Endah Laras: Dari Keroncong ke Film

Endah Laras: Dari Keroncong ke Film Banyak sebutan untuk Endah Laras: penyanyi keroncong, campursari, dan pesinden. Semuanya bisa dilakukan dengan sangat baik. Ia bahkan menguasai beberapa alat musik seperti gamelan, gitar, ukulele, dan piano. Ia pun pintar menari, terutama tari Jawa Klasik.
Endah Laras Kabarsoloraya.com
Lahir dari keluarga seniman, Endah sudah akrab dengan dunia tembang dan tari sejak kecil. Ayahnya, Sri Djoko Raharjo, seorang dalang ternama yang mengenalkannya pada kesenian tradisional. Dan ibunya, Sri Maryati yang pesinden, tak hanya mengajari tembang-tembang Jawa, tetapi juga tari.
“Dari umur 4 tahun saya sudah belajar tari Jawa, tembang, wayang, dan gamelan. Tanpa saya sadari, semua itu membentuk saya seperti sekarang ini. Itulah akar akar saya berkesenian,” kata perempuan kelahiran Solo, 3 Agustus 1976.
Namun, keasyikannya berkesenian di masa kecil ini terhenti ketika ia lulus Sekolah Dasar (SD). Kedua orang tuanya bercerai. Endah dan tiga adiknya ikut sang ayah ke Jakarta yang menikah lagi dengan Colleen Eanychase.
“Di Jakarta, saya sibuk dengan les matematika, bahasa Inggris, dan mengikuti ekstra kulikuler sekolah. Pokoknya hanya sekolah dan sekolah. Sebagai anak pertama, saya juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, seterika. Mama Colleen mengajari saya mandiri. Dialah yang mebntuk jwa saya dan adik-adik,” kenang Endah.
Perempuan bertubuh tambun ini kembali mengenal kesenian ketika masuk kelompok paduan suara di sekolahnya, SMA Negeri 101 Joglo Kembangan, Jakarta Barat.
“Pak Sitorus, guru vokal waktu SMA, berperan besar dalam membentuk warna vokal saya. Dari Pak Sitorus saya bisa menguasai suara faset, suara satu, dua dan tiga,” kata dia.
Namun, karir Endah sebagai penyanyi professional justru dimulai ketika ia kembali ke Solo tahun 1995, selepas lulus SMA. Seorang tetangganya terpikat ketika mendengar Endah rengeng-rengeng (berdendang dengan suara pelan).
“Setiap sore saya memang biasa rengeng-rengeng. Kadang mendendangkan lagu keroncong, kadang nembang Jawa. Sampai sekarang, kebiasaan itu masih saya lakukan,” ujar perempuan bernama asli Endah Sri Murwani ini.
Mendengar suara Endah, si tetangga langsung memintanya untuk tampil menyanyi dalam hajatan sunatan anaknya.
“Saya minder karena tidak banyak lagu keroncong yang saya hapal. Apalagi waktu itu yang akan menjadi pengiringnya adalah Purnama Karya, sebuah orkes keroncong yang sudah punya nama di wilayah Surakarta. Karena didesak terus-menerus, akhirnya saya mau juga,” tutur ibu satu anak ini.
Barangkali itulah jalan Tuhan. Sejak penampilannya di hajatan itu, OK Purnama Karya justru memintanya menjadi penyanyi tetap. Alhasil, jadilah Endah Laras penyanyi keroncong profesional. Bersama OK Purnama Karya, dia manggung dari satu hajatan ke hajatan lain. Tak hanya di Solo, tapi juga Wonogiri, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Sragen dan Karanganyar.
“Kadang sampai Yogyakarta, Semarang, Pekalongan. Pernah sebulan saya dapat tanggapan (undangan pentas) sampai 25 kali. Sampai badan saya tak berbentuk. Ha ha ha…” ujar kakak kandung pesinden kontemporer Sruti Respati ini.
Di Solo, Endah banyak belajar pada maestro keroncong Gesang, Anjar Any (keduanya almarhum) dan Waldjinah. Ia juga kembali mendalami gamelan dan gitar yang beberapa tahun sebelumnya sempat dipelajarinya. Tahun 1996, ia kuliah di jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (sekarang ISI), namun tidak selesai.
“Terlalu banyak tanggapan, sehingga saya tidak bisa fokus. Akhirnya kuliah terbengkelai,” kata istri dari Bambang Seno Birowo, seorang anggota DPRD Klaten.
