Prahara intrik-intrik Peralihan Kesuasaan di kraton Surakarta

Prahara memang tak lepas dari Kerajaan Mataram berikut generasi penerusnya, terutama intrik-intrik saat terjadi alih kekuasaan. Di alam republik seperti ini pun, sejarah itu kembali ditorehkan oleh putera-puteri mendiang Paku Buwono XII.

Dua raja dari satu bapak tapi beda ibu, sama-sama men-gukuhkan diri menjadi raja Paku Buwono XIII dengan pema-haman versi sendiri-sendiri. Keduanya pun merasa memiliki legalitas dan legitimasi yang sama pula.

Dalam era rasionalitas seperti zaman sekarang, suksesi ternyata masih juga menjadi persoalan bagi sebuah monarki peninggalan masa silam. Satu sisi ia harus bertahan meng-hadapi modernitas, sementara di sisi lain ia harus dihadap-kan pada tantangan untuk tetap mempertahankan keber-adaan istana berikut komponen di dalamnya.

Semuanya berpulang kepada waktu, siapa sesungguh-nya yang bertahta di Keraton Kasunanan Surakarta kelak; apakah Hangabehi ataukah Tedjowulan. Pun demikian masyarakat, dengan argumentasi yang berbeda-beda berhak menentukan sendiri penilaiannya, siapakah raja sebenarnya dari keduanya.

Sejarah akan terus berjalan dan masyarakat pun tetap mencatat peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Dinasti Mataram memang tercatat pernah beberapa kali memiliki raja kembar dengan penobatan di luar tembok Keraton, namun semuanya berakhir dengan satu raja. Keraton, de-

ngan segala sumber daya yang ada di dalamnya, termasuk Keraton Surakarta Hadiningrat, pada masa kejayaannya telah memberikan andil besar memberikan kumpulan nilai-nilai seni dan budaya terbaik bahkan karakter bangsa. Yang dimaksud budaya bukanlah sekadar produk seni yang kasat mata, melainkan suatu totalitas dari budi dan daya manusia, seluruh karya dan aktivitas manusia dalam menanggulangi tantangan hidupnya, termasuk dalam mengatur dan menen-tukan corak kehidupannya.

Seperti dikutip dari rumusan hasil seminar nasional bertema Kelangsungan Keraton Kasunanan Surakarta Pascamangkatnya Sunan Paku Buwono XII yang digelar di Pedan Ballroom, Hotel Sahid Raya Solo, Selasa 20 Juli 2004, bahwa sejumlah keraton di Nusantara, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan keraton tertua yang masih utuh tata cara kehidupan budaya keratonnya, serta mempunyai pengaruh di sebagian besar masyarakat.

Karenanya, reposisi Keraton dalam rangka pelestarian, pengemban, dan pengembang kebudayaan harus ditempuh melalui restorasi proaktif menuju proses reaktualisasi dan refungsionalisasi, sehingga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mampu menjelma menjadi pusat kebudayaan yang dinamis sebagai simbol keraton, yaitu tempat kedudukan budaya ratu dinilai masih tetap penting. Makna budaya ratu adalah ratu harus memayu hayuning bawana, yang berarti negarawan harus mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi rakyatnya.

Pelestarian budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak hanya menyangkut fisik material (artefact), tetapi juga termasuk di dalamnya adalah isi kebudayaan ker-aton (sociofact dan mentifact). Dengan demikian budaya ker-

aton harus dipahami secara luas bukan hanya menyangkut seni tetapi juga hubungan sosial keraton dengan masyarakat dan cara berpikir (mindset).

Keraton perlu dikembangkan menjadi ajang dialog budaya dan budaya dialog, sehingga akan berkembang budaya kritik yang bermanfaat dalam pembangunan bangsa ke depan. Oleh karena itu keraton harus memperluas dalam menjalin kerja sama dengan pihak lain (stake holders) untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat luas terhadap keraton. Keraton sebagai entitas tidak harus mengalami satu kebekuan tetapi perlu menem-patkan diri dalam perspektif perkembangan zaman. Dalam visi ke depan posisi budaya keraton sangat strategis karena dapat dijadikan sebagai media kritik sosial bagi perkemban-gan masyarakat dan budaya Jawa.

Peran keraton dalam penyelamatan aset-aset budaya, akan dapat dilaksanakan secara efektif dan produktif apabila pertama-tama didukung oleh situasi internal yang kondusif. Ini berarti figur yang mewarisi tahta almarhum Susuhunan Paku Buwono XII haruslah sebuah figur yang didukung oleh segenap unsur dalam (internal) keraton, yang dikonsoli-dasikan untuk menciptakan suatu good and clean gover-nance yang integritas dan kredibilitasnya diakui, baik dalam tataran lokal, nasional, maupun internasional, yang memiliki wawasan budaya yang luas, jauh menjangkau ke masa depan, yang mewakili akses dan mampu berkomunikasi de-ngan berbagai tingkat dan lapisan masyarakat.

Pada sisi lain, Keraton sebagai situs dan benda cagar budaya telah diatur lebih lanjut dalam UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda cagar Budaya, sehingga dengan demikian segala perlakuan termasuk pengelolaan dan pemeliharaan-

nya harus mengacu pada UU tersebut. Berdasarkan komit-men konstitusional tersebut, maka budaya Jawa termasuk di dalamnya budaya keraton harus dilestarikan dengan meli-batkan seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah maupun masyarakat. Namun perlu kiranya dipahami bahwa kebudayaan yang hidup akan senantiasa terlibat dalam pros-es perubahan berkelanjutan yang digerakkan oleh dua daya yang berlawanan, yaitu oleh serentak bekerjanya daya preservatif di satu pihak dan daya progresif di lain pihak.

