Jumini mengejar seragam bekas di Gilingan…

LIBUR sekolah berakhir sudah. Biasanya, inilah saatnya bagi para  siswa, baru atau pun lama, memakai seragam baru. Bagi siswa baru, seragam baru ini tentu sebuah kewajiban. Bagi siswa lama, belum  tentu. Tapi jika pun sudah saatnya mengganti seragam, ternyata tak harus dengan membeli yang baru, terutama jika mereka datang dari  keluarga yang pas-pasan. Maka, seragam sekolah bekas pun menjadi pilihan.
“Outlet” panjang itu memang berada di sepanjang sisi Jalan S Parman, Gilingan, banjarsari, Solo. Bisa jadi, inilah rejeki tahunan bagi  belasan pedagang seragam bekas yang berderet di sepanjang sisi jalan dengan arus padat itu. bagi mereka yang tak mampu membeli seragam  sekolah baru, Jalan S Parman adalah pilihan.
Jangan salah. Meski bekas, tapi baju, celana, dan rok seragam di tempat ini masih sangat layak pakai. Meski loak, seragam yang  ditawarkan dari jalan ini bukanlah semacam gombal atau pun kain  dengan ceceran oli, minyak, dan segala yang kotor lainnya. Tidak! Sebab pakaian yang dijual pedagang di tempat ini bahkan masih lebih pantas dari pakaian bekas yang anda sumbangkan untuk korban bencana alam, atau sekadar menumpak di lemari Anda. Dan mereka yang hidup pas-pasan, telah menruh kepercayaan pada pedagang yang berjajar di Jalan S Parman ini. Salah satunya adalah Jumini, Buruh gendong di Pasar Legi.
“Setiap tahun saya selalu membeli baju seragam untuk anak saya di  sini. Meskipun bukan baju baru, tapi masih bagus. Dari pada membeli baju baru yang harganya mahal, mendingan uangnya untuk membeli  kebutuhan lain. Beras, minyak, wong apa-apa sekarang mahal,” kata  Jumini.
Jumini benar. Kemeja, rok, dan celana seragam di sini harganya hanya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu, tergantung ukurannya. Jika  membeli baru, harganya minimal Rp 40 ribu. “Untuk baju anak saya yang naik kelas 4 SD sudah dapat, tinggal beli celananya. habis ini, saya masih muter lagi mencari baju dan rok  untuk Ningsih yang kelas 3 SMP,” ujar Jumini, menyebut anaknya yang nomor satu.
Jumini yang suaminya bekerja sebagai penarik becak, pun mengisahkan  perjuangannya saat mendapatkan baju seragam untuk anaknya. Katanya, “Saya tadi sempat ngos-ngosan mangejar pembeli lain, karena baju yang sudah saya bayar kebawa di tasnya. Untung ibu tadi mengerti. Kalau sampai hilang saya khan rugi. Sudah ya, saya tak  muter lagi mencari seragam untuk anak saya.”
Banyak Jumini
Jumini tak sendiri. Masih ada Marni, pensiunan dinas kesehatan yang memburu seragam bekas untuk cucunya. Ada juga Sularto, Parmin, Markus… yang mengaku terpaksa membeli seragam sekolah untuk anaknya di Gilingan ini, karena tidak mampu membeli baju seragam baru.
“Saat seperti ini, anak saya tidak hanya perlu baju, tapi juga sepatu dan buku-buku. kalau semuanya baru, uangnya tidak ada,” ujar Sularto, tukang sol sepatu di Nusukan.
PKL loak di Jalan S Parman itu rupanya tak hanya membantu mereka yang kondisi keuangannya pas-pasan, untuk mendapatkan baju murah. Pada sisi lain, para pedagang pun ketiban rejeki dengan jumlah pembeli yang  melonjak pada masa menjelang masuk sekolah seperti ini.
“Lumayan, sehari ya bisa menjual 10 sampai 15 pakaian seragam, mulai  baju, rok, dan celana,” kata  Rukmini, salah satu pedagang. Sangat lumayan tepatnya. Sebab pada hari biasa, hampir tak ada baju seragam yang terjual. Pada hari biasa, yang laku adalah kaos, baju-baju  keseharian, atau sesekali jas, yang jumlahnya pun tak lebih dari 5 potong setiap harinya.
“Pokoknya bersyukur saja, Mas. Kadang dapat rejeki, kadang ya tidak.  Tidak usah megeluh, karena semua sudah diatur oleh Yang di Atas,”  tambah Rukmini.
Begitulah. Menjelang awal masuk sekolah, mereka memang mendapat rejeki yang lebih banyak dari hari sebelumnya. Tapi satu pekan ke depan, barangkali, semuanya akan kembali seperti biasa; baju-baju terus menumpuk, digantung, dan orang-orang datang menawar, satu atau dua di antaranya akan membawa pulang setelah menyerahkan uang. Sebab, hanya dengan cara demikian sepanjang jalan S Parman itu pun hidup. (Ganug Nugroho Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here