Saat sarung tenun Pasar Kliwon, memasuki masa senja

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

progosirUsia saya sekarang 60 tahun mas, lha wong saya sudah punya delapan cucu dan satu cicit.”

Itulah kalimat yang muncul dari bibir Mbah Tiyem, seorang pekerja di Perusahaan Sarung Tenun milik Faris Sungkar di kawasan Wiropaten Serayu, sekitar Pasar Kliwon Kota Solo.

Saat memasuki sentra industri tersebut, jangan berharap menemukan sekumpulan karyawan yang masih muda, energik, atau setidaknya usia rata-rata mereka dibawah 40 tahun. Tidak akan dijumpai.

Ada lebih 35 karyawan di sentri industri tenun itu. Hampir seluruh karyawan yang bekerja di tempat itu, umurnya sudah lebih dari 50 tahun dengan lama bekerja rata-rata karyawannya sekitar 30 tahun.

Bukan hanya pekerjanya, alat yang digunakan pun tak kalah tua. Lebih dari 60 alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada di sentra industri itu, merupakan alat tenun peninggalan generasi pertama pemilik usaha itu.

Sementara, Faris Sungkar dalam usianya yang menginjak 55 tahun, merupakan generasi ketiga yang meneruskan tongkat estafet industri itu.

Menurut dia, bom waktu keterpurukan usaha kecil yang telah ditekuninya itu, tinggal menunggu waktu, jika lonjakan harga bahan baku dipasaran tidak bisa ditekan.

Dibandingkan dengan produksi yang sudah maju, kapasitas produksi usaha miliknya jelas kalah jauh.

Meski demikian, bicara soal kualitas, hasil yang diproduksinya tidak kalah dengan yang dibuat dengan mesin modern.

Keunggulannya cuma satu, ini masih dibuat dengan tangan, benar-benar hasil kerajinan tangan,” ujarnya kepada Bisnis Indonesia di sentra industrinya, belum lama ini.

Setiap hari volume produksi sarung tenun yang mampu dibuatnya hanya sekitar satu kodi atau 20 potong sarung.

Biaya yang mesti ditanggung untuk pembuatan satu kodi sarung tenun jumlahnya sekitar Rp2,75 juta, dengan harga jual mencapai Rp3,5 juta per kodinya.

Banyaknya tenaga kerja yang telah berusia lanjut, menurut Faris Sungkar bukanlah satu kebetulan, karena merekalah generasi yang saat ini masih mampu mengerjakan produksi kain tenun denga peralatan tradisonal itu.

Dia pernah memberikan kesempatan kepada generasi yang lebih muda untuk bekerja, tetapi dari sisi kualitas hasilnya tidak menggembirakan.

Generasi yang muda kurang tekun membuat tenun, apalagi alat-alatnya masih sangat tradisional seperti ini,” ungkapnya.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, bukan berarti sentra industri tenun ini memiliki akses pasar yang terbatas pula.

Beberapa produksi tenun hasil kreasi eyang-eyang ini sudah mampu berbicara di pasar luar Kota Solo, seperti Surabaya , Bali dan Lombok .

Bahkan, oleh beberapa rekanan, produksi sarung tenun dengan cap Ringgit Mas dan Srikandi itu,  ada yang sampai menembus pasar Timur Tengah seperti Uni Emirate Arab dan Dubai .

Mungkin, yang ditakutkan oleh Faris Sungkar sebagai pemilik produski ini, bukan hanya mahalnya harga bahan baku untuk membuat kain tenun di sentra industrinya, tetapi juga soal keberadaan tenaga kerja yang sudah lanjut usia itu.

Baginya, keluhan soal sakit, kecapekan sudah bukan hal asing lagi. Karena memang faktor usia mereka menentukan produktivitas dan daya tahan.

Tadi ada yang kecapekan, terus tidur. Ya kita mau gimana lagi, maklum aja karena memang usianya sudah bukan lagi usia produktif,” tuturnya.

Jika tongkat generasi pembuat tenun ini terputus, maka sudah dipastikan industri itu pun akan tenggelam dalam keterpurukan. (Stefanus Arief Setiaji)
Foto ilustrasi= progrosir.co.cc

1 KOMENTAR

  1. ralat nama nya bukan Faris Sungkar tapi Farid Sunkar beliau teman saya, dan yang sangat memperhatinkan memang para pekerja yang sudah lanjut usia nya, dan tidak ada regenerasi ini yang sangat disayangkan anak2 muda sekarang tidak ada semangat untuk melanjutkan belajar menenun. Dari kwalitas sarung tenun yang di produksi sangat bagus dan pasar di Suadi dan Uni Emirate Arab, apalagi ini sarung masuk dalam kata gori hand made bukan pabrik jadi mempunyai nilai tersendiri.
    Semoga pemerintah dapat membantu usaha usaha tradisional untuk dapat tetap exis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here