Arak Temanten Tebu Jelang Musim Giling

Menjelang musim giling tebu, dapat dipastikan hampir semua pabrik gula menggelar serangkaian ritual sakral untuk keselamatan, yang disebut cembengan. Sebutan itu sebenarnya merujuk pada keramaian pasar malam yang selalu digelar  setiap  awal bulan  April, bulan di mana masa panen raya tebu datang. Pasar malam yang digelar masyarakat tersebut biasanya bertempat di sekitar lokasi pabrik gula.

Di Karanganyar, sekitar 15 kilometer arah timur Kota Solo, Jawa Tengah, pasar malam cembengan menempati sekitar Pabrik Gula (PG) Tasik Madu.  Puluhan lapak berderet-deret, menjajakan berbagai makanan khas pasar malam tradisional, seperti arum manis, es dawet, brondong jagung dan jajan pasar. Ada juga  beberapa hiburan anak-anak semacam komidi putar, dan tong setan. Hiburan “jadul” itu memang seperti mengingatkan kembali kenangan masa lalu.

Pasar malam tersebut memang sangat kental dengan warna tradisional. Namun justru itulah kekuatannya. Setiap malam, pasar malam yang berlangsung selama dua pekan itu dipadati pengunjung. Mereka datang dengan gembira bersama keluarga; anak dan istri. Bagi masyarakat di sekitar pabrik gula, musim panen memang identik dengan musim kebahagiaan, dan pasar malam cembengan adalah gambaran perayaan kebahagiaan itu.  Ya, masa seperti sekarang ini adalah masa gembira bagi masyarakat di sekitar pabrik gula;  para  petani tebu, buruh tebang, buruh angkut, dan karyawan pabrik. Sebab sebentar lagi roda ekonomi akan bergerak, lapangan kerja akan terbuka, pendapatan akan mengalir. Impian setelah selama satu tahun (periode tanam tebu) akan segera bisa dinikmati. Maka sungguh wajar jika wajah-wajah mereka terlihat sumringah (gembira).

Pesta arak tebu

Konon, kegembiraan panen yang kemudian dilanjutkan dengan menggiling tebu itulah yang melahirkan ritual cembengan, atau kirab pengantin tebu yang digelar pihak pabrik gula.  Di PG Tasik Madu, ritual cemengan itu sendiri dilakukan selama dua hari. Pada hari pertama, Kamis (29/4) pagi, ritual dimulai dengan penebangan dua batang tebu temanten (pengantin). Batang tebu tersebut akan dijadikan sebagai tebu pertama saat dilakukan giling tebu pada keesokan harinya atau Jumat  (30/4).  Namun sebelum giling tebu, pihak pabrik gula terlebih dulu menggelar prosesi kirabn sesaji, yaitu mengarak atau mengkirab aneka sesaji keliling kampung, sebelum akhirnya meletakkannya di ruang mesin produksi di dalam pabrik.

Sebelum dikirab, bermacam sesaji diletakkan di dalam jolen atau joli  (semacam tandu kecil) yang dihias dengan kertas warna-warni. Selain tujuh kepala kerbau, sesaji tersebut antara lain berupa jenang merah dan putih, telur asin, kinangan (perlengkapan menginang), nasi tumpeng, dan hasil bumi. Bermacam sesaji selanjutnya diarak bersama gagar mayang dari dua batang  tebu.

Arak-arakan sesaji dimulai dari halaman Balai Desa Suruh menuju pabrik gula yang berjarak sekitar 5 kilometer. Ritual ini digelar untuk memohon keselamatan selama proses penggilingan tebu yang dimulai pada keesokan harinya. Setelah dilakukan pembacaan doa, aneka sesaji, terutama tujuh kepala kerbau, diletakkan di bagian bawah mesin produksi. Kepala kerbau ini diyakini sebagai penolak bala atau bencana. Ritual untuk memohon  keselamatan selama masa giling tebu dipimpin Administratur PG Tasik Madu Sri Harjanto. Ritual cembengan tersebut konon juga berkaitan dengan hasil produksi gula.

“Entah kebetulan atau tidak, dulu pabrik gula ini pernah tidak melakukan cembengan, lalu hasil produksi gula menurun. Tapia pa pun, ritual  ini adalah cara kami memohon keselamatan, sehingga tidak terjadi sesuatu yang buruk selama musim giling. Kami juga memohon kepada Tuhan agar hasil giling tebu nantinya bisa bermanfaat bagi petani, pabrik, karyawan, dan masyarakat sekitar,” kata Sri Harjanto.

Sri Harjanto menambahkan syukuran atau selamatan ini dilakukan seperti syukuran yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu menggunakan nasi tumpeng dan perlengkapan lainnya. Syukuran ini bertujuan agar prosesi giling tebu  berjalan lancer, mulai awal tebang, angkut, penggilingan hingga dengan akhir penggilingan nanti.

“Yang mengikuti syukuran atau selamatan ini adalah para pekerja  kebun tebu, dan karyawan pabrik. Malam sebelum proses giling pertama, kami menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk,” terang dia.

Tebu Temanten

Puncak ritual cembengan berlangsung pada keesokan harinya, Jumat (30/4) pagi, yaitu prosesi kirab tebu temanten. Tentu saja, tebu yang menjadi pengantin merupakan tebu pilihan, sehingga diperlakukan secara khusus dan khas. Selain batang tebunya dipilih yang paling baik dan memiliki rendemen tinggi, sepasang tebu temanten pun didandani layaknya sepasang mempelai, tak ubahnya pasangan pengantin manusia.

Tahun ini, pasangan temanten yang “dinikahkan” adalah pasangan Bagus Wijaya dan Raden Roro Sri Rejeki dari varietas tebu PS 864, yang diambil dari Kebun Sroyo di Kebakkramat dan Kebun Wonolopo, Tasikmadu. Keduanya mengenakan topeng Dewi Sri dan Dewa Sadana. Lambang kemakmuran masyarakat agraris.

“Sepasang tebu temanten ini sebagai simbol adanya tebu lanang (laki-laki) atau tebu yang berasal dari daerah lain, serta tebu wadon (wanita) yang  ditanam sendiri oleh pabrik gula Tasik Madu PG sendiri,” ungkap Sri Harjanto, sebelum memimpin prosesi.

Soal pemeilihan nama tebu temanten itu, kata Sri harjanto, mengandung harapan agar kelak gula yang dihasilkan nantinya berlimpah dan kualitasnya bersih, sekaligus  membawa berkah bagi karyawan dan warga sekitar pabrik.

Hingga akhirnya, dari rumah dinas kepala tanaman pasangan tebu temanten dikirab bersama 14 pasang tebu pengiring keliling desa, menuju besaran atau rumah dinas administratur pabrik gula. Dari sepanjang pinggir jalan, warga mengelu-elukan kirab pengantin. Atraksi reog menyambut kedatangan tebu temanten dan pengiringnya di halaman pabrik gula. Begitu arak-arakan pengantin memasuki  ruang giling,  sepasang temanten tebu kemudian diletakkan di atas mesin giling, disusul kemudian 14 pasang tebu pengirinyanya. Glek! Mesin penggiling pun bergerak, mulai menggilas dan melumat batang-batang tebu. Bergeraknya mesin giling itu  pun menandai dimulainya proses giling tebu hingga 100 hari mendatang, sekaligus  mengakhiri ritual cembengan di PG tasik Madu, Karanganyar.

Begitulah. Tebu telah menjadi tumpuan harapan para petani,   karyawan pabrik gula, dan orang-orang di sekitar pabrik. Air manis dari tebu yang digiling, yang  nantinya akan  menjadi gula, sungguh sangat berarti kehidupan mereka. Maka, musim giling tebu barangkali menjadi musim yang paling ditunggu.(Ganug Nugroho Adi)



Kategori:Wisata Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 53.655 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: