Laweyan, jejak panjang industri batik Solo

laweyan1KAMPUNG Laweyan namanya. Sebuah kampung tradisional yang terletak di sisi selatan Kota Solo, Jawa Tengah. Kampung ini istimewa bukan semata-mata karena merupakan kampung tua yang eksotis, tapi juga karena menyimpan jejak panjang industri batik di Solo. Pada abad ke-19, kampung ini pernah mengalami masa kejayaan sebagai kampung saudagar batik pribumi. Di kawasan itu pula berdiri Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh Samanhudi dan para saudagar batik pribumi, tahun 1912.
Sejak dulu hingga sekarang, hampir seluruh penduduk kampung ini memang berprofesi sebagai produsen sekaligus dan pedagang batik. Menurut Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Fabela Priyatmono, di kampung Laweyan 50 kepala keluarga dari 75 kepala keluarga yang ada adalah pengusaha batik. Sedangkan 25 kepala keluarga lainnya bekerja sebagai buruh batik (pembatik), baik untuk batik cap maupun batik tulis.laweyan2 (alpha fabela)
Batik cap dibuat dengan teknik cap (semacam stempel besar). Pembatik tinggal menekan kuat-kuat cap bermotif batik yang sudah diberi malam (lilin batik) cair, ke atas kain. Sementara untuk batik tulis, si pembatik melukis kain secara manual dengan canting (alat untuk membatik). Lewat dua jenis batik inilah pada masanya dulu, periode tahun 1900 hingga akhir tahun 1970-an, para saudagar (pengusaha) batik pribumi Laweyan mengalami masa kejayaan.
“Sepanjang masa itu, bermunculan juragan-juragan besar yang bergelut di bidang batik,” kata H A Sulaiman, salah satu pengusaha batik di kampung Laweyan.
Dalam buku Mbok Mase, Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20, yang ditulis Soedarmono, sejarawan Universites Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dari kampung kecil itu pula muncul bermacam-macam motif batik yang kemudian dikenal sebagai motif batik Solo, seperti Parang Kusumo, Parang Kembang, Parang Rusak, Parang Barong, Truntum, Srikaton, Satrio Manah, Wahyu Jati, Tejo Kusumo, dan sebagainya (
Namun, sejarah mencatat eksistensi batik di kampung ini berkali-kali dihempas oleh kekuatan luar yang menolak kekuatan ekonomis yang terbangun di sini. Selepas paruh tahun 1970-an, muncul teknologi printing yang menggilas indusrtri batik Laweyan. Tekonologi printing mampu memproduksi batik lebih banyak dan dalam waktu yang relatif singkat, berbeda dengan batik cap dan batik tulis. Lewat teknologi printing, ratusan kodi kain batik bisa diproduksi setiap hari, sementara produsen batik cap hanya mampu memproduksi 20 kodi hingga 30 kodi sehari. Batik tulis lebih celaka lagi, karena memerlukan waktu 2 hingga empat bulan untuk menyelesaikan satu lembar kain batik.
“Keraton juga pernah merebut batik sebagai simbol legitimasi kekuasaan,” tukas Sejarawan Universita ngeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono.
Keraton mengambil alih dan menggunakan batik sebagai status sosial. Misalnya saja munculnya motif Kawung dan Parang yang hanya boleh dikenakan oleh raja. Para bangsawan juga menciptakan motif Wahyu Tumurun, Sidodadi, Sidoluhur, dan motif-motif lainnya.
laweyan4Namun ketika kapitalisme mulai memasuki perkampungan santri ini, batik Laweyan benar-benar tidak berkutik. Kapitalisasi industri batik yang dilakukan oleh Orde Baru dengan mengundang investor asing dan juga menancapkan cakar-cakar kroninya di sekitar Laweyan. Masa keemasan batik kampung Laweyan benar-benar runtuh melawan teknologi batik printing, yang jauh lebih efisien, cepat, berproduksi secara massal, dan murah. Dalam waktu singkat, batik printing mampu menguasai pasar, merontokkan dominasi Mbok Mase (sebutan untuk perempuan saudagar batik di kampung Laweyan). Kejayaan batik Laweyan pun tinggal sejarah.