Suaranya yang jernih, utuh dengan cengkok yang panjang menarik perhatian beberapa dalang kondang, seperti Ki Enthus Susmono dan Slamet Gundono.
“Saya 6 tahun ikut Ki Enthus. Dia tidak hanya memberi banyak ilmu, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri. Saya bersyukur bisa bertemu dan berkolaborasi dengannya,” ujar Endah di rumahnya, Gentan, Sukoharjo.
Tahun 2009, bersama Ki Enthus Susmono, Endah Laras terlibat dalam pentas Wayang Superstar “Dewa Ruci” di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda, Les Orientales Festival de Saint-Florent-Le-Vieil, Perancis, dan The 13th Suwon Hwaseons Fortress Theater Festival, Korea. Di Negara Korea pula ia berkolaborasi dengan koreografer Mugiono Kasido dan musisi Dedek Wahyudi dalam pentas keliling di Ronnarong Khampha, Thitipol Kanteewong, tahun 2010-2011.
Sebelumnya, perempuan yang pernah juara III Bahana Suara Pelajar (sebuah kompetisi menyanyi untuk pelajar) tahun 1994 ini tampil dalam pertunjukan “Semar Meteng” bersama Slamet Gundono di Galeri Nasional Jakarta dan di Solo International Performing Arts (SIPA). Tahun 2010 lalu, ia bahkan diminta secara khusus oleh dalang Wayang Kancil legendaries, Ki Ledjar Soebroto (Yogyakarta), untuk terlibat dalam pertunjukan “Opera Wayang Dongeng Kancil“ di Jakarta.
“Saya itu mirip bunglon. Kalau pas ada tawaran keroncong, saya menjadi penyanyi keroncong. Kalau bersama dalang, saya menjadi sinden, juga penyanyi campursari. Tergantung permintaan,” tutur perempuan yang pernah meraih penghargaan sebagai konduktor paduan suara tebaik ketika SMA.
Kesenian tradisi memang bukan dunia baru bagi Endah Laras. Hanya dengan mendengar dua atau tiga kali, ia bisa memainkan alat musik, menguasi cengkok, serta menghapal gerakan tari Jawa klasik. Kelebihan itulah yang membuat sineas Garin Nugroho mengajaknya bergabung dalam garapan besar “Opera Jawa” yang dipentaskan di Solo, Yogyakarta, Jakarta, Belanda dan Paris.
Ia kembali terlibat bersama Garin Nugroho, kali ini dalam film “Soegijopranoto” yang syutingnya akan dimulai pertengahan November di Yogyakarta dan Semarang.
“Saya berperan pemilik losmen tempat menginap wartawan asing yang sedang meliput Agresi Belanda II tahun 1949. Dalam peran itu, saya menghibur para tamu dengan nembang. Wah, sulitnya minta ampun karena lagunya berbahasa Belanda semua. Ha ha ha,” kata Endah yang beberapa waktu lalu terlibat dalam konser “Tribute To Franky Sahilatua” di Jakarta.
Masih dalam bulan November, Endah Laras juga akan pentas dalam Festival Kesenian Surabaya. Ia akan menyanyikan tembang-tembang Jawa sambil memainkan ukulele, berkolaborasi dengan anak tunggalnya, Elvira Dyah Hutari, yang bermain piano.
“Ukulele ini baru saya pelajari sekitar setahun lalu, di sela-sela latihan pentas Opera Jawa. Sekarang, gitar kecil ini tidak bisa lepas dari saya,” kata perempuan yang pernah terlibat dalam menggarap musikalisasi puisi-puisi penyair Wied Sendjayani.
Penampilannya di Festival Keroncong Solo awal Oktober lalu memukau banyak orang. Melihat kemampuan olah vokal yang dimiliki Endah, Ratu Keroncong Waldjinah bahkan sempat menyebutnya sebagai penerus generasi keroncong di Solo.
“Sebutan itu terlalu berat untuk saya. Dibanding Bu Waldjinah, saya belum apa-apa. Saya hanya berusaha tampil sebaik-baiknya,” ujar perempuan yang telah mengeluarkan belasan album keroncong, campursari dan tembang Jawa bersama beberapa penyanyi dan musisi ternama, seperti Mus Mulyadi, Manthou’s dan Cak Dikin.(Ganug Nugroho Adi)



Kategori:Sosok, Kisah & Kiprah

Tag:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 53.875 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: