Berjo potensi wisata yang belum maksimal tergali

jumogJika Anda melakukan perjalanan wisata ke Grojegan Sewu Tawangmangu, Anda akan menyesal bila tidak sempat mampir ke daerah Berjo Ngarngoyoso. Sebab di sana bertebaran sejulah obyek wisata, antara lain Air Terjun Jumog dan beberapa tempat istirah lain yang bisa menyegarkan fikiran dan badan.
Di sepanjang jalan memasuki perkampungan Desa Berjo terlihat greenhouse sebagai rumah bunga yang tertata rapi dan asri. Dari desa kecil itulah ribuan anthurium tersebar ke berbagai kota di Indonesia. Setelah Anda lelah melihat anthurium, Anda bisa menuju air terjun Jumog untuk sekedar melemaskan urat syaraf setelah dijejali berbagai kesibukan sehari-hari.
Memang orang banyak yang tidak menyangka bahwa Desa Berjo di Kecamatan Ngargoyoso itu memiliki pesona wisata yang eksotik dan juga beragam. Pengunjung dari luar kota, biasanya mengenali Karanganyar dari Candi Sukuh atau Tawangmangu secara keseluruhan. Tapi faktanya, di luar wilayah itu masih banyak terdapat obyek wisata yang terpendam di desa anthurium tersebut.
Selain air terjun Jumog yang pernah sempat menjadi obyek rebutan antara pengembang dengan pemerintahan desa, masih ada Tlogo Madirdo, situs Watu Bonang, Candi Planggatan, Taman Hutan Raya dan juga nantinya akan dikembangkan Kampung Bunga.
Dari semua potensi yang ada itu, saat ini baru Candi Sukuh dan Air Terjun Humog yang bisa dinikmati secara nyaman oleh para wisatawan. Khusus untuk air terjun Jumog pemerintah desa Berjo memenang memberikan perhatian khusus. Sebab, obyek itu sudah menjadi kebanggaan warga Berjo karena obyek wisata ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat desa. “Ini sudah menjadi kebanggaan warga. Dari warga untuk kesejahteraan warga,” jelas Dwi Haryanto, Kades Berjo yang juga petani anthurium tersebut sembaru menambahkan pengelolaan ada di bawah BUMDes (Badan Usaha Masyarakat Desa).
Direktur BUMDes Berjo, Sriyarto, mengatakan sejak BUMDes didirikan, kontribusi ke pemerintah, baik desa maupun kabupaten, sudah relatif banyak. Saat ini mencapai Rp. 200 juta dan dibagi 30:30:40 antara Pemda, Pemdes, dan BUMDes.
“Setelah dikurangi pajak 10%, kita masih mendapat sisa hasil empat puluhan juta dari perbagian,” kata Sriyarto di lokasi air terjun Jumog belum lama ini.
Meskipun demikian diakui bahwa dalam pengelolaan air terjun itu tidak serta merta tanpa kendala. Hal itu berkaitan dengan masih kurangnya sarana dan infrastruktur pendukung mengingat keterbatasan anggaran. Selain itu juga masalah pemasaran yang hingga saat ini belum bisa dilakukan secara baik dan terencana yang menyebabkan Air Terjun Jumog sering kalah pamor disbanding obyek wisata lainnya di kawasan Soloraya. (soloraya.com/bre)

Baca juga  5 Rekomendasi Tempat Wisata di Wonosalam yang Harus Kamu Jajah Segera

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here