Pasar Triwindu: Segala yang Kuno Ada di Sini!

BAGI penggemar barang antik dan kuno, pasar yang satu ini hukumnya wajib untuk dikunjungi. Inilah tempat berkumpulnya barang-barang antik, kuno, dan unik. Barang-barang yang bisa membawa ingatan kita pada cerita masa lalu. Setahun lalu, pasar ini berada di kawasan Pasar Pon. Namun kini untuk sementara dipindah ke bagian belakang kompleks Srwedari, menunggu kepindahannya di Ngarsopuran dalam waktu dekat ini.
Di tempatnya yang sementara, kekhasan pasar ini tak juga hilang. Lorong sempit, kios-kios dengan berbagai macam barang kuno yang berjejal. Pedagangnya duduk di kusrsi kayu, selalu ramah menyapa pengunjung. Berbeda dengan pasar-pasar serupa di kota besar, para penjual tak pernah memaksa pengunjung untuk membeli, atau menguntit saat pengunjung melihat-lihat barang dagangan yang dipajang. Para penjual di pasar ini benar-benar ramah. Berburu barang tua di pasar ini pun menjadi sebuah keasyikan yang menyenangkan. Keramahan khas Solo dari para pedagangnya akan membuat kita betah mondar-mandir di pasar ini. Tawar menawar harga dengan pedagang pun biasanya akan terjadi dengan damnai, tanpa otot-ototan.
Pasar Triwindu, awalnya adalah hadiah ulang tahun yang kedua puluh empat dari GRAy Nurul Khamaril, puteri Mangkunegoro VII, untuk Kota Solo. Selain nama Triwindu (Tri= tiga ; Windu= delapan), pasar ini juga di kenal dengan nama pasar Windu Jenar. Pasar ini termasuk salah satu aset budaya di kota Solo.
Di pasar ini, kita akan dimanjakan dengan beragam barang-barang antik yang dipajang di kios-kios. Mulai dari hiasan pintu sampai patung batu, dari wayang sampai meriam logam, dari radio kuno sampai mesin ketik yang puluhan, bahkan seratusan tahun sudah usianya. Anda juga bisa menemukan setrika arang dengan ciri khas patung jago di ujungnya itu, juga uang-uang logam zaman dulu yang kusam, lalu topeng-topeng kayu, lukisan, lonceng kayu, dan lampu-lampu. Yang jelas, banyak barang tak terduga yang bisa kita jumpai.
Ya, gang demi gang di komplek pasar ini memang dijejali kios-kios yang memamerkan segala bentuk barang antik, baik yang benar-benar antik, maupun barang baru yang sengaja dibuat agar terlihat antik. Perlu ketelitian lebih untuk membedakan keduanya. karena keunikannya, pasar ini telah lama menjadi salah satu trademark kota Solo, bisa dibilang belum komplit dolan ke Solo kalau belum mengunjungi pasar Triwindu.
Tahun ini, Pasar Triwindu akan menempati lokasinya yang baru di kawaan Ngarsopuran, Pemerintah Kota Solo merasa telah menyediakan lokasi baru yang sama sekali berbeda dengan lokasi sebelumnya: lebih bersih, lebih luas, dan semoga saja juga lebih nyaman. Mudah-mudahan orong-lorong sempit di antara kios akan tetap ada, meski kios kayu dan lantai tanah yang eksotik itu tak akan ada lagi, karena tergantikan oleh keramik modern, daun jendela lebar dari kayu yang mempunyai dwi fungsi, baik sebagai penutup jendela dan payon akan digantikan oleh plafon. Semua akan berubah.
Barangkali, cahaya-cahaya terobosan di dalam kios-kios yang menembus atap kayu bolong hanya akan menjadi kenangan para pengunjung setia pasar ini. Modernisasi mau tak mau memang harus terjadi, menggerus suasana pasar zaman dulu. Ya, Pasar Triwindu harus mengalah dan menyerah pada era modernisasi pembangunan kota. Warisan masa lalu akan segera akan terhapus oleh masa depan. Ta[i mudaha-mudahan pasar ini tak hanya menyiosakan nama, tapi juga mengabadikan masa lalu. Sebab, bukankah Solo masa lalu adalah Solo Masa kini? (Ganug Nugroho Adi)

Baca juga  Dhukutan, saat tawuran jadi keharusan

Foto-foto: andiarsi.multiply.com

triwindu6

triwindu1

triwindu5

triwindu4

triwindu7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here