Nyadran, Ritual Bersih Diri Menjelang Ramadhan

Monggo, monggo, mampir dulu. Silakan makan. Monggo, mas, mbak, jangan sungkan-sungkan…” undangan ramah mengajak singgah ke rumah dan menyatap hidangan akan itu terdengar tak putus-putus datang dari setiap rumah di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.  Bukan undangan basa-basi, tetapi benar-benar ajakan yang penuh harap dari warga desa.

Keramahan seperti itulah yang diberikan warga desa di lereng Gunung Merbabu-Merapi dalam sepekan belakangan ini sejak Rabu (28/7) lalu. Bisa dipastikan, hampir semua warga desa akan mempersilakan setiap orang yang datang ke desa mereka untuk singgah ke rumah dan menikmati hidangan. Yang menarik, menu yang ditawarkan bukanlah menu seadanya. Menu makan besarnya malah tergolong mewah, yaitu terdiri dari berbagai masakan daging sapi, opor ayam, lontong, nasi tumpeng berikut hidangan pelengkap seperti jajanan dan buah-buahan. Dalam sepekan itu, warga Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, memang  sedang mempunyai hajatan. Keramahan warga tersebut merupakan bagian dari tradisi sadranan atau nyadran, sebuah ritual yang digelar menjelang datangnya bulan Ramadhan.  Tak hanya Desa Sukabumi sebenarnya, tetapi juga lima desa lain di Kecamatan Cepogo, yaitu Desa Sambungrejo, Desa Clolo, Desa Ngepos, Desa Ngluntung dan Desa Bendosari pun menggelar ritual yang sama. Sebab para leluhur dari keenam desa itu dimakamkan di makam yang sama.

nyadran

Tradisi nyadran atau sadranan yang juga berarti membersihkan tempat makam sekaligus mengirim doa untuk leluhur setiap bulan Ruwah (kalender Jawa) atau Syaban dalam kalender Hijriyah, adalah sedikit dari budaya masyarakat Jawa yang masih berlangsung. Kata Ruwah sendiri memiliki akar kata “arwah”, atau roh para leluhur. Konon dari arti kata arwah itulah yang menjadikan bulan  Ruwah sebagai bulan untuk mengenang sekaligus mendoakan para leluhur.

Di Kecamatan Cepogo tradisi nyadran ini memang sedikit unik. Tidak hanya membersihkan makam dan mendoakan leluhur, dalam tradisi yang sudah berlangsung turun temurun ini warga juga saling bersilaturahmi. Bulan Ruwah bahkan dianggap sebagai salah satu hari besar bagi masyarakat Cepogo dan desa-desa sekitarnya di lereng Gunung Merbabu-Merapi. Sebab justru saat  ruwahan (Ruwah) itulah sebagian besar warga Cepogo yang berada di rantau mudik. Maka tak mengherankan jika nyadran di kawasan Cepogo akan terasa lebih sakral dan meriah dibandingkan Hari Raya Idul Fitri  sendiri.

“Lebaran masih kalah ramai. Biasanya warga di sini mudik  pada saat nyadran. Tidak banyak warga Cepogo yang mudik saat lebaran,” kata Sukarman, seorang tokoh Desa Sukabumi.

Makanan pun melimpah. Hampir setiap rumah di Cepogo menyediakan hidangan untuk para tamu. Mereka yang datang ke desa-desa di Cepogo pun “wajib” singgah ke rumah-rumah warga dan  mencicipi hidangan. Bayangkan, jika dalam sehari seorang tamu bertandang ke  10 rumah, berarti mereka “harus” makan sebanyak 10 kali. Konon jika sang tamu menolak singgah dan makan, berkah dan rezeki akan menjauh darinya.

“Selama sepekan masa nyadran, setiap rumah di desa ini biasanya kedatangan sekitar 1.000 tamu. Jumlah makanan ya banyak sekali, pokoknya sampai melimpah-ruah,” ujar Kepala Desa Sukabumi, Abdul Rosyid.

Rosyid menambahkan tidak ada warga yang merasa terpaksa dalam menjamu para tamu. Sebab warga meyakini semakin banyak tamu yang menyantap hidangan yang mereka suguhkan, maka makin berlimpah pula rezeki si tuan rumah.

Saat nyadran seperti ini, tak hanya orang muda yang mendatangi orang tua, namun para orang tua pun banyak yang bertamu ke keluarga muda. Bahkan para juragan (pengusaha) bias dengan ikhlas mendatangi anak buahnya. Warga saling berkunjung tanpa membedakan status dan jabatan.

