10 Kegiatan Budaya yang Rutin Digelar di Kraton Surakarta


  1. Foto-lama-aktivitas-Kraton-Surakarta-jaman-dulu-11Kirab Malam 1 Sura
    Merupakan kirab pusaka dengan cucuk lampah kerbau bule keturunan Kiai Slamet. Setiap tahunnya, jumlah dan jenis pusaka yang dikirab berbeda sesuai perintah Paku Buwono XII. Biasanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat yang terjadi. Kirab dilangsungkan tepat pada malam pergantian Tahun Baru Jawa yang biasanya bersamaan dengan Tahun Baru Islam.
  2. Sekaten Perayaan tersebut digelar menjelang peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan diisi dengan penabuhan dua gamelan, masing-masing gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur sari bertempat di Bangsal Pradangga di Kompleks Mesjid Agung.
  3. Gerebeg Mulud Setelah sepekan kedua gamelan ditabuh, perayaan Sekaten ditutup dengan dikeluarkannya pasangan gunungan, yakni gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan esteri (perempuan). Sesudah didoakan di Masjid Agung, kedua gunungan tersebut dibagikan kepada masyarakat.
  4. Malem Selikuran Malem Selikuran digelar dalam rangka memperingati turunnya lailatul qadar, yakni malam-malam di Bulan Ramadhan yang lebih baik daripada seribu bulan. Malem Selikuran dipusatkan di Taman Sriwedari setelah lebih dulu dilakukan arak-arakan dari Keraton Kasunanan “‘ menuju Sriwedari. Arak-arakan tersebut membawa lampu minyak yang disebut lampu ting.
  5. Gerebeg Pasa Gerebeg sebagai pertanda berakhirnya Bulan Suci Ramadhan dan dikeluarkan pada 1  Syawal kalender Jawa.
  6. Gerebeg Besar Gerebeg Besar dikeluarkan setiap tanggal 10 Zulhijjah atau 10 Besar bersamaan dengan peringatan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Haji.
  7. Wiyosan jumenengandalem Merupakan peringatan upacara ulang tahun kenaikan tahta raja yang berkuasa, berlangsung di Sasana Sewaka. Dalam jumenengandalem ini, ditampilkan tari Bedaya Ketawang, sebuah legenda yang menggambarkan hubungan percintaan raja di Keraton Kasunanan dengan Kangjeng Ratu Kidul.
  8. Sesaji Mahesa Lawung Sesaji Mahesa Lawung dilakukan untuk membangun kekuatan spiritual Keraton. Sesaji ini dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis terakhir pada Bulan Rabiul Akhir di Hutan Krendhawahana, sekitar 20 kilometer sebelah utara Solo.
  9. Labuhan ke Laut Selatan Pada momentum tertentu, Keraton juga secara rutin mengadakan labuhan ke Laut Selatan. Sesaji dilabuh ke Laut Selatan yang diyakini tempat tinggal Kangjeng Ratu Kidul.
  10. Tahun Dal Upacara Tahun Dal berlangsung delapan tahun sekali bertempat di Gandarasan. Ritual ini diisi dengan kegiatan menanak nasi yang dilakukan oleh raja dengan menggunakan dandang Kiai Duda, yakni pusaka peninggalan Joko Tarub, serta periuk Nyai Rejeki. Beras yang dipakai berkua-litas nomor satu (raja lele) dan harus utuh. Selama menanak, seluruh abdi dalem tidak henti-hentinya mengucapkan bacaan shalawat Nabi.
Baca juga  Ulang tahun di Pringsewu Solo

Di luar upacara-upacara adat itu, Keraton Kasunanan juga pernah meminjamkan beberapa aset bangunan untuk dimanfaatkan berbagai keperluan, seperti pekapalan-pekapalan di sekeliling Alun-alun Utara kepada instansi pemerintah, Pagelaran untuk Universitas Negeri Surakarta (sekarang Universitas Sebelas Maret), dan lain-lain. Dalam beberapa kali Keraton juga mengirimkan duta-duta kesenian ke sejumlah negara yang mampu membawa harum bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here