Khataman Alquran, Tradisi Suci di Bulan Suci

TADARUSAN-Sejumlah santri mengikuti kegiatan tadarus Alquran dengan penerangan lampu minyak di Pondok Pesantren Zulfikar Mojolaban, Sukoharjo. Efek temaram dari lampu minyak diharapkan dapat lebih mendekatkan para santri kepada Allah SWT.

TADARUSAN-Sejumlah santri mengikuti kegiatan tadarus Alquran dengan penerangan lampu minyak di Pondok Pesantren Zulfikar Mojolaban, Sukoharjo. Efek temaram dari lampu minyak diharapkan dapat lebih mendekatkan para santri kepada Allah SWT. Foto: Sri Nugroho

SELAIN shalat malam, salah satu tradisi selama bulan Ramadan adalah tadarus atau membaca kitab suci Alquran. Bukan sekadar  membaca satu atau dua surat, tetapi sekaligus menamatkan Alquran yang terdiri dari dari 30 juz, dari ayat pertama hingga tamat (khatam).  Juz adalah bagian atau susunan dalam Alquran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat. Kegiatan membaca Alquran hingga tamat inilah yang dikenal dengan nama khataman.

Mereka yang baru bisa membaca Alquran, biasanya akan khatam Alquran pada malam terakhir puasa. Namun bagi para santri yang  sudah terbiasa membaca Alquran, sepanjang bulan Ramadan bisa membaca tamat sebanyak dua hingga tiga kali. Pada malam-malam selama Ramadan, setiap masjid, musola, pondok-pondok pesantren, serta kelompok-kelompok pengajian akan melaksanakan tradisi membaca Alquran ini dengan berbagai cara. Ada yang memulai khataman sehabis shalat tarawih selama dua sampai tiga jam, ada pula yang melaksanakan setiap selesai waktu shalat wajib. Dengan cara yang berbeda-beda seperti ini, maka  waktu khatam atau tamatnya pun beragam. Ada yang tujuh hari sudah khatam, dua minggu,  atau sebulan penuh selama bulan puasa.

“Kalau di pondok ini, para santri kami bnebaskan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tapi sebelum tanggal 17 Ramadan harus sudah khatam, karena pada malam tanggal 17 Ramadhan itu kami secara bersama-sama membaca Alquran, sekaligus  memperingati Nuzulul Quran,” kata Dian Nafi, pengasuh Ponpes Al Muayat, Windan, Makamhaji, Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah.

Dian menambahkan tradisi khataman Alquran sudah lekat di hati umat Islam, sehingga semua masjid dan mushala di manapun melaksanakan acara khataman  meski bentuk acaranya berbeda. Di Ponpes Al Muayat sendiri, lanjut dia, tradisi khataman Alquran sudah dimulai sejak ponpes didirikan puluhan tahun silam. Pondok pesantren tradisional Condrodimuko di Desa Mojolaban, Sukoharjo, pun mempunyai cara unik dalam melakukan tradisi khataman Alquran. Dengan  penerangan lampu teplok, setiap malam sekitar 200 santri pondok melakukan tadarus. Di bawah penerangan lampu yang sederhana, para santri terlihat khusuk dan kidmat melantunkan ayat-ayat suci Alquran.

“Setiap malam ponpes kami melakukan tadarus bersama, sehingga bisa saling koreksi. Dalam seminggu para santri sudah harus khatam, kemudian minggu berikutnya dilanjutkan putaran kedua hingga bulan puasa selesai. Tujuan tadarus ini tidak lain adalah mencari ridhlo Allah,” kata Ustad Agung Syuhada, pimpinan ponpes.

Di Ponpes Condrodimuko, kegiatan khataman dimulai selepas shalat tarawih hingga tengah malam. Setelah istirahat beberapa jam, para santri akan melanjutkan membaca Alquran seusai sholat subuh sekitar hingga sekitar pukul 06.00 pagi. Mereka akan kembali membaca Alquran setiap menjelang waktu shalat lima waktu.

Tidak hanya di ponpes, masjid-masjid tua di Solo, Jawa Tengah,  juga menggelar tradisi khataman Alquran sepanjang Ramadan. Antara lain di Masjid Agung Kasunanan Surakarta di Alun-alun Utara, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Masjid Laweyan, dan

Pada setiap malam sepanjang Ramadan, mulai malam pertama hingga terakhir, masjid-masjid tua ini selalu dipadati jamaah. Acara khataman biasanya dimulai selepas shalat tarawih. Namun banyak dari mereka yang datang sejak sebelum waktu berbuka puasa. Tradisi khataman biasanya memang dimulai dengan berbuka puasa bersama, dilanjutkan dengan shalat Magrib, Isya, tarawih hingga akhirnya kahataman.

Di Masjid Laweyan yang yang konon merupakan masjid peninggalan Kerajaan Pajang,  para jamaah duduk berkelompok terdiri dari empat atau lima orang, kemudian dipimpin pengurus takmir masjid mereka mulai membaca Alquran secara bersama-sama. Di banding masjid-masjid tua lain di Solo, jumlah peserta khataman di Masjid Laweyan memang lebih sedikit, karena  bangunan masjid masjid tergolong kecil. Khataman di masjid ini pun lebih  dikhususkan untuk santri baru atau mereka yang sama sekali belum pernah tamat membaca Alquran. Dalam sebulan penuh selama Ramadhan itulah para santri setiap malam tadarus hingga tamat.

