Dhukutan, saat tawuran jadi keharusan

Kekerasan tidak selalu bermakna negatif. Minimal demikianlah yang berlaku bagi masyarakat Warga Nglurah Tawangmangu, Karanganyar. Kekerasan bagi masyarakat Nglurah merupakan media silaturahmi dan perekat kerukunan masyarakat desa tersebut. Bahkan kekerasan tersebut harus dilaksanakan setiap 8 bulan sekali atau setiap pitung lapan (penanggalan jawa).

Tawuran Dukutan
TAWUR DESA: Sejumlah warga melakukan tawuran menggunakan hasil bumi dalam ritual Dukutan di Situs Candi Menggung, Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar, Jateng. Dukutan adalah tradisi bersih desa turun-temurun yang dilaksanakan setiap Wuku Dhukut pada perhitungan Kalender Jawa atau setiap 210 hari sekali menurut penanggalan Masehi.

Puluhan pemuda dari dua dukuh di Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah terlibat tawuran dalam sebuah ritual bersih desa. Mereka saling pukul serta saling lempar sesajen bahkan diperbolehkan menggunakan kayu ataupun tanah keras . Walau tubuh penuh luka dan bengkak, mereka dilarang marah ataupun menyimpan dendam. Rawuran massal ini adalah satu bagian dari ritual bersih desa untuk membuang energi negatif yang merupakan sumber dari segala kejahatan.
Puluhan pemuda ini saling baku hantam serta saling melempar kayu dan batu. Tak jarang mereka saling mengejar, untuk membalas serangan dari kubu lawan. Beberapa orang sesekali melemparkan batu atau tanah. Mereka juga saling melempar sesaji berikut perkakasnya seperti bamboo, kayu atau apa saja yang ada di dekat mereka.
Walau terlihat mengerikan, tetapi inilha yang harus mereka laksanakan: Tawur dhukutan.
Ritual ini berangkat dari legenda cinta yang sudah ratusan tahun hidup di dusun Nglurah Tawangmangu. Konon dua orang sakti  yaitu Kyai Naratama dan Nyai Rasa Putih terlibat perseteruan di desa ini. Namun, setelah perkelahian demi perkelahian dilakukan, mereka akhirnya malah saling jatuh cinta keduanya akhirnya menikah dan menjadi pepunden dusun Nglurah. Kisah perseteruan inilah yang kemudian menjadi tradisi tawur dhukutan.
Prosesi tawuran ini diawali dengan arak-arakan warga dari dua dukuh, yaitu Nglurah Lor dan Nglurah Kidul yang membawa sesaji menuju makam pepunden yang dikenal sebagai Situs Menggung.
Setelah doa bersama, sesepuh desa membagikan sesaji berupa air suci dan jajan pasar kepada warga  selanjutnya sejumlah warga mengelilingi makam sambil melemparkan sesaji ke puluhan warga yang lain.
ritual kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan puluhan  warga dari Dusun Nglurah Lor dan Nglurah Kidul menuju pepunden di Dusun Nglurah Lor.  Sesampainya di makam, puluhan warga dari dua dusun yang berbeda ini kemudian tawuran. Meski tubuh dan kepala lebam serta bengkak terkena lemparan, namun warga tidak boleh marah dan menyimpan dendam dan langsung pulang ke rumah masing-masing.
Dengan luka dan lebam itulah, warga kedua desa justru semakin akrab dan menyayangi. (soloraya.com/Bre Suroto)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here