Solo Batik Carnival: Bebaskan batik dari belenggu formalitas

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

SBC 2009 (Foto: Kawula Alit/pasarsolo.com)
SBC 2009 (Foto: Kawula Alit/pasarsolo.com)

Solo Batik Carnival (SBC) –digelar pertama kali tahun 2008– agaknya hanya bagian dari cara Solo menuju kota the spirit of java. Agenda besarnya adalah menjadikan Solo bagian dari Kota Kuno Dunia, atau World Heritage Cities (WHC). Sebab, Solo telanjur dikenal sebagai kota yang kental dengan budaya jawa.

Sebagai bagian dari Kota Kuna Dunia, maka Solo mengawali bergerak dan bergabung dengan nagara-negara serupa lain dalam Meeting, Incentive travel, Conference, dan Exhibition (MICE).  MICE adalah kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata, konferensi, pameran bisnis, festival seni dan budaya. Inilah awal mulanyanya, hingga muncul ikon let’s go to Solo: the spirit of java.
Solo Batik Carnival tentu saja adalah bagian dari MICE. Sebab batik telah lama menjadi ikon bagi Solo. Dengan batik, salah satunya, inilah Solo mulai bergerak untuk mencapai ikonnya sebagai kota yang penuh dengan nuansa (budaya) Jawa.

Maka, Solo Batik Carnival pada 13 April 2008 tak boleh putus, sehingga Minggu, 28 Juni 2009 ini Solo Batik Carnival kembali digelar.
Tak hanya batik, Solo Batik Carnival adalah upaya untuk mengangkat pamor Kotya Solo beserta seluruh elemen wisatanya; seni, budaya, kuliner, hingga ke level setinggi-tingginya.

Terlepas dari seperti apa panitia bekerja, namun ikhtiar untuk peduli terhadap khasanah kebudayaan bangsa, kemudian mengenalkan sekaligus memopulerkannya di dunia internasional seperti ini tentu mulia.

Baca juga  Sejarah Solo (7): Sumpah Setia Mas Said

Di dunia internasional, ajang model seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Di dalam negeri, Jember sudah mendahului lewat jember Fashion Carnival-nya. Pada level dunia, Brazil adalah negara pusat karnaval, termasuk yang paling terkenal di Rio de Janeiro.

Jika waktunya tiba, kota terbesar negara Amerika Latin tersebut demikian marak, kota serasa penuh warga yang bergembira, di udara langit penuh taburan kertas warna-warni. Kehadiran penari dengan pakaian minim dan busana yang “mendebarkan” menjadikan karnaval busana di kota ini menarik perhatian dunia.

Rio de Janerio pada akhirnya adalah kiblat bagi pelaksanaan ajang serupa di negara-negara lain.
Di Indonesia, Jember, sebuah kota kecil di Jawa Timur, adalah kota pertama yang mengawali karnaval seperti ini.. Dengan mengacu pada warna lokal, karnaval busana mampu mengangkat nama Jember ke level nasional.

Kota tersebut bahkan menjadi acuan bagi Solo untuk menggelar Solo batik Carnival. Namun karena perbedaan karakter kota, maka Solo berpijak pada ikon kota yang sudah lama ada: batik.

Tema besar inilah yang dibawa Solo, berupa peragaan massal; busana dan budaya, hasil kreasi dari ikon batik.
Pilihan tema, rasanya bukan sekadar untuk menghindar dari kesan duplikasi, tapi agalnya juga karena ingin menonjolkan ikon kota yang dalam hal ini batik. Alasan kedua, adalah semacam upaya untuk membedakan diri dengan karnaval yang sudah ada di kota-kota lain, atau setidaknya tidak sama dengan “pawai pembangunan”.

Baca juga  Kebo Bule Keraton

Alasan berikutnya, karena mengingat Solo selama ini telanjur dikenal sebagai kota penghasil batik. Maka, Solo Batik Carnival pun bisa sebagai penegasan, sekaligus sebagai ruang pamer atau etalase yang menawarkan keunikan batik ke dunia luar.
Konsekuensinya, masyarakat Solo semestinya mulai membebaskan batik dari terali yang selama ini membelenggunya. Sebab, selama ini batik cenderung difungsikan sebagai produk budaya tertentu, sehingga kehadirannya mirip artefak, dan lebih banyak disimpan di lemari sebagai sesuatu yang eksotis, sakral.

Kita lebih sering mengenakan batik pada saat dating ke hajat kawinan, menyambut pejabat, atau karena kewajiban pada hari Jumat. Batik telah terperangkap dalam ruang-ruang formal Jika kita terus memperlakukan batik seperti ini, maka batik sulit berkembang pesat. Batik hanya menjadi benda simpanan, bukan keseharian.
Sudah saatnya batik harus dibumikan. Namun bukan berarti batik harus bertahan pada situasi tradisional. Batik mesti dikreasikan; bahan, desain, dan model. Batik harus bergerak mengikuti aliran zaman. Maka, Solo Batik Carnival mudah-mudahan tak hanya berhenti pada karnaval, pawai, atau arak-arakan.

Sebaliknya, Solo Batik Carnival bisa menjadi media dan ruang untuk ekplorasi dan ekspresi seluas-luasnya atas kain batik (Ganug Nugroho Adi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here