Mebeler lesung unik karya Tutut Widianto

Meja unik lesung ala Tutut
Meja unik lesung ala Tutut

Lesung di beberapa waktu yang lalu, merupakan salah satu alat produksi utama untuk menghasilkan beras. Ya, lesung memang alat penumbuk padi tradisional yang dibuat dari kayu berbentuk balok persegi dengan panjang kurang lebih 150-225 cm. Pada sisi atas balok dibuat lubang selebar sekitar 20 cm, dengan panjang sekitar 120 cm atau bisa lebih panjang, dengan kedalaman 20 cm atau menyesuaikan kebutuhan. Di dalam lubang inilah padi ditumbuk sehingga terkelupas kulitnya dan dibersihkan sehingga menjadi beras.
Pada salah satu ujung lesung, biasanya dibuat lubang lagi yang berbentuk bulat dan lebih dalam. Lubang di ujung inilah yang disebut lumpang. Kegunaannya adalah sebagai tempat untuk menumbuk biji padi atau jagung dan gaplek (singkong kering) menjadi bubuk tepung. Sedangkan alat untuk penumbuk disebut antan atau alu. Lesung kebanyakan dibuat dari kayu yang keras seperti nangka, jati atau trembesi. Sedangkan antan atau alu dibuat dari jenis kayu lain yang juga keras, seperti kayu mlanding atau petai cina.
mebellesungLesung juga mempunyai fungsi lain. Dalam tradisi Jawa kuno, masyarakat akan ramai-ramai nuthuk lambe atau memukul bibir lesung saat terjadinya gerhana bulan. Dengan nuthuk lambe lesung, berarti mereka tengah memukul mulut Batara Kala, raksasa yang dipercaya sedang memakan rembulan. Tujuan memukul bibir lesung ini supaya bulan tidak jadi dimakan. Selain itu bisa juga diartikan sebagai gertakan terhadap Batara Kala agar memuntahkan kembali bulan yang tengah dilahapnya.
Asal kata lesung sampai sekarang belum dapat diketahui secara jelas. Atiek Soepandi dalam bukunya “Peralatan Hiburan Dan Kesenian Tradisioanal Daerah Jawa Barat” menyatakan lesung di dalam bahasa Sunda adalah Lisung, berasal dari bahasa Kawi Lisu yang artinya wanita, oleh sebab itu lesung diartikan sebagai simbol wanita dan antan atau alu sebagai simbol laki-laki. Pertemuan antara lesung dan alu merupakan lambang kesuburan. Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa kedudukan lesung dengan masyarakat agraris bukan saja berfungsi sebagai alat penumbuk padi, tetapi lesung dan alu juga merupakan lambang kesuburan.
mebellesung2Tetapi di tangan seorang Tutut Widianto, lesung mempunyai fungsi lain karena telah diubah menjadi mebeler, ya perabot rumah tangga. Saat ditemui di Dukuh Tegalan, RT 02 RW IV Desa Kateguhan, Tawangsari, Sukoharjo, Tutut menegaskan keinginannya memanfaatkan lesung menjadi sesuatu yang lain.
“Lesung yang tidak terpakai biasanya digunakan sebagai kayu bakar atau dibuang begitu saja. Rasanya sayang kalau melihat itu. Sampai saat itu belum ada yang memanfaatkan limbah lesung untuk kegunaan lain, semisal sebagai perabot. Inilah yang saya kerjakan sekarang,“ ujar Tutut.