Baca juga  Sejarah Solo (9): Pembunuhan Di Mana-mana

Wisata Tiga Zaman

Bekas kejayaan para saudagar batik pribumi tempo dulu kampung Laweyan yang biasa disebut gal gendhu, hingga kini masih bisa dilihat. Memasuki kampung Laweyan, kita bisa melihat tembok-tembok tinggi yang menutupi rumah-rumah besar, dengan pintu gerbang yang juga besar dari kayu yang disebut regol. Sepintas tak terlalu menarik, bahkan banyak yang kusam. Tapi begitu regol dibuka, akan terlihat bangunan rumah besar dengan arsitektur yang indah.
Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu ingin menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya. Tentu saja tak semuanya bisa membangun istana yang luas, karena di kanan-kiri rumah mereka adalah lahan tetangga yang juga membangun istananya sendiri-sendiri. Alhasil, perkampungan Laweyan juga dipenuhi dengan berbagai istana mini, dipisahkan tembok-tembok setinggi 3 meter hingga 5 meter, dan menyisakan gang-gang sempit. Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno kampung Laweyan, kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo dulu.
Praktis, selama lebih dari 25 tahun, kampung Laweyan mirip kampung mati. Masa-masa 1970-an hingga tahun 2000, hampir tak ada lagi generasi muda Laweyan yang tetap melanjutkan usaha batik milik keluarganya. Mereka memilih menempuh studi hingga jenjang yang tinggi, merantau, dan bekerja di perusahaan-perusahaan swasta atau instansi pemerintah.
Namun, memori kejayaan kampung Laweyan pada masa lampau tetap saja membuat sebagian kecil generasi muda Laweyan ingin membangkitkan kembali kenangan akan kejayaan itu. Salah satunya adalah Nanik Perditi, seorang generasi penerus batik di Laweyan. Dokter muda ini mencoba menghidupkan kembali batik di kampung Laweyan dengan konsep pariwisata.
“Batik di Solo dapat meraih kejayaannya kembali dengan didorongnya kota ini sebagai kota wisata belanja. Kita bisa belajar dari Pekalongan yang awalnya kurang berkembang, namun sekarang kota itu menjadi salah satu produsen batik terbesar,” kata Nanik.
Ide ini didukung Pemerintah Kota Solo. Hingga akhirnya tahun 2004 lalu kampung Laweyan dicanangkan sebagai “Kampung Wisata Batik”. Bentuk keseriusan pemerintah setempat lainnya, adalah dengan memberikan payung hukum terhadap karya cipta batik. Hingga saat ini setidaknya sudah sebanyak 215 motif batik dari Laweyan sudah dipatenkan melalui Keputusan Dirjen Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan Hak Asazi Manusia Nomor M.01-HC 03.01/1987/tertanggal 24 November 2004.
Kampung ini pun segera berbenah. Dari 8 saudaragar batik yang tersisa pada tahun 2004, kini jumlahnya sudah mencapai 75 pengusaha. Kerja sama antara biro perjalanan wisata dengan pengusaha batik setempat pun mulai berjalan. Kini bahkan banyak wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara berkunjung ke kampung Laweyan untuk menikmati proses pembuatan batik, sekaligus belajar membatik secara langsung.
“Produk unggulan batik di Laweyan nantinya akan menjadi salah satu ikon yang mendukung upaya menjadikan Solo sebagai kota wisata belanja. Kami hanya menghidupkan apa yang sudah ada,” kata Walikota Solo, Joko Widodo.
Salah satu magnet yang ditawarkan kepada para turis, adalah Wisata Tiga Zaman. Zaman pertama adalah Laweyan kuno yang merupakan awal tumbuhnya kampung, kemudian Laweyan periode tahun 1930-an di mana batik saat itu tengah mengalami masa keemasan, dan masa ketiga adalah Laweyan semasa Sarikat Dagang Islam (SDI).
Empat tahun sejak dicanangkan sebagai Kampung Wisata Batik, rumah-rumah industri batik fi kampung Laweyan memang mulai menggeliat. Di sepanjang gang-gang sempit itu. Kini mulai bertumbuhan showroom batik. Industri batik pun berkembang, tak hanya hanya melulu kain batik, baju, tapi juga handicraft, dan souvenir.
Alpha mengungkapkan, kini para pengusaha batik di Laweyan, setiap bulan rata-rata bisa mencapai omset penjualan antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Empat tahun lalu, omset pengusaha yang bertahan menekuni industri batik ini tak sampai Rp 3 juta per bulan.
Industri batik kampung ini juga mulai menyerap lebih dari 750 tenaga kerja sebagai buruh batik, dengan upah antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari.
Kini, kampung Laweyan memang sangat berbeda dengan lima tahun lalu. Rumah-rumah besar yang terkesan kaku dan tertutup itu mulai membuka diri. Setiap kali kita menegok ke dalam, kita bisa melihat sejumlah perempuan yang tengah duduk penuh konsentrasi. Tangan kiri memegang kain yang disampirkan di gantungan, sementara tangan satunya menggoreskan canting, membentuk motif batik. Di sudut lainnya, masih di ruang yang sama, sejumlah lelaki membatik dengan cap. Di Laweyan, pemandangan para pembatik seperti itu kini memang gampang ditemukan. Tidak seperti lima tahun lalu. (Ganug Nugroho Adi)

Baca juga  Solo Batik Fashion digelar malam ini di Ngarsopuro SBF

laweyan3

4 KOMENTAR

  1. semenjak bekunjung ke kampung laweyan sekanan jantung saya terpacu untuk mengetahui lebih dalam tentang kampung warisan budaya, sampai sekarang masih menghasilkan karya yang diakui dunia……

  2. Lorong sempit, dinding menjulang, plester mengelupas…….regol kusam tak pernah terbuka byak!
    Kesan memoar ini jangan sampai musnah
    jejak sejarah laweyan
    yang blm sempat aku masuk
    ke lorong-lorong itu lagi..

  3. […] Laweyan, Solo juga mempunyai Kampung Kauman sebagai pusat produksi batik. Hampir sama dengan Kampung Batik Laweyan, kawasan Kauman mempunyai banyak lorong, gang-gang sempit, dengan tembok menjulang di sepanjang […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here