Berbagai warisan budaya Jawa termasuk yang tersim-pan di dalam lingkungan keraton, khususnya Keraton Kasunanan Surakarta yang menjadi sumber pembahasan saat seminar berlangsung, harus diinventarisasi dan dilestarikan. Dalam rangka ini seyogyanya dapat dibentuk semacam Forum Budaya Jawa atau Forum Peduli Keraton, yaitu sebuah forum yang dapat diandalkan sebagai badan yang bertanggung jawab atas pelestarian budaya Jawa.

Selanjutnya, Keraton sebagai pusat kedudukan budaya Ratu merupakan sumber ajaran moral dan pekerti luhur ter-masuk di dalamnya semangat aristokrasinya yang dalam konsep Jawa disebut ksatria. Semangat atau jiwa ksatria tersebut sekarang ini sangat relevan untuk diaktualisasikan kembali dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta sudah barang tentu di dalam lingkungan keraton itu sendiri. Ajaran moral dan pekerti luhur yang harus dimiliki seorang pemimpin masyarakat atau ksatria dan lebih khusus lagi seorang Ratu antara lain:

Sebagai ajaran Sultan Agung, curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga, yang berarti seorang raja atau pemimpin harus bisa merasakan nasib rakyatnya, dan seba-liknya rakyat harus bisa ikut menikmati kesenangan rajanya.

Itulah bentuk manjing ajur ajer dari seorang pemimpin yang mampu menyerap aspirasi masyarakat.

Berbudi bawa laksana ambeg adil paramarta, artinya seorang pemimpin atau raja harus memiliki budi pekerti luhur dan mulia serta mengutamakan rasa keadilan bagi sesamanya. Memiliki berbagai sifat utama sebagaimana diuraikan dalam Kitab Pustaka Raja Purwa, antara lain sang-gup menjadi tumbal perjuangan, siap mengembara untuk menghimpun potensi-potensi di luar istana, aktif dalam dunia sastra dan intelektual zamannya.

Pengganti Sinuhun Paku Buwono XII di samping memiliki prasyarat-prasyarat sebagaimana tersebut di atas, juga seba-gaimana yang dikehendaki almarhum adalah memiliki bekal cukup dalam ilmu (rasional) dan ngelmu (irasional). Unsur yang disebut terakhir ini penting untuk menjamin agar Keraton tidak semakin lepas dari akarnya. llmu pada dasarnya bisa diperoleh dari pendidikan formal. Semakin berilmu seorang calon pewaris tahta akan semakin luas pula wawasannya mengenai masa depan keraton. Sementara ngelmu yang lebih berdimensi spiritual hanya mungkin diperoleh lewat cara mesu, atau menempa diri sebagaimana dilakukan oleh raja sebelumnya. Aktualisasi bentuk mesu budi dalam masyarakat modern diwujudkan dalam asketisme intelektual sebagai sin-tesis dari tindakan oleh olah ilmu dan olah ngelmu.

Reaktualisasi konsep kepemimpinan yang bersumber dari kebudayaan keraton adalah: seorang pemimpin harus selalu berusaha memayu hayuning bawana secara bersama-sama dalam masyarakat yang majemuk, serta memberi harapan kepada masyarakat luas dalam bentuk melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan.

Sedang konsepsi kepemimpinan yang bersumber dari

budaya keraton terungkap dalam simbol Sri Radya Laksana yang intinya menunjukkan citra ideal seorang pemimpin yang mengandung ajaran hasta brata (delapan laku). Lebih khu-sus lagi, citra ideal seorang pemimpin harus mampu mewujud-kan bersatunya rakyat dan pemimpin (manunggaling kawula gusti) dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama.

Perlu dipikirkan terbentuknya lembaga pertimbangan atau penasehat di dalam mengelola keraton sebagai bagian dari konsepsi kepemimpinan menurut tradisi keraton yang pernah ada, misalnya pada zaman Paku Buwono X pernah dibentuk Dewan Bale Agung sebagai dewan penasihat raja.

Kenyataan bahwa keraton memiliki aturan-aturan dan sis-tem birokrasi yang khas, sebagaimana dipraktekkan oleh Paku Buwono XII dan para pendahulunya, seperti jabatan Pangageng Parentah Karaton, Pangageng Kasentanan, dan Pangageng Kaputren, maka setiap jabatan tersebut pasti mem-punyai wewenang, tugas, dan kewajiban, karena jabatan terse-but pada intinya adalah untuk membantu Sunan.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari alih kekuasaan di Keraton Kasunanan sepeninggal Paku Buwono XII ini, yang bisa dijadikan bahan kajian bagi para pemerhati tradisi dan budaya. Sekali lagi, Keraton Kasunanan telah meneruskan konsep pewarisan kekuasaan yang tidak konsisten bagi ge-nerasi berikutnya. Putera puteri Paku Buwono XII tidak dapat menerjemahkan secara baik kepada masyarakat dengan tidak diangkatnya isteri permaisuri oleh ayahandanya. Mereka lebih memilih mengangkat dua raja sesuai pertimbangan mereka.. Maka tak salah bila penutup buku ini pun akan berakhir pada perkataan yang sama pada pembuka sebelumnya: Nut jaman kelakone. Waktulah yang akan menentukan akhir dari sepengggal perjalanan Keraton Kasunanan Surakarta ini.



Kategori:Solo Riwayatmu Dulu

Tag:,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 53.186 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: