Sekilas Pringsewu Group

GAZEBO PRINGSEWUBagi orang yang biasa melakukan perjalanan lintas Jawa Barat baik melalui jalur utara maupun selatan, tentu sudah kenal atau setidaknya tahu jaringan rumah makan Pringsewu. Bukan saja karena jumlah restorannya yang banyak dan masing-masing restoran terbilang besar. Melainkan, pengelolanya pun cukup aktif dalam berpromosi dengan membuat papan nama di sepanjang jalan. Pada tiap kilometer di sepanjang 30 km menuju resto, biasanya sudah dijajar papan nama promosi itu.

Grup Pringsewu (GP) terbilang pemain bisnis resto keluarga yang sukses. Perusahaan ini punya 17 resto besar baik dengan merek Pringsewu, Pringgading, maupun Pringjajar. Resto-restonya sanggup menjadi pilihan utama di kedua jalur itu dan tergolong ramai. Tak heran, restoran ini dari tahun ke tahun terus tumbuh. “Per tahun kami canangkan pertumbuhan minimum 20% dan selalu buka gerai baru,” papar Agus Hardiyanto, pendiri dan pemilik GP yang memulai bisnis restonya dari Purwokerto, Jawa Tengah.

Yang menarik, kalau didalami lebih lanjut, pertumbuhan dan bagusnya kinerja jaringan resto ini ternyata bukan semata-mata soal enak-tidaknya menu atau kenyamanan suasana interior dan eksterior di masing-masing gerai. Ternyata kemampuan pemilik perusahaan dalam mengelola karyawan yang kini sudah mencapai 700-an oranglah yang menjadi kunci utama. Diam-diam, GP sudah menerapkan model people management yang levelnya boleh dikata beberapa tahap lebih maju bahkan dibanding perusahaan menengah sekalipun, apalagi dibanding sesama perusahaan daerah dan perusahaan resto.

Manajemen Karyawan

Dalam beberapa tahun terakhir, GP telah membuat sistem tertulis soal people management ini, terutama yang terkait kewajiban perusahaan terhadap para karyawan. Pemilik merumuskan dan membakukan sistem itu ke dalam sebuah buku program yang diberi tajuk Internal Quality Service (IQS). Di dalamnya tertulis dengan gamblang apa saja kewajiban perusahaan untuk pemenuhan kesejahteraan karyawan, dilengkapi petunjuk pelaksanaannya (juklak). Jadi IQS yang dibukukan dengan sampul hijau itu berisi janji (komitmen perusahaan) untuk menjamin kesejahteraan karyawan, termasuk kompensasi dan hak-hak karyawan. Perusahaan mewajibkan dirinya sendiri.

Baca juga  Saat sarung tenun Pasar Kliwon, memasuki masa senja

Sebut saja, di dalamnya diatur komitmen tertulis manajemen GP menyangkut pengupahan. Juga ada pemberian fasilitas lain seperti program bantuan beras, tunjangan layanan, insentif, makan karyawan, makan ekstra, pakaian kerja, tunjangan bantuan pengobatan, bantuan untuk persalinan (melahirkan), kenaikan upah UMR, kenaikan upah prestasi, THR, upah lembur, Jamsostek dan Astek, mes karyawan, tur, dan lain-lain). Termasuk pula terkait kebijakan dan administrasi perusahaan seperti seragam olah raga, cuti (tahunan, hari besar, hamil, dan sebagainya), serta izin meninggalkan pekerjaan. Lalu, terkait hak karyawan di bidang pengembangan prestasi (achievement), dijelaskan kewajiban perusahaan seperti soal pengembangan karier, kelas pelatihan, studi banding, program peningkatan pengetahuan dan pengalaman, program pengembangan kepemimpinan. Ada pula penghargaan perusahaan seperti Best Seller of the Month, Best Cleanest of the Month (untuk karyawan berprestasi), penghargaan masa kerja, dan testimoni. Belum lagi soal hubungan antarkaryawan – contohnya bagaimana kunjungan ke karyawan yang terkena musibah, bantuan/sumbangan sukarela bagi karyawan yang membutuhkan, dan sebagainya.

Tanggal 17 Maret 2009, sebut contoh lagi, seluruh jaringan resto GP tutup (libur) karena karyawan dan keluarganya – lebih dari 1.000 orang – melakukan rekreasi bersama di kawasan wisata Taman Kiai Langgeng, Magelang, Ja-Teng. Kegiatan itu ternyata juga dilakukan demi menjalankan IQS tadi. ”Kami biasanya mencari waktu yang pas agar semua karyawan bisa ikut. Kegiatan ini sangat penting, selain menghibur juga bisa mengakrabkan sesama karyawan dan keluarga,” kata Agus, Direktur Utama GP.

Keberadaan IQS yang terdokumentasi dengan sistematis ini tentu saja menjadi berita bagus bahwa perusahaan di daerah pun – terlebih jaringan resto yang umumnya bergaya warungan – kini melangkah maju dengan menerapkan prinsip manajemen modern. Berbeda dari perusahaan besar yang merumuskan hubungan perusahaan dengan karyawan dalam bentuk Peraturan Perusahaan, ataupun Perjanjian Kerja Bersama, yang biasanya kurang aspiratif terhadap aspirasi karyawan, maka IQS di GP punya sisi terobosan yang lebih menarik.

Baca juga  Menengok keriuhan Pasar Jumat Karanganyar

Sisi menariknya, tentu saja, bahwa program itu muncul bukan karena desakan atau tuntutan karyawan atau Depnaker, melainkan 100% atas inisiatif dan kemauan pemilik perusahaan. Apalagi di grup bisnis resto pada umumnya masih dikelola sangat tradisional di mana penataan organisasi dan sumber daya manusia masih tergantung selera sesaat pemilik – belum ada sistem. Dan rupanya, nilai-nilai dari sistem yang sudah ditulis itu dirintis sejak awal bisnis GP, hanya formulasinya secara tertulis baru sekitar lima tahun terakhir. Penerbitan IQS memiliki masa berlaku tertentu. Selama ini berlaku dua tahun. Setiap dua tahun sekali dievaluasi dengan menyempurnakan berbagai kelemahan yang dirasakan. Yang jelas, secara kuantitas ataupun kualitas diusahakan agar kesejahteraan karyawan terus meningkat seiring pertumbuhan perusahaan.

Tentang pilihan kebijakannya ini, Agus menjelaskan, pihaknya memang berusaha menempatkan karyawan di posisi yang sangat strategis. Ini sebagai upaya nguwongke atau memanusiakan karyawannya. Cara yang logis karena kenyataannya karyawan memang kunci utama di bisnis jasa sebagaimana yang digeluti pihaknya. Agus yakin, bila diberlakukan secara baik dan terpuaskan, dengan sendirinya karyawan akan merasa aman, nyaman dan bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Juga, bangga sebagai karyawan GP. ”Kepuasan dan kebanggaan inilah yang kami harapkan,” ungkap Agus.(gna)

Tulisan terkait:

1. Ulang Tahun di Pringsewu Solo

2. Restoran dengan pelayanan ramah, santun tanpa kepura-puraan.

3. Restotan Pringsewu.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here