Sate landak bir plethok, halal dan mak nyus tenan

Sate landak Matesih Karanganyar (soloraya.com/Bre Suroto)
Sate landak Matesih Karanganyar (soloraya.com/Bre Suroto)

Tampilan sekujur tubuh yang penuh duri membuat orang berfikir dua kali untuk memegangnya. Ya, landak atau dalam bahasa latin disebut hedgehog porcupine, memang penuh duri di seluruh permukaan tubuhnya. Salah satu hewan pengerat ini pernah  meresahkan para petani salak di wilayah Matesih, Karanganyar Jawa Tengah.
Menurut Sukatno, warga Matesih, setiap kali menjelang panen, buah salak milik petani menjadi incaran landak sehingga merugikan para petani. “Setiap musim panen salak, petani di sini selalu waswas takut nggak kebagian hasil karena sudah disikat habis oleh landak,” katanya.
landak 2Sekitar 23 tahun silam, landak-landak itu juga merusak kebun salak miliknya. Tentu tidak mengherankan sebab kebun salaknya bersebelahan dengan hutan rakyat, yang menjadi sarang hidup landak. Sempat kehabisan akal untuk menangani serangan landak, akhirnya Sukatno berinisiatif menangkapi binatang tersebut.
Bermula dari iseng memasak landak dengan berbagai racikan bumbu olahan isterinya, landak-landak itu kemudian berubah menjadi aneka macam daging olahan. Mulai dari racikan bumbu sederhana seperti sate, tongseng, atau rica-rica sampai dengan olahan asem-asem.
”Ternyata rasanya enak. Awalnya kebetulan ada tamu yang ikut mencicipinya dan memberi masukan agar saya membuka warung sate landak,” kata Sukatno yang kini menjadi juragan masakan landak itu.
Mulai saat itu, dia pun membuka warung masakan landak berdampingan dengan rumahnya di Jl Raya Tawangmangu-Matesih Km 2.

Bir plethok

Dalam perjalanan waktu 10 tahun dia membuka usaha, respons masyarakat terhadap olahan daging landak ternyata bagus. Melalui informasi gethok tular alias dari mulut ke mulut, akhirnya olahan daging landak racikannya terkenal di mana-mana.
Sebagian pelanggan meyakini bahwa bagian hati landak bisa menjadi obat asma, bagian ekor sebagai penambah libido dan bagian lain untuk mengatasi sejumlah penyakit. ”Banyak yang sudah membuktikan dan sering kembali ke sini. Tidak hanya masyarakat umum. Kalangan artis lokal juga sering ke sini, seperti Topo Sumbing dan lain-lain,” katanya.
Setiap pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, ia rutin menyembelih landak antara 1-2 ekor. Tiap satu ekor landak dewasa, kata dia, bisa diolah menjadi 20-25 porsi masakan, baik sate, tongseng, rica-rica dan asem-asem. Dia jual olahan tersebut dengan harga sama, Rp. 20.000/porsi. Pada hari Minggu, dia menyembelih hingga 5 ekor landak.
Menyantap daging landak kurang pas bila tidak minum sekalian bir khas warung itu, yakni bir plethok. Namanya memang demikian, tetapi minuman ini bebas alkohol karena terbuat dari beberapa jenis rempah-rempah dan tidak melalui fermentasi. Sedikitnya ada 12 macam rempah yang terkandung di minuman itu, antara lain jahe, kapulogo, secang dan akar alang-alang. Minuman itu disajikan panas dengan tambahan gula batu. Rasanya khas, jahe banget.

Baca juga  10 Rekomendasi Tempat Wisata di Lombok yang Wajib Disinggahi Segera

Pengolahan dan bahan baku

Bagaimana mengolah landak yang berduri tajam tersebut? Memang untuk menyembelih landak membutuhkan teknik khusus, karena durinya yang sangat tajam. Sebelum disembelih landak dimasukkan kedalam karung agar lemas. Setelah disembelih, disiram air panas agar durinya mudah dicabut dan dikuliti. Daging landak yang sudah dicuci bersih, kemudian dipotong kecil-kecil dan dimasak.

Karena masakan olahan daging landak kini sudah menyebar di sejumlah tempat yang tidak hanya di Karanganyar, maka sejak tiga tahun belakangan ini, menangkap landak merupakan penghasilan tambahan bagi warga desa yang umumnya berprofesi sebagai petani.
Persiapan menangkap landak dilakukan sejak siang hari. Warga secara berkelompok, yang terdiri dari tiga hingga sepuluh orang, melakukan persiapan menjerat landak. Menurut Anjar warga setempat yang sering berburu landak, seperti dilaporkan Horizon Indosiar, untuk menangkap landak, berbagai peralatan perlu dipersiapkan. Terutama kandang jebakan yang terbuat dari besi.
Jebakan ini dibuat dengan ukuran cukup untuk menangkap landak dengan berat enam kilogram. Selain itu juga disiapkan umpan. Biasanya berupa umbi dari tanaman yang banyak terdapat di pekarangan rumah.
Lokasi menangkap landak yang akan dituju di Bukit Jambon. Di tempat tersebut memang masih banyak terdapat landak yang bersarang di dalam lubang. Jarak dari pemukiman warga ke Bukit Jambon sekitar lima kilometer.
Setiba di atas bukit, Anjar bersama rekan-rekannya mencari lubang sarang. Landak yang merupakan binatang mamalia biasanya bersarang di tempat yang rimbun dengan pepohonan yang jarang dilalui orang.
Lubang sarang landak biasanya sedalam lebih dari lima meter yang dibuat saling sambung menyambung. Untuk mengenali sarang landak, tinggal melihat timbunan tanah yang terdapat lubang. Kandang jebakan pun dipasang. Tidak lupa disiapkan umpan. Setelah jebakan dan umpan dipasang, para pemburu landak harus menjauh dari sarang. Karena landak tidak akan keluar sarang begitu mencium bau manusia.
Malampun tiba. Anjar bersama teman-temannya kembali ke Bukit Jambon. Ternyata upaya anjar bersama teman-temannya tidak sia-sia. Seekor landak terjebak di dalam kandang. Landak ini diperkirakan seberat enam kilogram dan layak untuk dimakan.
Untuk mengeluarkan landak dari kandang jebakan tidak mudah. Karena kalau tidak hati-hati para penangkapnya bisa terkena bulu landak yang berduri tajam.
Setelah landak dipindahkan, kandang jebakan dan umpan kembali dipasang. Siapa tahu malam ini masih ada landak yang terjebak masuk ke kandang. Hasil yang diperoleh pemburu landak tidak menentu. Kalau sedang beruntung, biasanya di dalam satu lubang mereka dapat menangkap hingga 8 ekor landak.
Ya, bagi warga sekitar Tawangmangu, landak kini tidak lagi merupakan hewan yang semata-mata menjadi hama tanaman. Landak juga dapat dijadikan bahan makanan dan komoidi yang laku dijual untuk penghasilan tambahan. (soloraya.com/indahjuli.multiply.com/Bre Suroto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here