Baca juga  Jagongan Komunitas Online Solo perlu tindak lanjut

Kerusakan menambah unik
Menariknya mebel lesung ala Tutut adalah berbahan dasar lesung bekas yang tidak semata-mata bagus dari strukturnya yang unik, tetapi pada karakter kayunya yang sudah rusak karena termakan usia.
Kesenangan Tutut dimulai dari berburu lesung hingga jauh ke pelosok daerah di wilayah Soloraya, mulai dari Baki Sukoharjo sampai ke Purwantoro, Wonogiri. Ternyata pekerjaan itu bukan hal mudah. “Sudah banyak yang hilang. Semua beralih ke mesin selep (penggilingan) padi. Yang tersisa paling hanya bagian lumpang-nya saja. Atau pun kalau ada banyak, sudah berubah fungsi menjadi alat musik kothekan (perkusi). Bahkan ada lesung yang tidak boleh diambil karena sudah menjadi barang bertuah dan menjadi mitos di salah satu daerah yang saya kunjungi,” tambahnya.
mebellesung3Setelah mendapatkan lesung yang dia cari, Tutut pun mulai merancang sketsa mebel yang akan dibuatnya. Suatu ketika, pada saat merancang sketsa, timbul keinginan untuk menambah unsur logam pada karya tersebut nantinya. Hal itu tidak mengherankan karena dia adalah alumni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo jurusan kriya logam. “Jadi sepertinya tambah artistik jika ada penambahan unsur logam, seperti kuningan misalnya. Sebab kuningan unik dan luwes mengingat sifatnya yang mudah dibentuk. Dengan demikian, perabotan yang saya buat tidak hanya bermanfaat dari segi fungsi, tapi juga indah,“ katanya.
Dalam pengerjaannya, lesung itu dia potong-potong disesuaikan dengan sketsa. Pemotongan selesai, dilanjutkan dengan penyambungan. Penyambungan konstruksi perabot menggunakan sistem sok-sokan yang diperkuat dengan lem dan paku. Setelah bentuk meja, kursi, dan jam duduk selesai, tahap berikutnya adalah persiapan pemasangan elemen logam dan pipa kuningan.
Penambahan elemen logam, selain berfungsi untuk keindahan juga untuk menyatukan dan menyeimbangkan antara kayu (lesung) dan logam kuningan. Namur perubahan yang dia buat sehingga tercipta meja, kursi, dan jam duduk, tidak mengubah total bentuk asal. Artinya bentuk lesung masih terlihat namun bercitra baru karena aplikasi beberapa materi tersebut.
mebellesung4Untuk mengerjakan mebel lesung, diakui memakan waktu relatif lama karena memang sifat pekerjaan dia sekadar samben. “Itu dikarenakan semuanya saya kerjakan sendiri. Dan juga saya sambi dengan pekerjaan lain. Seperti menjadi tim artistik di ISI Solo dan Eksotika Karmawibhangga Indonesia pimpinan Sujiwo Tejo. Kalau tidak, mungkin hanya diperlukan waktu selama tiga bulan saja.”
Perabotan “ciptaanya” diakui mudah dalam perawatan. “Asal tidak terkena panas matahari langsung dan air hujan, perwatannya cukup mudah. Dilap dengan kain flannel saja sudah cukup. Untuk kuningannya bolehlah sekali-sekali dibraso,” kata Tutut.
Mebeler ala Tutut memang terlihat nyaman jika digunakan karena mempertimbangkan pula sisi ergonomi (hubungan manusia dan kerja) dalam materi dan strukturnya. Secara materi, kayu jati yang sudah mengalami tahap akhir (seperti dipelitur) dapat bertahan lama dan kuat. Secara struktur, lubang lesung mempunyai bentuk yang sesuai dengan tubuh manusia jika digunakan untuk alas duduk. Dengan demikian, mebeler ala Tutut bisa memenuhi aspek kenyamanan dan keindahan.
Khusus kursi lesung, perabot ini cocok digunakan untuk duduk-duduk santai berlama-lama dan karenanya memang kurang cocok ditempatkan di ruang rapat ataupun ruang formal lainnya. Dengan demikian, sangat pas dipergunakan di ruang tamu rumah tinggal yang tentunya akan membuat tamu betah berlama-lama. “Lain halnya kalau untuk estetika, mebeler ini cocok dipajang di ruang tamu hotel atau perkantoran,“ kata Tutut mengakhiri percakapan. (soloraya.com/Hendro Prabowo)

Baca juga  Tahun ajaran baru, usaha jahit seragam banjir order

mebellesung5

4 KOMENTAR

  1. terlalu naif kalo aku menyatakan ini biasa2 saja,walaupun lesung sangat akrab dgn profesiku.yang mengagumkan adanya perpaduan beberapa unsur,kayu,logam&kaca. hal ini bisa dikategorikan ‘mix&mad’………..suuuaaalut maz tutut…..berkarya terus…!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here