Dalam sepekan itu pula, di sela-sela bersilaturahmi, masyarakat Cepogo melaksanakan ziarah ke makam leluhur. Namun puncak dari sadranan dilakukan dua hari menjelang bulan puasa, yaitu Minggu (8/10), setelah malam sebelumnya  warga menggelar tahlilan. Pada hari itu, ratusan warga berkumpul di sekitar Makam Tunggulsari, sambil membawa aneka makanan, seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, dan aneka jajanan dalam tenong-tenong besar. Di Makam Tunggulsari itulah terbaring  Kyai Bonggoljati dan Kyai Soyudha yang merupakan makam leluhur warga enam desa di Kecamatan Cepogo.

Mereka kembali membaca tahlil dan berdoa bersama, sebelum akhirnya ritual nyadran ditutup dengan warga yang saling menukarkan makanan, kemudian menyantapnya bersama di sekitar makam.

Menurut juru kunci makam, Sumahdi, masyarakat mendoakan dan memintakan maaf kepada Tuhan atas doa-dosa leluhur desa serta sanak keluarga yang sudah meninggal. Mereka juga memohon maaf, mengucapkan syukur, dan berdoa untuk diri sendiri dan keluarga yang masih hidup. “Sebelum menjalankan ibadah puasa kita harus bersih dan membersihkan keluarga yang sudah meninggal, agar ibadah lancar. Itu sebenarnya inti dari ruwahan atau nyadran,” kata juru kunci makam, Sumahdi.

Tradisi Padusan

Tapi rangkaian ritual sadranan belum sepenuhnya selesai. Seusai tradisi ziarah, tepat sehari sehari sebelum memasuki bulan puasa masyarakat melakukan ritual padusan. Di Desa Samiran, Selo, Boyolali, ritual nyadran  merupakan puncak sekaligus penutup sadranan. Seperti dalam nyadran, warga pun  menyiapkan aneka sesaji berupa nasi tumpeng dan hasil bumi dalam ritual padusan ini. Aneka sesaji itu diarak menuju Sendang Kali Gono untuk dipersembahkan ke penguasa gaib yang bernama Mbah Gono. Di Desa Sammiran, pengaruh animisme dan mistik memang masih kental.

Foto-foto: Sri Nugroho

Uniknya, sesaji padusan tak hanya berupa makanan, tetapi juga dalam bentuk atraksi kesenian kuda kepang (kuda lumping). Warga meyakini Mbah Gono sebagai leluhur sekaligus pendiri desa, sangat menggemari kesenian kuda kepang.

Dipimpin oleh kepala dusun, pada Selasa (10/08) pagi itu ratusan warga mengarak sesaji menuju sendang yang berjarak sekitar 1 km dari lapangan desa.  Para tokoh desa mengenakan busana adat Jawa. Sesampai di sendang juru kunci memimpin doa, sebelum akhirnya memercikkan air pertama sendang ke kepala dan tubuh warga paling muda. Selepas percikan pertama sang juru kunci, warga pun bergiliran menyusul mandi. Rangkaian panjang ritual nyadran di lereng Gunung Merbabu dan Merapi, Boyolali, itu  pun berakhir di Sendang Kali Gono. Tahun depan mereka akan kembali melakukan ritual yang sama. Warga tidak melupakan tradisi lama warisan leluhur, meski agama Islam telah memberikan nafas baru bagi mereka. Di beberapa tempat, padusan memang masih menyimpan kesakralannya. Namun  di sejumlah tempat lain, terutama di daerah perkotaan, ritual padusan telah menjadi komoditi pariwisata. “Masyarakat lupa bahwa padusan itu bukan sekadar mandi dan keramas menjelang puasa.

 

Namun lebih kepada pembersihan raga dan jiwa sehingga benar-benar bersih, suci dan siap untuk berpuasa,” ujar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Winarso Kalinggo, seorang budayawan di Solo, Jawa Tengah.Tradisi padusan, lanjut Kalinggo, sudah kehilangan ruhnya. Apalagi belakangan ini ritual padusan mulai dijual demi kepentingan pariwisata. Bahkan banyak tempat-tempat padusan yang dilengkapi dengan panggung dangdut. “Nilai sakral mulai ditinggalkan, tetapi lebih mengejar pada jumlah pengunjung. Sekain banyak orang datang, maka semakin banyak pula tiket yang terjual,” ujar  Kalinggo yang juga Ketua Komite Museum Radya Pustaka Solo. Di kolam, pantai, atau wisata peariran lain,  warga berbaur seperti tak bersekat. Mereka datang untuk sekadar mandi, berbasah-basah, sementara yang lain memanfaatkan untuk cuci mata. Ritual padusan yang merupakan simbol pembersihan diri untuk menyambut Ramadhan telah dipahami dengan cara keliru, sehingga tak ada bedanya dengan mandi biasa. Tradisi padusan yang sesungguhnya merupakan tahap akhir dari prosesi pembersihan diri sebelum puasa, justru telah bergeser  maknanya. (Ganug Nugroho Adi)



Kategori:GAYA HIDIUP

Tag:,

1 reply

  1. saluutt.. pemelestari budaya…..

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54.071 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: