Nasi liwet, tengkleng, hingga pecel ndeso membangkitkan kenangan…

BAGI penggemar kuliner, Solo adalah magnet. Kota ini, pelan tapi pasti, telah menjadi salah satu surga bagi para pemanja perut. Eloknya, kota ini mampu menjaga dan bahkan menambah daya tarik dengan memunculkan kembali kuliner khas; ate kere, nasi liwet, timlo, pecel ndeso, srabi, dan tentu saja yang tak bisa ditinggalkan adalah Hidangan Istimewa Kampung, yang biaa kita sebut HIK. Di solo, kuliner terakhir ini tampaknya telah menjadi ikon.

Hebatnya lagi, meski tempat-tempat yang menyediakan kuliner khas Solo selalu bertambah, tetap saja ramai diserbu pengunjung. Para pengusaha kuniner pun tak selalu harus menyediakan tempat yang megah dan wah. Lihatlah, sebagian besar tempat kuliner justru berada di Kaki lima atau berupa kios Sederhana.

Beberapa tempat makan khas Solo yang terkenal pun semakin menjadi sasaran wisatawan, lokal maupun asing. Sebut saja Nasi Liwet Wongso Lemu, Serabi Notosuman, Bestik Harjo, Timlo Solo atau Timlo Sastro, Bakso Kadipolo, Sate Tambak Segaran, Sate Kere Yu Rebi, dan Soto Gading, misalnya.

SATE KERE2

Sate kere

Toh meski beberapa tempat kuliner ini sudah terkenal, tetapi bukan berarti tempat lain tak diperhitungkan. Tempat-tempat makanan khas Solo ini memang sudah puluhan tahun dikenal orang. Bahkan ada yang berjualan sampai beberapa generasi. Uniknya, meskipun makanan tersebut terkenal di Kota Solo, namun tidak berarti tempatnya mewah. Jangan heran kalau tempat-tempat makan tersebut adanya di pinggir jalan seperti umumnya pedagang kaki lima (PKL) atau berupa kios, seperti Bestik Harjo dan Nasi Liwet Wongso Lemu.

Bestik Harjo, misalnya. Meski sudah hampir lima puluh tahun lebih ada di Kota Solo, namun tetap memilih tempat di pinggiran Jalan Radjiman. Tempatnya pun hanya tenda darurat berisi empat meja dan bangku panjang. Biasanya dibuka mulai pukul 18.00 hingga pukul 01.00 dini hari. Di tempat ini, kita bisa menikmati aneka bestik, mulai dari bestik lidah, hati, dan rempelo ayam, hingga daging sapi. Meski hanya berupa tenda darurat dan lokasinya di pinggir jalan, namun pelanggannya mulai pejalan kaki sampai naik mobil mewah. Sejumlah artis dan tokoh pun sering mampir di warung Bestik Harjo.

Lain lagi dengan nasi liwet. Makanan ini dijajakan orang Solo mulai dari pagi hari hingga malam hari. Ada yang dijajakan dengan berkeliling menggunakan sepeda, ada yang dijual di tenda darurat di tepi jalan.Nasi liwet juga banyak dijumpai di daerah Nonongan dan Solo Baru. Seperti halnya nasi gudeg di Yogyakarta, nasi liwet juga menjadi makanan khas Solo.

Nasi liwet adalah beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam sehingga membuat nasi terasa gurih dan lezat. Nasi tersebut dicampur dengan sayuran jipang yang dimasak pedas, telur rebus, daging ayam yang disuwir, kumut (kuah santan yang dikentalkan). Sering juga ditambah dengan usus ayam, hati/ampela yang direbus. Penyajiannya pun tidak menggunakan piring, tetapi daun pisang yang dipincuk.

Di Solo, tempat makanan nasi liwet yang terkenal adalah nasi liwet Wongso Lemu di daerah Keprabon, Jalan Teuku Umar. Tempat ini ramai dikunjungi, apalagi pada saat hari libur atau hari raya. Kelezatan makanan yang berbuah kesuksesan pada masing-masing penjual makanan tersebut menyebabkan nama makanan tersebut menjadi merek generik. Serabi Notosuman, misalnya.

Walaupun tak punya hubungan langsung dengan keluarga pengusaha serabi Notosuman, namun banyak pedagang serabi sering menambahkan kata Notosuman di kios atau gerobak tempat berjualan serabi. Tetapi jangan salah, meskipun tidak sekhas serabi Notosuman yang manis dan gurih, namun serabi yang dijual di beberapa tempat di Kota Solo juga tak kalah enaknya.

SRABI-NOTOSUMAN

Demikian terkenalnya makanan serabi ini, sehingga tak heran kalau serabi yang awalnya hanya berstatus jajan pasar, kini sering dihidangkan di hotel atau restoran, dan acara-acara tertentu. Tentu saja dengan kemasan yang lebih menarik dan harganya lebih mahal. Biasanya serabi dijual mulai dari Rp 500 hingga Rp 1.000 per buah. Umumnya serabi yang dijual terbuat dari adonan tepung beras, santan, gula pasir, dan berbentuk bulat seperti apem dengan kerak di sekelilingnya ini digulung lalu dibungkus dengan daun pisang dan diberi tali.

Mau makan tengkleng di Solo, datanglah ke Pasar Klewer. Di sana ada Ibu Ediyem yang berjualan di lapaknya yang sederhana di samping gapura Pasar Klewer.

tengkleng

Tengkleng

Biasanya pembeli duduk di atas bangku kayu berdesak-desakan lalu makan dengan lahap menikmati nasi tengkleng yang disajikan Ediyem. Karena rasanya yang khas, masakan tengklengnya Ibu Ediyem sering dipesan pejabat yang mengadakan acara kantor maupun keluarga. Tengkleng adalah masakan serupa gulai berisi tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel. Sebagai lauk pelengkap, diberi sate daging, sate usus, sate jeroan, dan bagian organ kambing lainnya yang ikut digulai bersama tulang-tulang, seperti mata, pipi, kuping, dan kandungan (klepon).

Pecel Ndeso dan Cabuk Rambak

Pecel ndesa

Pecel ndesa

Makanan khas Solo yang ini tampaknya harus disebut, yaitu cabuk rambak dan pecel ndeso. Inilah makanan khas Solo tempo dulu. Cabuk rambak ini menyimpan keunikan tersendiri. Puluhan tahun lalu, makanan ini lebih banyak dijajakan keliling, tapi sekarang banyak penjual cabuk rambak lebih suka mangkal. Salah satu yang terkenal adalah cabuk rambak Yu Temu di Jalan Menteri Supeno, sebelah utara kompleks Stadion Manahan.

Menu ini terdiri dari irisan ketupat yang di atasnya disiram bumbu wijen. Sajian cabuk rambak dilengkapi dengan kerupuk karak. Kerupuk yang rasanya khas ini dibuat dari tumbukan nasi yang diberi bumbu khusus yang disebut bleng, diiris tipis-tipis lalu dijemur. Setelah irisan nasi tadi benar-benar kering lalu digoreng hingga berwarna kecoklatan.

Rasa cabuk rambak Yu Temu khas karena pembuatan dan bumbunya. Untuk membuat bumbu, ia menggoreng sangrai potongan daging kelapa baru kemudian diparut. Begitu pula dengan wijen yang juga digoreng sangrai. Parutan kelapa dan wijen sangrai ini kemudian dicampur dengan beberapa macam bumbu dapur lalu ditumbuk atau digiling, sesuai tekstur yang diinginkan. Bila digiling, tekstur bumbu yang diperoleh lebih halus.

Campuran parutan kelapa dan wijen sangrai menimbulkan rasa legit dan aroma harum.
Untuk bumbu dapurnya, Yu Temu menggunakan bawang putih, garam, gula pasir, gula merah, cabai, dan kemiri goreng. Agar lebih segar, ia menambahkan daun purut ke dalam campuran bumbu. Resep ini ia peroleh turun-temurun dari nenek dan ibunya yang juga berjualan cabuk rambak.

Satu porsi cabuk rambak yang disajikan dengan pincuk daun pisang dihargai Rp 2.000 dan enak dinikmati untuk sarapan. Lapak cabuk rambak Yu Temu yang juga menjual nasi liwet buka setiap hari mulai pukul 06.00-11.00. Hari libur besar pun ia tetap buka, termasuk saat Lebaran karena pada saat itulah pembeli sedang ramai-ramainya.

Menu pasangan cabuk rambak ini adalah Pecel Ndeso, karena dua menu ini biasanya memang dijual dalam satu bakul. Manu ini berupa nasi beras merah, jenis beras yang kini makin langka. Sedangkan sayuran pecelnya berisikan sayuran tempo dulu, seperti jantung pisang, daun kenikir, lembayung atau daun kacang panjang, petai cina, kembang turi dan kacang panjang. Sambalnya ada dua pilihan, sambal kacang seperti pecel pada umumnya atau sambal wijen yang memiliki dua pilihan, wijen putih atau hitam. Dua menu ini biasanya menjadi obat kangen bagi orang solo yang merantau. Saat pulang, mereka akan kembali mencicipi cabuk rambak dan pecel ndeso ini.

“Bagi saya, pecel ndeso dan cabuk rambak ini bukan lagi sekadar menu. Kedua makanan itu sesungguhnya adalah potret dari kota Solo tempo dulu,” kata seorang pelanggan. (Ganug Nugroho Adi)



Kategori:Kuliner

Tag:, , , , , ,

1 reply

  1. info kuliner memang selalu menarik untuk di lihat dan dicoba, karena memang sudah menjadi salah satu tujuan wisata selain wisata yang sudah ada.Alangkah bagus jika media ini lebih detail dalam penyajian termasuk pricing, peta lokasi dan saat nyaman menikmati kuliner tersebut.

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54.125 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: