Danarsih Santosa: Batik Bukan Sekedar Kain

SEBELUM menjadi saudagar batik dengan karyawan sekitar 10.000 orang, Danarsih Santosa pernah menjadi “buruh” batik di perusahaan orang tuanya sendiri. Saat masih duduk di bangku SD tahun 1950-an, setiap sepulang sekolah ia langsung bergabung dengan buruh batik pegawai orang tuanya untuk membatik. Danarsih menyiapkan sendiri malam (lilin batik) dan perlatan  membatik.

Danarsih Hadipriyono (kiri) dan Santosa Doellah

Danarsih Hadipriyono (kiri) dan Santosa Doellah

Pada saat yang lain, Danarsih kecil juga menawarkan kain-kain batik eceran dari rumah ke rumah. Tidak jarang dari 10 kain batik yang dibawanya, dia hanya satu atau dua kain yang laku. Itu pun membutuhkan waktu beberapa  hari. Namun Danarsih tidak patah semangat dan justru menjadikan kesibukannya itu semacam “hobi”. Menginjak bangku SMP, Danarsih mulai belajar mendesain batik, mengemas produk dan  belajar administrasi penjualan.

“Masa kanak-kanak hingga remaja habis di ruang pembuatan batik. Saya hampir tidak mempunya waktu bermain seperti anak-anak sebaya lain. Pokoknya urusannya batik, batik, dan batik,” kenang ibu empat anak itu.

Danasih lahir, tumbuh dan besar dalam keluarga batik di Solo, Jawa tengah. Orang tuanya adalah pengusaha batik meski hanya kecil-kecilan.  Rupanya buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Selepas dari SMA Negeri 1 Margoyudan, Solo, Danarsih melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Kimia  Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Di sela-sela waktu kuliah, perempuan yang lahir di Solo, 26 September 1946 itu kembali meneruskan “hobi” masa kecilnya, yaitu berjualan kain batik. Ketika itu, setiap Jumat atau Sabtu ia pulang ke Solo, kemudian Senin kembali ke Yogyakarta sambil membawa dagangan.
“Banyak teman kuliah yang meledek saya sebagai bakul (pedagang),  Saya cuek saja. Lama-lama mereka malah ikut membeli. Dosen-dosen juga banyak yang pesan.”
Namun peristiwa Gestapu tahun 1965 memaksa Danarsih pulang ke Solo dan berhenti kuliah. Orang tuanya tidak sampai hati melepas Danarsih hidup di kota lain dalam situasi politik yang tidak menentu. Danarsih masih sempat dua tahun kuliah di Fakultas Hukum Universitas Saraswati Solo, sebelum akhirnya bertemu dengan Santosa Doellah dan memutuskan untuk menikah.

Pernikahannya dengan Santosa Doellah itulah awal dari  keseriusannya menekuni bisnis batik.
Tahun 1968, ia dan  suaminya mulai merintis usaha batik yang kemudian dinamakan batik Danar Hadi. Produk rintisannya adalah pembuatan batik tulis Wonogiren yang merupakan kreasi atas motif klasik dari kraton (Pura Mangkunagaran).
Tidak selamanya roda usaha batik Danar Hadi  berjalan mulus. Saat-saat terberat yang pernah dialami Danarsih adalah ketika batik China lewat teknologi printing merambah pasaran Indonesia, khususnya Solo, awal tahun 1980-an.
Batik printing yang diproduksi secara massal, murah, dan proses pembuatan yang  tidak memakan banyak waktu rupanya sempat menyilaukan konsumen batik di Indonesia. Tak hanya Danar Hadi, para pengusaha batik di Solo (Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan) goncang. Beberapa pengusaha bahkan memilih menutup usahanya karena tidak mampu mengimbangi produk massal itu.
“Saya sempat memulangakan beberapa karyawan, karena pasaran batik lokal seperti terbunuh. Tapi kami berpikir bagaimana menemukan trik mendobrak pasaran,” tutur perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang ke 64 tahun itu.
Beruntung, lanjut Danarsih, pemerintah langsung tanggap.  Tidak lama setelah masa kepanikan itu, pemerintah mengeluarkan larangan masuknya  batik dari Cina. Namun datangnya kebijakan tersebut rupanya sedikit   terlambat, karena sejak itu pasaran batik sulit terangkat kembali.
“ Periode tahun 1980 sampai tahun 2000 adalah masa-masa sulit untuk  batik, terutama untuk usaha kelas menengah (UKM),” ujar perempuan yang bersama suaminya  mempunyai koleksi 10.000 ribu kain batik kuno berusia ratusan tahun itu.
Tahun 1975, Danarsih mengembangkan usaha dengan membuka gerai  di Jakarta bekerja sama dengan Fashion Consultant, antara lain Harry Darsono dan Prayudi. Selanjutnya gerai-gerai ia buka di Bandung, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Dengan tangan dinginnya, Danarsih berhasil mengembangkan usaha ke arah hulu pada tahun 1981 dengan mendirikan usaha pertenunan dan finishing continous. Perluasan ke arah hulu kemudian dilengkapi dengan usaha industri pemintalan benang PT Kusuma Putra Santosa tahun 1988. Sedangkan perluasan, usaha ke arah hilir dilakukan dengan membuka usaha garmen PT Kusuma Putri tahun 1989.
Kini setelah lebih dari 40 tahun berdiri, Danar Hadi yang dikelolanya menjadi salah satu perusahaan batik terbesar dengan 20 gerai yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
Kebahagiaan Danarsih semakin sempurna ketika United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) pada bulan Oktober tahun 2009 lalu mengukuhkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.
“Batik itu mimpi masa kecil saya. Tidak boleh hanya dilestarikan, tetapi harus dikembangkan. Batik adalah salah satu identitas budaya bangsa ini,” kata dia.
Lantas bagaimana dengan serbuan batik China sebagai konsekuensi dari  Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China mulai tahun 2010 ini?
“Yang dibawa China ke sini itu bukan batik, tapi tektil. Jadi kita tidak perlu khawatir. Masyarakat kita sudah pintar, tahu membedakan mana yang batik dan mana yang sablonan,” ujarnya.
Danarsih menambahkan  di Indonesia, terutama di Jawa, proses batik dengan pengerjaan manual (batik tulis)  maupun cap memang berkembang berikut penciptaan motif-motifnya. Namun, seperti juga Danarsih yang tidak menampik kalau proses tersebut juga  ditemukan pula di berbagai negara lain, sehingga  batik sesungguhnya telah menjadi milik publik.
“Jadi ya biarkan saja kalau Malaysia, China, atau yang lainnya  mengklaim. Tapi, akar budaya batik tetap Indonesia.”
Kini, di tengah masa kejayaan usahanya, Danarsih justru merasa waktunya menggeluti dunia bisnis sudah selesai. Ia sekarang justru lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Kalau pun berurusan dengan batik, ia lebih  fokus pada penciptaan desain dan motif.
“Membuat motif dan desain itu seperti air mengalir. Bergerak terus dari hulu. Untuk bisnis biarlah diurus yang lebih muda. Kapan pun waktunya, regenerasi pasti terjadi,” katanya enteng.
Saat ini, Danarsih dan suaminya memang banyak dibantu oleh anak-anaknya. Diana Santosa, putrid kedua, kini menjadi direktur pelaksana PT Danar Hadi. Sementara anaknya yang lain, Dewanto Santosa, mengurusi masalah keuangan.
Di kegiatan sosial, Danarsih bergabung dengan organisasi Woman International Club (WIC) Solo dan Rotary Club. Ia juga terlibat di pengajian gabungan muslimah dan Yayasan Amal Sahabat Surakarta. Danarsih pun dipercaya sebagai Ketua Himpunan Ratna Busana (HRB) Surakarta. Organisasi yang terakhir ini merupakan wadah kepedulian ibu-ibu di Solo dalam mengenakan busana tradisional.
“Kita para orang tua orientasinya harus berubah kearah sosial. Banyak orang di sekitar kita yang butuh bantuan. Saya ingin membantu mereka. Hidup kita akan bermanfaat kalau kita bisa memberi manfaat bagi orang lain,” katanya di Sogo Resto n’ Lounge miliknya di Jalan Slamet Riyadi, Solo.
Di sela-sela waktu sengganya, Danarsih dan suaminya lebih banyak mengurus “Museum Batik Danar Hadi” yang menyimpan sekitar 10.00 kain batik kuno. Kain-kain batik kuno dan langka milik pribadi itu dikumpulkan dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun. Sebanyak 1.500 kain di antaranya diperoleh dari koleksi pribadi seorang kurator Museum Troupen, Belanda. Batik-batik itu berangka tahun pembuatan antara 1840-1910.
Koleksi-koleksi lain sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan Yogyakarta, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, serta Pura Pakualaman. Antara lain  kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman.
“Museum  ini kami dirikan karena batik itu bukan sekadar selembar kain. Di setiap lembar kain batik tersimpan budaya dengan nilai-nilai sejarah, tradisi dan  filosofi. Itulah mengapa batik harus dilestarikan, ” kata perempuan berpenampilan lembut dan anggun itu.(Ganug Nugroho Adi)



Kategori:Sosok, Kisah & Kiprah

Tag:

1 reply

  1. Ajining rogo soko busono………………itulah arti dari batik seni berbusana

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54.055 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: