International Performing Art (SIPA) 2009 di Pamedan Puri Mangkunegaran, Kota SoLo, Senin (10/8) malam.

Seluruh penonton dan para pengisi acara menyanyikan lagu tersebut sambil membawa lilin yang dinyalakan secara serentak pada penutupan SIPA 2009.

Ribuan lilin yang menyala dalam kondisi cahaya yang redup semakin membawa seluruh orang yang hadir di tempat tersebut larut dalam suasana kebersamaan.

Setelah lagu berakhir, seperti ditulis pikiranrakyat.com, Walikota Surakarta, Joko Widodo menyampaikan pesan kepada seluruh penonton, “Harmoni dalam jiwa tidak akan berjalan tanpa adanya seni, harmoni sebuah kota tidak akan berjalan tanpa adanya seni.”

Baca juga  Solo Batik Carnival: Bebaskan batik dari belenggu formalitas

SIPA 2009 yang merupakan salah satu dari 12 acara kesenian dan pertunjukan andalan Kota Solo berakhir setelah walikota menyampaikan pesan tersebut.

Pada hari terakhir SIPA 2009, terdapat enam kelompok seni yang tampil, antara lain Malire dari Bandung, Kito Sitopo dari Jepang, Akademi Seni Mangkunegaran Solo, Lixse Aguilar dari Venezuela, Sendratasik Unesa Surabaya, dan Etno Ensamble Solo.

Seluruh kelompok seni yang menyajikan kesenian-kesenian kontemporer dalam bentuk tari, musik, dan nyanyian tersebut mampu membuat penonton tidak beranjak dari lokasi acara.

Bahkan, ribuan kursi yang tersedia di lokasi acara tidak mampu menampung penonton yang datang sehingga ribuan orang yang tidak mendapat kursi rela untuk berdiri dan duduk di tanah.

Baca juga  Miniatur masjid ala Lorin Karanganyar

SIPA 2009 merupakan salah satu acara pertunjukan seni dan budaya yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surakarta yang mengandalkan kesenian kontemporer sebagai nilai jual.

Penyelenggaraan SIPA yang pertama ini berlangsung dari 7 hingga 10 Agustus 2009 dengan menampilkan sejumlah seniman dari Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, Denmark, Philipina, Singapura, Jepang, dan Venezuela. (Dikutip soloraya.com; Foto: kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here