MALAM SELIKURAN-Rombongan kirab Malam Selikuran berjalan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Sriwedari, Solo, Kamis (10/9). Sesampainya di Joglo Sriwedari, tumpeng yang dibawa selama kirab diperebutkan ratusan warga. Espos/Agoes Rudianto

MALAM SELIKURAN-Rombongan kirab Malam Selikuran berjalan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Sriwedari, Solo, Kamis (10/9). Sesampainya di Joglo Sriwedari, tumpeng yang dibawa selama kirab diperebutkan ratusan warga. Espos/Agoes Rudianto

“Setiap bulan puasa kami bisa mengantarkan 20 sampai 30 santri khatam Alquran. Memang tidak banyak, tapi itu selalu rutin kami lakukan dalam 10 tahun terakhir ini,” ujar Muhammad Iqbal, seorang pengurus takmir Masjid Laweyan.

Keramaian masjid-masjid oleh khataman semakin terlihat ketika puasa sudah melewati hari kesepuluh, terutama pada malam-malam ganjil. Pada malam ke-17, Masjid Agung Kasunanan Surakarta dan Masjid Al Wustho Mangkunegaran menggelar acara khataman secara besar-besaran.

“Membaca Alquran itu ibadah. Pahalanya akan berlipat-lipat kalau  kita membacanya pada bulan puasa, terutama pada malam-malam ganjil,” kata Ketua Takmir Masjid Al Wustho Muhammad Toha Mustafa.

Kenapa malam ganjil? Karena pada malam-malam ganjillah Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam masa sepanjang 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Maka, lanjut Mohammad Toha, umat Islam yang melakukan ibadah dengan khusuk pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan, pahalanya melebihi 1000 bulan.

Di Masjid Agung Keraton Surakarta, keramaian mulai terlihat selepas puasa hari ke-10. Pada malam-malam ganjil di sepertiga bulan Ramadan, jamaah berdatangan memadati masjid. Adakalanya jamaah sampai meluber hingga ke bagian serambi.

Pada malam selikuran atau puasa malam ke-21 tampaknya lebih istimewa di bandingkan malam-malam ganjil lain. Sebab pada malam itu  Masjid Agung tidak hanya menyelenggarakan khataman semalam suntuk. Bersama Keraton Kasunanan Surakarta, masjid tua peninggalan Paku Buwono (PB) X tersebut menggelar ritual  “Ting Hik”, yaitu sebuah ritual untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.

Ritual ini berupa arak-arakan lampu ting atau lampu teplok, dari halaman keraton menuju Taman Sriwedari. Selepas shalat tarawih, ratusan lampu ting dibawa para keluarga keraton dan  abdi dalem dengan kawalan prajurit keraton.  Sambil mengusung sesaji, mereka berjalan kaki sekitar 2 kilometer.  Di Pendopo Taman Sri Wedari, peserta kirab berkumpul bersama ratusan warga yang sudah menunggunya. Selanjutnya mereka melakukan doa bersama sekaligus memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua kesalahan dan dosa.

SOLO, 18/8 - MENGAJI. Seorang pedagang membaca Al-Qur'an di Pasar Klewer, Solo, Jateng, Rabu (18/8). Umat muslim meningkatkan berbagai bentuk ibadah seperti membaca Al-Qur'an, melakukan berbagai solat sunah dan kegiatan sosial sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan puasa Ramadhan. Foto ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/10

SOLO, 18/8 – MENGAJI. Seorang pedagang membaca Al-Qur’an di Pasar Klewer, Solo, Jateng, Rabu (18/8). Umat muslim meningkatkan berbagai bentuk ibadah seperti membaca Al-Qur’an, melakukan berbagai solat sunah dan kegiatan sosial sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan puasa Ramadhan. Foto ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/10

“Ritual ini merupakan tradisi keraton untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Ratusan lampu ting yang dikirab ini merupakan simbol cahaya 1000 bulan yang selalu datang setiap tanggal ganjil bulan ramadhan puasa, khususnya 10 hari terakhir bulan ramadhan,” kata KRTA Winarno Kusumo, seorang kerabat keraton.

Ritual “Ting Hik” ini diakhiri dengan ratusan warga yang berebut nasi tumpeng berikut lauknya.  Namun selepas ritual bukan berarti  acara khataman berhenti. Sebab sekembalinya dari Taman Sriwedari, mereka akan menuju Masjid Agung dan memulai khataman hingga waktu shalat Subuh tiba yang tentu saja diselingi rehat untuk sahur.

“Bulan puasa harus diisi dengan amalan-amalan baik agar ibadah puasa kita tidak percuma. Sebab hanya mereka yang melakukan tarawih, membaca Aquran, dan amalan-amalan baik lainnya yang akan mendapatkan Lailatul Qadar,” jelas Dian Nafi. (Ganug Nugroho Adi)



Kategori:GAYA HIDIUP

Tag:,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 53.864 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: