Masih banyak cagar budaya di Solo bernasib malang

Benteng Vastenburg yang kerap diributkan pelestariannya bukan satu-satunya bangunan bersejarah Solo yang bernasib malang. Puluhan aset bersejarah lainnya, juga menghadapi kondisi yang tak kalah memilukan.

Bangunan-bangunan yang dulu dibangun dengan cucuran keringat, bahkan dipertahankan dengan darah sehingga menyimpan memori kehidupan masa lalu —termasuk perjuangan kemerdekaan bangsa—itu, kini tak lebih dari bangunan tua yang terabaikan.
Sebagaimana dikutip soloraya.com dari SOLOPOS, salah satunya adalah bangunan bekas Rumah Sakit Kadipolo di Jl dr Radjiman, Panularan, Laweyan. Bangunan ini sesungguhnya tercatat sebagai bangunan bersejarah dalam Surat Keputusan Walikota Solo, namun tak berarti bangunan itu mendapat perlindungan sebagaimana mestinya. Alih-alih mendapat perlindungan, bangunan rumah sakit yang berdiri di tanah seluas 2,5 hektare itu, kini, malah terkesan kumuh.
Bagian depan bangunan bekas rumah sakit itu, kini, digunakan pedagang kaki lima untuk menjajakan barang dagangan mereka. Tidak sulit menelisik bagian dalam bekas bangunan rumah sakit yang didirikan pada masa kekuasaan Paku Buwono X itu, pasalnya meskipun pintu utama gedung itu terkunci rapat namun pintu samping terbuka lebar dan bebas dilalui.
“Gedung ini sudah kosong sejak sekitar 25 tahun lalu. Dulu saya sering mangkal di sekitar sini, tetapi sejak gedung ini kosong maka saya tinggal di gedung ini,” ujar Karno, 78, penjahit keliling yang mangkal di depan gedung eks RS Kadipolo itu.
Konon, gedung yang sempat dijadikan markas klub bola Arseto Solo ini sempat dimiliki Sigit, putra kedua Presiden Soeharto. Meskipun bangunan itu terbilang tua usianya, namun konstruksinya masih sangat kokoh. Sejumlah bangsal dan ruangan masih tampak utuh meski terlihat kumuh. Tak heran banyak pendatang, yang memanfaatkan gedung tua itu sebagai tempat tinggal. “Ada puluhan orang yang tinggal di sini,” kata Karno.

Rusak; Benteng Vastenberg (Foto: TaTv.co.ic)
Rusak; Benteng Vastenberg (Foto: TaTv.co.ic)

Layaknya bangunan tak bertuan, gedung eks RS Kadipolo tak luput dari aksi penjarahan. Menurut Karno, gedung itu dulunya dihiasi jendela-jendela besar dengan kusen yang terbuat dari kayu jati, namun kini telah hilang. Namun nasib RS Kadipolo itu sejatinya lebih baik dibandingkan RS Mangkubumen yang kini rata dengan tanah, berganti dengan bangunan apartemen Solo Paragon.
“Setelah ada kebijakan memindahkan Rumah Sakit Umum Daerah ke Jebres, RS Mangkubumen kosong, tak terawat. Sekarang, sudah terlambat untuk melihatnya, karena gedungnya sudah rata dengan tanah,” kata Sudarmono SU, sejarahwan UNS yang juga warga Mangkubumen.

Terlupakan
Dua bangunan tua itu tak sendirian, penelusuran Espos menemukan masih ada bangunan bersejarah lain yang tak terurus dan terlupakan. Salah satunya adalah monumen perjuangan di Jl Bayangkara, Panularan. Monumen yang dibangun untuk memperingati perundingan case fire antara Indonesia yang diwakili Letkol Slamet Riyadi dengan Belanda itu, tak terurus.
Berdiri di halaman rumah penduduk, monumen ini luput dari perhatian. Pihak Kelurahan setempat bahkan mengaku baru mengetahui keberadaan monumen itu setahun lalu. “Saya baru tahu setahun lalu, sebelumnya masyarakat sekitar tidak pernah menyinggung keberadaan monument itu. Beberapa sesepuh kampung dan LPMK juga tidak tahu soal monumen itu,” ujar Lurah Panularan, Tri Broto WP, di ruang kerjanya.
Ironis, monumen yang juga tercatat dalam SK Walikota No 646/116/1/1997 itu didirikan untuk memperingati perjanjian gencatan senjata dan pengembalian Kota Solo ke tangan RI pascaagresi militer II Belanda, setelah melalui empat hari pertempuran besar yang dikenal sebagai serangan umum Kota Solo. “Perjanjian case fire itu dilakukan di Gedung Pertani di Jl Radjiman, tapi saya tidak tahu ada monumen peringatan case fire di sekitar lokasi itu,” aku Sudarmono.
Gedung tempat penandatangangan perjanjian gencatan senjata itu sendiri, lanjut dia, kini tak lagi bebas dikunjungi lantaran status kepemilikannya sudah beralih ke swasta. Apabila Monumen Perjuangan Panularan terabaikan, nasib Tugu Cembengan di Jebres—tak jauh dari lokasi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ)—jauh lebih mengenaskan. Tak sekadar terlupakan, Tugu Cembengan yang konon dibangun pada masa berkuasanya PB X itu, kini tinggal kenangan, tergusur pelebaran jalan.
Beberapa monumen dan tugu lain yang tercantum dalam SK Walikota seperti Monumen Sondakan dan Pejuang TP juga tak mudah dilacak, sebagian karena telah hilang, sebagian lagi barangkali masih ada namun sulit ditemukan karena nyaris tak ada informasi mengenai keberadaannya.

Baca juga  Uang Merah vs Uang Kiblik dalam Pertempuran 4 Hari Solo

Bangunan bersejarah di Kota Solo

Kompleks kawasan bersejarah
1. Keraton Kasunanan
2. Pura Mangkunegaran
3. Lingkungan Perumahan Baluwarti
4. Lingkungan Perumahan Laweyan

Kelompok bangunan rumah tradisional

1. Dalem Brotodiningratan, Baluwarti
2. Dalem Purwodiningratan, Baluwarti
3. Dalem Sasono Mulyo, Baluwarti
4. Dalem Suryohamijayan, Baluwarti
5. Dalem Mloyosuman, Baluwarti
6. Dalem Ngabean, Baluwarti
7. Dalem Mloyosuman, Baluwarti
8. Dalem Wuryaningratan di Jalan Slamet Riyadi

Kelompok Bangunan

1. Benteng Vastenberg
2. Pasar Harjo Nagoro, Pasar Gede di Jl Urip Sumoharjo
3. Kantor Bank Indonesia
4. Eks Bioskop Fajar disebelah Gedung BNI 46 —sebelumnya adalah lokasi bangunan pergelaran sandiwara yang dulu disebut Scouburg, namun dihancurkan pada tahun 1948
5. Gereja Santo Antonius Purbayan
6. Kantor Pos Solo dulunya merupkan rumah pejabat pemerintah kolonial Belanda
7. Masjid Agung di sebelah barat Alun-alun Utara. Dibangun pada masa PB III mulai tahun 1763 hingga 1768.
8. Masjid Al Wustho Mangkunegaran didirikan atas prakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara I. Dipugar, dan didesain ulang oleh arsitek Thomas Karsten pada masa pemerintahan MangkunagaraVII.
9. Langgar Merdeka Laweyan didirikan tahun 1877 oleh Haji Mashadi lalu diwakafkan kepada warga Laweyan.
10. Masjid Laweyan di Kampung Laweyan
11. Vihara An Po Kiang di Jl Yos Sudarso
12. Vihara Avalokiteswara di Jl Ketandan, di seberang Pasar Gede
13. Gedung Pamardi Putri yang sekarang dimanfaatkan untuk SMK Kasatriyan Solo
14. Bruderan Purbayan, Jl Sugiyopranoto
15. Stasiun Balapan,
16. Stasiun Purwosari
17. Stasiun Jebres
18. Bangunan UPTD Perparkiran, sebelah Pasar Gede
19. Kantor Bondo Lumakso, Baluwarti
20. Bekas Kantor Pertani, Jl dr Radjiman tak jauh dari bundaran Baron
21. Kantor Pengadilan Agama, Jl Slamet Riyadi yang saat ini dimanfaatkan MAN 2
22. Gedung Lawa di Jl Slamet Riyadi, sebelumnya merupakan gedung veteran yang sempat dimiliki keluarga keturunan China, Djian Ho
23. Eks Kantor Kodim, Jl Slamet Riyadi, sebelah Stadion Sriwedari
24. Kantor Brigif 6, kompleks Benteng Vastenberg
25. Balai Soejatmoko, sekarang Toko Buku Gramedia
26. Museum Radya Pustaka, Jl Slamet Riyadi
27. Gedung Batari, di Jl Slamet Riyadi
28. Loji Gandrung, di Jl Slamet Riyadi
29. RS Kadipolo, Jl dr Radjiman
30. Gedung Monumen Pers Nasional, di Jl Gajah Mada

Baca juga  Liping, miniatur unik kehidupan manusia sehari-hari

Tugu dan monumen

1. Gapura Batas Kota (Kleco, Jurug, Grogol)
2. Gapura keraton (Klewer, Gladag, Batangan, Gading)
3. Tugu Lilin
4. Tugu Jam Pasar Gede
5. Tiang lampu di jembatan Pasar Gede
6. Monumen 45 Banjarsari
7. Monumen Bayangkara, Panularan
8. Patung Slamet Riyadi, depan RS Slamet Riyadi
9. Patung Gatot Subroto, halaman Loji Gandrung
10. Patung Ronggowarsito, halaman Museum Radya Pustaka
11. Jembatan Pasar Gede
12. Jembatan Arifin, Jl Arifin

Makam dan Taman
1. Taman Balekambang
2. Taman Banjarsari
3. Taman Jurug
4. Makam Ki Ageng Henis
5. TMP Kusuma Bakti, makam pahlawan di Jl Ir Sutami.

(Dikutip soloraya.com dari Koran SOLOPOS)

1 KOMENTAR

  1. saya kurang setuju kalau bangunan cagar budaya di SOLO terutama jika tidak dilestarikan karena kalau dibiarkan mangkrak tak terurus lama kelamaan akan menghilang dan anak cucu kita nanti akan belajar mengenal SEJARAH dari mana? apa cuma baca buku saja?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here